Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kesehatan akibat kondisi kabut asap dan dampak abu vulkanik.
Kepala Dinkes Kepahiang Tajri Fauzan mengatakan, meskipun Kabupaten Kepahiang tidak terdampak langsung abu vulkanik, kondisi udara yang tercemar dapat meningkatkan risiko penyebaran infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Menurutnya, berdasarkan pemantauan terhadap pasien di sejumlah klinik dan puskesmas, terdapat indikasi peningkatan keluhan yang mengarah pada ISPA.
"Jadi situasi dan keadaan sekarang kabut asap serta dampak abu vulkanik. Walaupun kita tidak terkena, tapi dampaknya di cepatnya penularan ISPA," ucap Tajri pada Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, peningkatan kasus tersebut belum tercatat secara resmi sebagai data ISPA di Kabupaten Kepahiang.
Namun, berdasarkan prakiraan dan keluhan pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan, Dinkes memperkirakan terjadi peningkatan kasus ISPA sekitar 50 persen.
"Penyakit ini tidak tercatat secara resmi, tapi prakiraan kami ada peningkatan penyakit ISPA sekitar 50 persen dilihat dari pasien klinik dan puskesmas yang mayoritas dengan keluhan batuk, flu dan panas tinggi," jelas Tajri.
Tajri mengatakan, kondisi kualitas udara saat ini juga perlu diwaspadai oleh masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
"Sehingga yang ditakutkan penderita ISPA, asma, PPOK itu akan meningkat dan mereka yang komorbid akan berbahaya," terang Tajri.
Untuk mencegah gangguan pernapasan, Dinkes Kepahiang mengimbau masyarakat mengurangi paparan langsung terhadap udara yang berdebu atau berasap.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker sebagai salah satu langkah perlindungan diri.
"Jadi disarankan untuk masyarakat jika keluar rumah menggunakan masker," pungkas Tajri.