Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Muhammad Ali Fauzi datang dari Manokwari, Papua, ke Ciamis bukan sekadar untuk menghadiri peringatan Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia di Situs Budaya Karangkamulyan, Rabu (9/9/2026).
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Ciamis pada 2014, Ali justru menemukan ketertarikan lain. Ia jatuh hati pada sejarah, bahasa, dan budaya Sunda.
Ketertarikan itu terus berkembang selama lebih dari satu dekade. Ali tak hanya mempelajari bahasa Sunda, tetapi juga menelusuri sejarah Pasundan dan mengenal berbagai kisah tentang karuhun atau leluhur masyarakat Sunda.
Ali kembali hadir dalam peringatan Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia yang digelar di pelataran Gong Perdamaian Dunia, Situs Budaya Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.
Di sela kegiatan, pria asal Manokwari itu menceritakan awal mula ketertarikannya terhadap budaya Sunda.
Baca juga: Bupati Ciamis Targetkan Milangkala Gong Perdamaian Dunia Dorong Ekonomi Warga
Menurut Ali, sejarah Sunda memiliki daya tarik tersendiri karena jejak asal-usul dan hubungan antargenerasi yang menurutnya masih dapat ditelusuri.
"Bagus, bahasa Sunda, sejarah Sunda itu bagus," kata Ali seusai kegiatan.
Ia mengaku tertarik dengan bagaimana sejarah Sunda mencatat keberadaan karuhun dari generasi ke generasi.
"Kalau Sunda kan sudah tahu, asal-usulnya sudah tahu, dari sini, dari sini, dari sini. Karuhun ini, karuhun ini, karuhun ini," ujarnya.
Hal tersebut kemudian membuat Ali semakin penasaran untuk mempelajari budaya Sunda.
Ia membandingkannya dengan pemahamannya mengenai asal-usul masyarakat di daerahnya.
"Kalau di daerah saya kan terpilah-pilah, kita tidak tahu dari mana asalnya, dari mana," tuturnya.
Rasa penasaran Ali terhadap budaya Sunda tidak berhenti pada sejarah.
Ia kemudian mulai mempelajari bahasa Sunda. Bahkan, Ali sempat belajar bahasa Sunda di Cirebon.
Dari sana, ia mengenal sejumlah kosakata dan ungkapan Sunda yang kemudian mulai digunakannya dalam percakapan sehari-hari.
Saat diminta berbicara menggunakan bahasa Sunda, Ali langsung menjawab dengan ungkapan yang sudah cukup dikenalnya.
"Kumaha damang? kumaha damang?" ucapnya.
Kecintaannya terhadap budaya Sunda juga diwujudkan melalui karya dan kegiatan sosial.
Ali menyebut dirinya membangun Yayasan Sunda Papua. Ia juga menciptakan sejumlah lagu berbahasa Sunda.
"Saya mulai belajar sejarah di tanah Pasundan itu, terus saya bangun yayasan, punya yayasan Sunda Papua," katanya.
Bagi Ali, budaya Sunda bukan sekadar sesuatu yang ia kenal ketika berkunjung ke Jawa Barat.
Budaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengenal sejarah, bahasa, dan kehidupan masyarakat di tanah Pasundan.
Hubungan Ali dengan Ciamis telah berlangsung sejak 2014.
Selama itu, ia beberapa kali mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan di Tatar Galuh.
Namun, kedatangannya ke Ciamis juga membawa pesan yang lebih besar, yakni perdamaian.
Sebagai warga Papua, Ali berharap nilai-nilai perdamaian yang ia rasakan di tanah Pasundan dapat pula tumbuh di tanah kelahirannya.
"Saya berharap supaya daerah saya di tanah Papua itu bisa damai seperti tanah Pasundan," ujarnya.
Bagi Ali, perjalanan dari Papua ke Ciamis akhirnya memiliki makna lebih dari sekadar menghadiri sebuah kegiatan.
Ia menemukan ruang untuk belajar tentang sejarah dan budaya Sunda sekaligus membawa pulang pesan perdamaian.
Dari perjalanan itu pula, lahir Yayasan Sunda Papua dan sejumlah karya lagu Sunda yang menjadi bentuk ketertarikannya terhadap budaya Pasundan.
Kini, lebih dari satu dekade setelah pertama kali datang ke Ciamis, Ali masih terus belajar dan menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan sederhana.(*)