Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan, pemerintah provinsi menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas tertinggi di atas persoalan dampak ekonomi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Baca juga: GAK Terus Erupsi, Harga Ikan Melonjak, Pemerintah Perlu Siapkan Mitigasi Ekonomi
Pernyataan tersebut disampaikan Mirza seusai memimpin rapat koordinasi perkembangan kebencanaan di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung pada Rabu (9/9/2026) sore.
Dalam penjelasannya, kelompok masyarakat pesisir khususnya nelayan menjadi pihak yang paling terdampak langsung akibat larangan mendekati zona bahaya radius dua kilometer dari kawah gunung.
Pengetatan pengawasan perairan yang melibatkan pengerahan patroli intensif dari personel TNI Angkatan Laut berhasil memastikan tidak ada lagi nelayan yang beraktivitas di area rawan tersebut.
Pemprov Lampung memastikan seluruh kebijakan pembatasan aktivitas, termasuk penyesuaian kegiatan pembelajaran, diberlakukan murni guna melindungi keselamatan warga dari risiko erupsi susulan.
Penegasan tersebut disampaikan Mirza saat merespons pertanyaan mengenai pukulan ekonomi yang dialami masyarakat pesisir dalam sepekan terakhir.
"Intinya begini, untuk hari ini, pertama kali selama hampir seminggu, visual terdekat itu jaraknya hampir dua kilometer," kata Mirza saat ditemui di Kantor BPBD Lampung, Rabu (9/9/2026) sore.
Ia mengakui bahwa imbauan untuk tidak melaut secara langsung menekan pendapatan harian para nelayan di kawasan Selat Sunda.
"Memang dampak ekonomi dengan adanya erupsi Anak Krakatau ini berpengaruh di Provinsi Lampung, terutama untuk para nelayan. Mereka sudah beberapa hari ini dihimbau tidak melaut dan dilarang mendekati area GAK," ujarnya.
Meski demikian, Mirza menekankan bahwa persoalan ekonomi maupun penyesuaian Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi anak sekolah berada di urutan sekunder saat kondisi tanggap darurat.
"Ini semua nomor dua-lah. Nomor satu itu bagaimana keselamatan warga Lampung ini bisa terjaga, maka pemerintah terus melakukan upaya maksimal," tegasnya.
Terkait tingkat kepatuhan warga, Mirza mengungkapkan bahwa pada hari-hari awal imbauan diterbitkan, petugas patroli masih menemukan beberapa perahu nelayan yang nekat mendekati zona bahaya.
Namun, berkat ketegatan personel TNI Angkatan Laut yang menyisir perairan secara rutin, area rawan kini sepenuhnya steril dari aktivitas warga.
"Hari ini sudah tidak ada lagi nelayan yang mendekat. Teman-teman dari Angkatan Laut terus patroli intensif, hal ini semata-mata demi keselamatan masyarakat," pungkas Mirza.
( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama )