Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Asnawati (47) tampak sedang membilas ikan menggunakan air bersih agar tetap terlihat segar. Asna merupakan satu di antara pedagang ikan di kawasan Pantai Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung.
Baca juga: Cerita Nelayan Teluk Bandar Lampung, Tetap Melaut di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau
Saat ditemui, Rabu (9/9/2026), hanya Asna yang terlihat seorang diri, masih berjualan hingga siang hari. Asna menjadi satu di antara pedagang ikan yang juga terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Erupsi GAK membuat tangkapan ikan menurun sehingga memicu lonjakan harga.
Setelah sempat mereda, GAK kembali mengalami erupsi pada Rabu (9/9/2026) dini hari. Erupsi GAK terjadi pada pukul 00.47 WIB dan terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 51 milimeter.
Dalam siaran pers pada Minggu, 6 September 2026, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati mengungkapkan, erupsi GAK berlangsung terus menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan baru berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Kenaikan komoditas laut tersebut terjadi pada seluruh jenis ikan yang dijual pedagang. Lonjakan paling terasa pada komoditas udang dan cumi-cumi.
Untuk ikan kembung, misalnya, saat ini dijual sekitar Rp 60 ribu per kilogram. Padahal, harga normal sebelumnya berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram. Sementara harga udang kini mencapai Rp100 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan serupa juga terjadi pada cumi-cumi kini dijual sekitar Rp100 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya yang hanya berkisar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
Meski komoditas laut mengalami kenaikan harga, namun harga kebutuhan bahan pokok (bapok) masih relatif stabil.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung, Panca Hartono saat dikonfirmasi, Rabu (9/9/2026), memastikan, berdasarkan data perkembangan harga harian bahan pokok Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang dihimpun pihaknya, pada Selasa (8/9/2026), menunjukkan sebagian besar komoditas bapok tidak mengalami perubahan harga dibandingkan pemantauan sebelumnya.
Kawasan Pantai Sukaraja adalah kawasan pesisir di Kelurahan Sukaraja, Bumi Waras, Bandar Lampung yang terletak di Jalan Ikan Selar atau di belakang Puskesmas Sukaraja. Lokasinya berada persis di belakang Puskesmas Sukaraja.
Kawasan ini sering menghadapi masalah menahun akibat tumpukan sampah kiriman dan limbah rumah tangga. Pada Juli 2023, pantai ini viral secara nasional karena kondisi sampahnya yang sangat banyak. Ribuan warga, relawan, dan pemerintah pernah turun tangan secara bersama-sama untuk membersihkan sampah di pantai ini.
Kawasan Pantai Sukaraja terletak di Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung. Jika ditarik garis lurus (garis geodesik/as the crow flies) dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, jaraknya berkisar 80 kilometer.
Berjarak kurang dari 100 kilometer, membuat kawasan Pantai Sukaraja menjadi satu di antara wilayah yang terdampak erupsi GAK. Terutama pada tangkapan ikan nelayan.
Meski demikian, nelayan di kawasan tersebut memilih tetap melaut, demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Seorang nelayan, Sapturi (37), mengatakan aktivitas melaut bersama rekan-rekannya masih dilakukan seperti biasa meski erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
"Kalau jadwal melaut masih seperti biasa. Kami berangkat sekitar pukul 05.00 WIB, kemudian pulang sore atau malam," kata Sapturi di atas kapalnya, Rabu (9/9/2026).
Meski berlayar di tengah ancaman erupsi GAK, Sapturi memastikan, ia dan rekan-rekannya tetap memperhatikan kondisi keselamatan dengan tidak pergi terlalu jauh ke tengah laut. Ia dan teman-temannya memilih mencari ikan di sekitar perairan pinggiran teluk Bandar Lampung.
Sapturi menyebut jumlah ikan yang diperoleh nelayan mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal.
"Biasanya dapat sekitar 10 kilogram, sekarang paling sekitar 7 sampai 8 kilogram sekali melaut," ujarnya.
Penurunan hasil tangkapan tersebut turut berdampak terhadap pendapatan nelayan. Jika sebelumnya dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp50 ribu, kini penghasilan mereka hanya berkisar Rp30 ribu.
Setelah sempat mereda, GAK kembali mengalami erupsi pada Rabu (9/9/2026) dini hari. Erupsi GAK terjadi pada pukul 00.47 WIB dan terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 51 milimeter.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, erupsi tersebut berlangsung selama 28 detik.
"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Rabu, 09 September 2026, pukul 00:47 WIB. Visual letusan tidak teramati," kata Suwarno, Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, meski visual letusan tidak teramati, aktivitas erupsi tersebut tetap tercatat melalui alat seismograf. Erupsi kali ini memiliki amplitudo maksimum 51 milimeter dengan durasi 28 detik. Dengan masih tingginya aktivitas vulkanik, status Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api yang lahir di Selat Sunda pasca-letusan katastropik Gunung Krakatau pada Agustus 1883.
Setelah meletus, Gunung Krakatau hancur dan tenggelam.
Namun, aktivitas vulkanik di dasar laut kembali memunculkan daratan baru pada tahun 1927.
Daratan baru tersebut pun masih terus tumbuh hingga saat ini.
Daratan baru itu kemudian dinamai Gunung Anak Krakatau.
GAK terus mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu akibat tumpukan material letusan.
Dalam Podcast Tribun Lampung QnA yang tayang Selasa, 14 Juli 2026, Pengamat Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Rajabasa, Andi Suardi mengungkapkan, momen erupsi besar GAK terjadi pada 22 Desember 2018.
"Erupsi GAK itu erupsi strombolian. Erupsinya akan membentuk seperti tiang tinggi ke atas, dan materialnya akan jatuh menimpa tubuhnya sendiri," kata Andi.
Hal itu mengakibatkan lereng gunung runtuh hingga mengakibatkan longsor laut, yang memicu terjadinya tsunami.
Keruntuhan lereng GAK mengubah tinggi gunung api tersebut dari 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi 110 mdpl.
Erupsi GAK yang memicu tsunami tahun 2018 menelan korban sebanyak 437 orang meninggal dunia.
Sejak erupsi 22 Desember 2018 tersebut, erupsi berskala rendah berlangsung hingga 16 Desember 2023.
Namun setelahnya, GAK tidak menunjukkan aktivitas.
"Sampai tanggal 2 Juli 2026 kembali terjadi erupsi. Makanya, status dinaikkan dari level II (waspada) menjadi level III (siaga)," ungkap Andi.
Perubahan status tersebut diberlakukan demi mengantisipasi lonjakan aktivitas seismik dan erupsi yang terus terjadi.
Sejak 2 Juli hingga 9 September 2026, GAK tercatat mengalami 249 kali erupsi.
Selama kurun waktu dua bulan tersebut, aktivitas vulkanik GAK didominasi lontaran material pijar, embusan asap kawah yang pekat, serta rentetan gempa tremor yang berlangsung secara terus menerus.
Peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda tidak hanya mengancam keselamatan warga pesisir, tetapi juga berpotensi menekan stabilitas sektor ekonomi perikanan di Provinsi Lampung.
Dampak erupsi membuat sebagian besar nelayan terpaksa mengurangi jam melaut hingga memicu penurunan volume tangkapan yang berimbas pada lonjakan harga pasokan laut di tingkat pedagang eceran.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (Unila), Dr. Dedy Yuliawan, menjelaskan bahwa fenomena ini memperlihatkan betapa rentannya kelompok masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana alam.
Kendati demikian, ia menilai kelancaran rantai pasok logistik dan skenario penanganan darurat dari pemerintah menjadi kunci utama untuk meredam gejolak harga di pasaran.
Dedy menyebut, ancaman keselamatan akibat aktivitas erupsi GAK membuat para nelayan di wilayah pesisir tidak berani melaut terlalu jauh ke tengah laut.
Seperti yang dialami para nelayan di Pantai Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung, volume hasil tangkapan ikan tercatat mengalami penurunan hingga 20 persen dari kondisi normal.
Dedy menegaskan, buruh nelayan yang menggantungkan pendapatan dari hasil melaut harian menjadi kelompok paling rentan ketika bencana terjadi.
Saat aktivitas melaut diliburkan atau dikurangi, pendapatan mereka langsung terhenti, sementara permintaan pasar atas produk perikanan tetap tinggi.
Meskipun tangkapan nelayan lokal menurun, Dedy menjelaskan, kenaikan harga di tingkat konsumen Bandar Lampung belum tentu terjadi secara merata pada seluruh jenis komoditas laut.
Hal ini disebabkan oleh struktur rantai pasok perikanan Lampung yang tidak hanya bersumber dari perairan lokal.
Pusat pasar perikanan terbesar yang memasok kebutuhan pasokan daerah sebenarnya berada di pelelangan ikan kawasan Jakarta.
Menurut Dedy, kenaikan harga di tingkat konsumen masih dapat ditekan apabila pasokan ikan dari Jakarta tetap berjalan lancar dan moda transportasi pengiriman ke Bandar Lampung tidak terganggu oleh erupsi, sehingga kelangkaan stok bisa dihindari.
"Jika jalur logistik darat dan penyeberangan tetap stabil, tekanan kenaikan harga pada komoditas impor lokal hanya akan berdampak berskala kecil (minimal)," ucap Dedy.
Namun, terus Dedy, apabila erupsi mengganggu jalur transportasi penyeberangan Selat Sunda dan memutus distribusi pasokan dari luar daerah, harga ikan di tingkat konsumen dipastikan akan melonjak lebih tinggi.
Untuk mencegah krisis ekonomi yang lebih meluas serta melindungi daya beli masyarakat pesisir, Dedy mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk segera mengambil langkah intervensi strategis.
Di antaranya, bantuan insentif tunai, relaksasi kredit pemilik kapal, dan penguatan pelabuhan alternatif.
Untuk bantuan insentif tunai, kata Dedy, pemerintah wajib memberikan insentif atau bantuan sosial darurat bagi buruh nelayan yang kehilangan pendapatan akibat dihentikannya aktivitas melaut secara sementara.
Kemudian, untuk relaksasi kredit pemilik kapal, terus Dedy, pemerintah bisa memberikan kebijakan penundaan atau keringanan pembayaran angsuran kredit bagi pemilik kapal, yang usahanya terhenti akibat situasi kebencanaan.
"Terakhir, mempersiapkan skenario pengalihan pusat pelelangan ikan ke titik pelabuhan pendukung lain, seperti Pelabuhan Labuhan Maringgai, apabila fasilitas pelelangan utama di kawasan Selat Sunda terganggu erupsi," sebut Dedy.
Melalui sinergi perlindungan sosial dan pengamanan jalur distribusi pangan ini, tandas Dedy, pemerintah diharapkan dapat menjaga ketahanan ekonomi nelayan sekaligus menstabilkan harga komoditas laut di pasaran.
(Tribunlampung.co.id/Dominius Desmantri Barus/Riyo Pratama)