TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah mendorong perubahan cara pandang terhadap industri halal.
Halal tidak lagi ditempatkan sebatas persoalan makanan dan sertifikasi produk, tetapi diarahkan menjadi bagian dari ekosistem yang mencakup kesehatan, kualitas, gaya hidup, rantai pasok hingga kedaulatan pangan.
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memperkuat perubahan tersebut.
Menurut dia, kampus dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun sumber daya manusia sekaligus ekosistem industri halal yang lebih luas.
Hal tersebut disampaikan Haikal saat menghadiri Wisuda ke-10 Universitas Ary Ginanjar (UAG) University dan Welcoming Reception Mahasiswa Baru ke-14 di Granada Ballroom, Menara 165, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
“Halal hari ini telah memiliki cakupan luas. Amanah daripada Presiden bukan hanya mengganti, bukan hanya change, tapi transform, mentransformasikan halal ke dalam ruang-ruang hidup yang sesungguhnya,” ujar Haikal.
Baca juga: BPJPH: Masyarakat Berhak dapat Kepastian Halal Produk Impor yang Masuk Indonesia
Haikal mengatakan transformasi industri halal harus diikuti perubahan pemahaman di tengah masyarakat. Menurut dia, prinsip halal dapat dikaitkan dengan aspek kesehatan, kebersihan, kualitas, perilaku hingga gaya hidup.
“Hari ini halal harus menjadi sebuah simbol untuk menyehatkan, untuk memuliakan, bahkan kedaulatan pangan. Halal harus dibawa dengan perilaku, dengan sikap, dengan gaya hidup. Halal harus berkembang luas,” katanya.
Perubahan tersebut juga berkaitan dengan semakin luasnya cakupan industri halal. Selain makanan dan minuman, sektor halal kini mencakup antara lain kosmetik, farmasi, fesyen, pariwisata, keuangan serta rantai pasok.
Dalam konteks itu, pembangunan ekosistem menjadi penting karena sertifikasi produk hanya merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses. Kehalalan juga perlu dijaga dalam proses produksi, penyimpanan, distribusi hingga produk sampai ke konsumen.
Pemerintah menargetkan Indonesia mengambil posisi yang lebih besar dalam industri halal global. Haikal mengatakan target tersebut diarahkan agar Indonesia dapat menjadi pusat halal dunia pada 2029.
“Kita gandeng tangan, rangkul, buat ekosistem halal. Dan seperti pesan Presiden kepada kami, 2029 Indonesia harus menjadi pusat halal dunia,” ujar Haikal.
Target tersebut membuat pengembangan sumber daya manusia dan rantai pasok menjadi bagian penting. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi produk halal, tetapi juga perlu meningkatkan kapasitas sebagai produsen dan pemain dalam rantai industri halal global.
Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendidikan, riset, inovasi dan penyediaan tenaga profesional yang memahami kebutuhan industri halal.
Baca juga: Wajib Halal Oktober 2026, BPJPH Dorong Industri Halal Naik Kelas
Salah satu langkah yang dilakukan UAG adalah membuka program studi Halal Supply Chain.
Pendiri ESQ Corp Ary Ginanjar Agustian mengatakan program tersebut diarahkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memahami pengelolaan rantai pasok halal.
“Spiritualitas tidak cukup kalau kita tidak menjaga apa yang kita kenakan dan apa yang kita makan. Oleh karena itu, kami mendukung program pemerintah, yaitu Indonesia menjadi pasar atau pemimpin halal dunia,” kata Ary.
Ia mengatakan pengembangan bidang tersebut tidak hanya berkaitan dengan sertifikasi, tetapi juga memastikan proses produksi dan distribusi berjalan sesuai prinsip halal.
Di sisi lain, Ary menilai pengembangan industri halal perlu berjalan bersamaan dengan pembentukan karakter generasi yang akan mengisi sektor tersebut.
*Kampus Hadapi Era AI
Menurut Ary, pendidikan tinggi juga menghadapi perubahan besar akibat perkembangan artificial intelligence (AI) dan robotika.
Kemampuan intelektual tetap penting, tetapi menurutnya tidak cukup menjadi satu-satunya bekal lulusan untuk menghadapi dunia kerja.
“Kampus kita tidak hanya mementingkan IQ, yang sekarang bisa digantikan dengan AI dan bahkan diganti dengan robot, tetapi juga mengedepankan EQ, kemampuan berempati, dan SQ, memiliki nurani,” ujarnya.
Ia menyebut 62,5 persen wisudawan UAG telah bekerja sebelum menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa dunia kerja membutuhkan kombinasi kemampuan akademik, karakter dan kemampuan sosial.
“Ini membuktikan bahwa memang masyarakat tidak hanya butuh IQ, tapi membutuhkan EQ dan SQ, yaitu moral yang bagus, karakter yang kuat, dan memiliki kejelasan tentang tujuan,” katanya.
UAG juga menyebut salah seorang lulusan program sarjananya diterima melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Virginia Tech, Amerika Serikat, melalui beasiswa.
*Pendidikan Dan Ekosistem Harus Berjalan Bersama
Ary mengatakan pendidikan di UAG dikembangkan melalui pendekatan SKI, yakni Spiritual, Kreatif, dan Intelektual.
Pendekatan tersebut menempatkan spiritualitas sebagai landasan nilai, kreativitas sebagai kemampuan menghasilkan gagasan dan intelektualitas sebagai kekuatan untuk menerapkan pengetahuan.
Ia menggunakan filosofi Gunung Krakatau untuk menggambarkan energi yang dimiliki manusia setelah memperoleh pendidikan. Energi tersebut, menurutnya, harus diarahkan agar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
“Spiritual itu energi di dalam hati yang menggelegak menjadi energi dorongan kebaikan. Energi ini akan tertumpahkan. Tapi yang tertumpahkan bukanlah lava yang menakutkan, melainkan lava yang memberi kesuburan,” tuturnya.
Dalam konteks industri halal, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem tidak hanya membutuhkan regulasi dan sertifikasi, tetapi juga manusia yang memahami proses industri sekaligus memiliki kemampuan untuk mengembangkan sektor tersebut.
Dengan target Indonesia menjadi pusat halal dunia pada 2029, tantangannya bukan hanya memperbesar jumlah produk bersertifikat halal.
Indonesia juga perlu membangun kapasitas produksi, rantai pasok, tenaga profesional, inovasi serta pasar yang mampu bersaing di tingkat global.
CAPTION:
ORASI ILMIAH - Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf saat menyampaikan orasi pada Wisuda ke-10 UAG University & Welcoming Reception Mahasiswa Baru ke-14 dengan tema “From Knowledge to Global Impact: Advancing Halal Excellence for Indonesia Emas 2045” di Granada Ballroom, Menara 165, Jakarta, Rabu (9/9/2026). (HO/IST)