Kisah di Balik Posko Gempa: Tawa dan Tangis Warga Manggarai Bersama Relawan Undana
Ryan Nong September 10, 2026 12:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

POS-KUPANG.COM,COM- Terdapat begitu banyak kisah dibalik posko gempa dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT.

Ada cerita tawa dan tangis warga Manggarai bersama relawan Universitas Nusa Cendana.

Kisah itu diceritakan dalam podcast Undana Talk Pos Kupang di YouTube Pos Kupang, Rabu (9/9/2026)

Begitu banyak pengalaman yang dirasakan enam mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) yang ditugaskan sebagai relawan bencana di Flores, khususnya Kabupaten Manggarai.

Baca juga: ICEST 2026: Undana Dorong Kolaborasi Global melalui Saintek untuk Jawab Tantangan NTT

Selama sekitar sepuluh hari berada di tengah masyarakat terdampak, mereka tidak hanya membawa sembako, terpal dan perlengkapan pengungsian. Mereka juga membawa telinga untuk mendengar keluhan warga, mata untuk melihat langsung kerusakan, serta hati untuk merasakan ketakutan dan kesulitan masyarakat yang rumahnya rusak akibat gempa.

Di sana, para relawan muda itu menemukan satu hal yang tidak ada dalam data statistik bencana: cerita manusia.

Ada tawa ketika mereka saling menguatkan di tengah perjalanan panjang. Ada rasa lelah ketika harus menempuh jalan berliku selama berjam-jam. Ada kecemasan ketika gempa susulan kembali terasa. Namun, ada pula kehangatan dari warga yang dalam kondisi serba kekurangan masih menyempatkan diri menyambut para relawan dengan secangkir kehangatan dari api unggun.

Salah satu relawan yang merasakan langsung pengalaman tersebut adalah Vento Ketman Alian Taneo, mantan Komandan Resimen Mahasiswa (Menwa) Undana 2025 sekaligus relawan bencana Posko Manggarai.

Bagi Vento, keberangkatan ke Flores merupakan pengalaman yang membanggakan. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi enam anggota Menwa Undana yang mendapat kepercayaan untuk terlibat langsung dalam penanganan bencana.

Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 langsung mendapat respons dari Universitas Nusa Cendana.

Sehari setelah kejadian, pada 16 Agustus, mahasiswa yang tergabung dalam Menwa, Mapala, serta sejumlah pendamping dari Undana mulai dilibatkan dalam tim utama posko yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan bantuan.

Bantuan itu datang dari berbagai unsur di lingkungan kampus, mulai dari mahasiswa, dosen hingga pegawai.

Vento menjadi salah satu mahasiswa yang sejak awal terlibat dalam proses tersebut.

“Jadi dari tanggal 15 Agustus kejadian, tanggal 16 kita langsung dipilih dibuat tim untuk posko utama di Undana untuk penyaluran bantuan dan donasi dari mahasiswa, dosen dan pegawai,” kata Vento.

Bantuan yang dikumpulkan tidak hanya berupa uang. Sembako, logistik, perlengkapan pengungsian dan berbagai kebutuhan lainnya juga dihimpun untuk kemudian dibawa ke daerah terdampak.

Keterlibatan itu membuat Vento sudah merasa senang sejak awal. Namun, kebahagiaan itu bertambah ketika pada 20 Agustus dirinya bersama lima anggota Menwa lainnya dipilih untuk turun langsung ke lokasi bencana.

“Awalnya saya dipilih untuk menjadi tim dalam proses pengumpulan sembako, donasi dan bantuan dari relawan, dosen dan mahasiswa itu saya sudah sangat senang karena bisa berpartisipasi. Akhirnya saya juga dipilih untuk mengikuti ke sana,” ujarnya.

Bagi Vento, perjalanan itu bukan lagi sekadar perjalanan seorang mahasiswa. Ia berangkat sebagai relawan.

“Memang saya sangat senang karena bisa turun langsung, bukan sebagai mahasiswa tetapi sebagai relawan yang bisa merasakan bersama bagaimana kondisi di sana,” katanya.

Menariknya, tidak ada rasa takut yang dirasakan Vento ketika mengetahui dirinya akan ditempatkan di Kabupaten Manggarai.

Bahkan ketika mendapat informasi bahwa Manggarai menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan cukup parah, ia justru semakin siap.

“Saya tidak ada ketakutan sama sekali. Benar-benar mantap. Jiwa kita untuk turun ke sana sudah seratus persen,” katanya.

Dari Kupang, rombongan relawan berangkat menggunakan kapal Dharma Rucita.

Mereka membawa berbagai perlengkapan awal, mulai dari genset, terpal, perlengkapan tidur, selimut, perlengkapan mandi hingga sembako.

Rombongan tersebut terdiri dari para relawan, sekitar 15 mahasiswa, empat dosen dan satu pegawai.

Setibanya di Ende sekitar pukul 08.00 WITA, rombongan kemudian dibagi menjadi tiga tim. Masing-masing diarahkan menuju Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur dan Manggarai.

Vento menjadi bagian dari tim yang menuju Manggarai. Jarak Ende menuju Manggarai bukan perjalanan singkat. Mereka harus menempuh perjalanan sekitar delapan jam.

Di sepanjang perjalanan, pemandangan yang mereka saksikan mulai berubah. Ada jalan yang rusak, longsor yang menutup sebagian akses, hingga bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Di sejumlah titik, alat berat pemerintah masih bekerja membersihkan material longsor.Rombongan pun harus beberapa kali berhenti dan menunggu jalan kembali bisa dilewati.

Namun perjalanan belum selesai. Dari Ende, mereka terlebih dahulu mengantar tim menuju Nagekeo, kemudian Manggarai Timur, sebelum akhirnya rombongan terakhir menuju Manggarai. Perjalanan yang panjang itu juga dihiasi gempa susulan yang terjadi berulang kali.

“Kita dalam perjalanan itu sering gempa. Gempa susulan itu sering terjadi dan kita baru sampai saja sudah gempa,” kata Vento.

Baca juga: Peduli Gempa Flores, Undana Terjunkan Tim Relawan Medis dan Non Medis ke Lokasi Terdampak

Di tengah perjalanan yang penuh tikungan dari Aimere menuju Bajawa, kelelahan pun mulai terasa.

Namun, para relawan mencoba menciptakan suasana agar perjalanan tidak terasa terlalu berat.

Vento bahkan menggambarkan bagaimana mereka sampai membuka “warung” kecil di dalam mobil selama perjalanan.

Sebuah tawa kecil di tengah perjalanan panjang menuju daerah bencana.

Sekitar pukul 00.00 WITA, rombongan akhirnya tiba di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Udara malam terasa sangat dingin.

Alih-alih langsung beristirahat, mereka terlebih dahulu menuju kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melaporkan kedatangan dan keberadaan tim relawan Undana.

Namun malam itu ternyata belum selesai. Petugas BPBD meminta sebagian relawan membantu mengantarkan tenda ke Reo karena ada persiapan kunjungan Wakil Presiden ke lokasi pengungsian pada pagi harinya.

Vento bersama dua relawan mahasiswa lainnya kemudian ikut dalam perjalanan tersebut.

Awalnya mereka mengira perjalanan hanya sekitar 15 menit. Ternyata mereka harus menempuh perjalanan sekitar dua jam. Mereka duduk di bagian belakang mobil pikap BNPB dalam perjalanan menuju Reo.

Sesampainya di lokasi, mereka langsung memasang tenda untuk persiapan pengungsian.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 02.00 WITA. Warga telah tertidur di dalam tenda. Dingin malam menjadi bagian dari keseharian mereka.

“Memang sangat luar biasa dengan dingin yang waktu itu sekitar sepuluh derajat. Mereka sudah tidur semua. Kita turun dan mengantarkan tenda,” ujar Vento.

Malam itu menjadi pengalaman pertama Vento melihat langsung bagaimana warga terdampak harus beradaptasi dengan kondisi pascagempa.

Mereka tidak berani tidur di dalam rumah. Tenda menjadi tempat berlindung. Namun, salah satu pengalaman paling membekas bagi Vento justru terjadi sebelum mereka tiba di Reo.

Mobil BNPB yang mereka tumpangi mengalami masalah di Cibal. Mereka harus berhenti di tengah perjalanan.

Di situlah untuk pertama kalinya Vento berinteraksi lebih dekat dengan warga yang mengungsi secara mandiri di pinggir jalan.

Warga yang saat itu sedang berada dalam kesulitan justru menyambut para relawan dengan ramah. Mereka bertanya dari mana rombongan tersebut berasal.

Ketika Vento menjelaskan bahwa mereka adalah mahasiswa Undana yang datang sebagai relawan, warga menyambutnya dengan rasa syukur.

“Wah, syukur sudah datang,” begitu kira-kira respons warga.

Dari percakapan itu, Vento mengetahui bahwa masih ada masyarakat yang belum menerima bantuan.

Bantuan lebih banyak terkonsentrasi di lokasi pengungsian terpadu, sementara sebagian warga yang memilih mengungsi secara mandiri belum banyak tersentuh.

Yang membuat Vento semakin terenyuh adalah kondisi tempat tinggal mereka. Sebagian warga tidur di tanah dengan terpal seadanya. Bahkan terpal yang digunakan sebagian sudah robek.

“Yang saya ingat sampai sekarang, mereka sedang kesusahan tapi mereka memanggil, ‘Mari Pak’. Mereka langsung membuatkan api. Waktu itu dingin sekali. Dengan jam satu malam dibuatkan api, panggang dulu,” cerita Vento.

Ada sesuatu yang menyentuh dalam peristiwa sederhana itu. Warga yang sedang membutuhkan bantuan justru berusaha membuat para relawan merasa diterima. Mereka berbagi kehangatan meski diri sendiri sedang kedinginan.

Mereka menawarkan tempat beristirahat meski tempat itu sendiri sangat sederhana. Dan dari api kecil di tengah malam itu, para relawan mendapatkan cerita tentang desa-desa yang rumahnya roboh dan warga yang belum tersentuh bantuan.

Bagi Vento, itulah momen yang membuatnya berpikir bahwa mereka tidak boleh hanya berkonsentrasi pada titik pengungsian yang sudah mudah dijangkau. Ada warga lain yang harus dicari.

Setelah kembali ke Ruteng sekitar pukul 04.00 WITA, para relawan tidak langsung berhenti.

Hari kedua menjadi awal pekerjaan mereka di Posko Undana. Mereka berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah daerah untuk menentukan lokasi posko.

Awalnya posko direncanakan berada di sekitar kantor BNPB. Namun, setelah mempertimbangkan kebutuhan koordinasi dan kedatangan tim-tim berikutnya dari Undana, posko kemudian dibangun di lingkungan Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santo Paulus Ruteng.

Posko itu nantinya bukan hanya menjadi tempat berkumpul relawan Undana. Posko tersebut menjadi titik koordinasi untuk tim medis, tim bantuan, hingga relawan dari perguruan tinggi lain.

Dari posko itulah informasi dikumpulkan, kebutuhan masyarakat dipetakan, dan bantuan diarahkan.

Vento bersama relawan lainnya juga ikut membantu BPBD mengangkat dan memuat sembako ke kendaraan yang kemudian didistribusikan ke sejumlah kecamatan.

Sementara sebagian anggota tim melakukan asesmen lapangan. Di Ruteng, kerusakan gempa tidak hanya terlihat pada rumah warga.

Sejumlah bangunan besar juga terdampak. Kampus Unika Santo Paulus, kantor bupati dan Polres Ruteng termasuk bangunan yang mengalami kerusakan.

Sementara pada rumah warga, Vento melihat pola kerusakan yang berbeda. Rumah yang sudah diplester relatif lebih bertahan, sedangkan sejumlah bangunan yang hanya menggunakan bata dan belum diplester mengalami kerusakan hingga roboh.

Akibat kondisi tersebut, banyak warga memilih tidak kembali ke rumah.Mereka tidur di tenda. Bahkan ketika berada di lingkungan kampus, para relawan sendiri tidak berani masuk ke dalam gedung. Mereka memilih tetap berada di tenda.

“Semua masyarakat mengungsi, tidak berani masuk. Termasuk kami juga tidak berani masuk ke ruangan gedung-gedung. Kita hanya sebatas di tenda saja,” kata Vento.

Bagi relawan yang terbiasa hidup dalam situasi normal, gempa susulan yang berulang kali terjadi menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

Aplikasi pendeteksi gempa di telepon genggam mereka bahkan sering berbunyi. Namun di tengah masyarakat Manggarai, ada alarm lain yang lebih sederhana. Setiap kali gempa terjadi, anjing-anjing di sekitar pengungsian akan menggonggong. Terutama pada malam hari ketika suasana begitu sunyi.

“Kalau bergetar atau terjadi gempa, semua yang kita rasa itu teriakan anjing. Anjing semua gonggong,” ujar Vento.

Tenda kemudian bergoyang. Para relawan dan warga yang sedang tidur langsung terbangun. Mereka duduk. Menarik napas. Memastikan keadaan. Kemudian mencoba tidur kembali.

“Semua yang di tenda itu pasti sadar, bangun, duduk. Setelah itu tarik napas, tidur lagi,” katanya.

Tidak ada teriakan histeris. Warga seolah mulai terbiasa dengan gempa yang datang berulang kali. Namun terbiasa bukan berarti tidak takut. Ketakutan itu tetap ada. Hanya saja, mereka belajar hidup bersamanya.

Setelah melakukan pemetaan, tim Undana kemudian memilih Cibal Barat sebagai salah satu wilayah prioritas. Akses menuju lokasi tidak mudah.

Jarak yang sebenarnya hanya sekitar 19 hingga 20 kilometer dari Pagal dapat ditempuh hingga sekitar tiga setengah jam.

Jalan yang sulit menjadi salah satu penyebab distribusi bantuan dan akses relawan tidak merata. Di sana, para relawan menemukan kondisi masyarakat yang membutuhkan perhatian.

Mereka melihat langsung bagaimana warga mengandalkan terpal dan perlengkapan seadanya untuk bertahan.

Menurut Fransiskus W. Dambu, SH, salah satu relawan Undana yang juga terlibat dalam koordinasi posko, kondisi geografis dan infrastruktur menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan bencana.

Menurutnya, persoalan di lapangan tidak selalu bisa dilihat hanya dari angka.

“Kalau dari jarak dari kota, dari Cibal, dari Pagal itu mungkin sekitar 19, 20 kilometer, tapi itu kami tempuh dalam waktu sekitar tiga jam setengah,” ujarnya.

Kondisi jalan yang sulit, ditambah dampak gempa dan gempa susulan, membuat bantuan tidak selalu bisa bergerak cepat.

Hal itulah yang kemudian membuat tim Undana memilih menggunakan hasil asesmen sebagai dasar untuk menentukan skala prioritas.

Fransiskus menjelaskan, keterlibatan Undana dalam penanganan gempa Flores tidak muncul secara spontan tanpa perencanaan.

Pada 15 Agustus, pimpinan Undana menggelar rapat untuk menentukan langkah institusi dalam merespons bencana.

Undana sebagai bagian dari masyarakat Nusa Tenggara Timur dinilai harus mengambil peran aktif. Ditunjuk pula PIC untuk mengoordinasikan respons Undana.

Dari sana, koordinasi dilakukan dengan berbagai unsur mahasiswa yang memiliki pengalaman dalam kegiatan kemanusiaan dan kebencanaan.

Ada Mapala, Menwa dan Tim Bantuan Medis dari Fakultas Kedokteran.

Posko kemudian dibentuk di lingkungan Undana untuk menerima informasi, bantuan dan donasi sekaligus melakukan pendataan awal.

Ketika akhirnya tim pertama diberangkatkan ke Flores, tugas mereka bukan hanya membawa bantuan.

Mereka memiliki tiga tugas utama: melakukan asesmen lapangan, memetakan wilayah terdampak dan mendistribusikan logistik.

Fransiskus mengatakan, pemilihan anggota tim juga mempertimbangkan kemampuan dan pengalaman.

Sebab menjadi relawan di daerah bencana bukan hanya soal keinginan membantu.

Relawan juga harus mampu menjaga dirinya sendiri.

“Jangan sampai kemudian karena keinginan kita yang mulia untuk ke sana, tapi tidak didukung oleh kondisi pribadi. Misalkan akhirnya sampai di sana bukan membantu tapi malah mesti diurus,” katanya.

Karena itu, mahasiswa yang memiliki pengalaman di kegiatan alam bebas, kebencanaan dan medis menjadi bagian dari tim awal.

Sepuluh hari berada di Manggarai membuat para relawan memahami bahwa posko bukan sekadar tempat menyimpan bantuan.

Posko adalah tempat orang datang membawa cerita. Ada warga yang datang mengatakan belum mendapatkan bantuan. Ada yang datang membawa informasi tentang desa yang belum tersentuh. Ada pula warga yang datang hanya untuk berbicara.

Fransiskus masih mengingat cerita seorang pegawai Unika Santo Paulus yang datang malam-malam.

Ia bercerita bagaimana rumah yang dibangunnya selama bertahun-tahun hancur akibat gempa.

“Pak, kami bangun rumah ini sudah beberapa tahun. Gempa kemarin hancur semua. Kami tidak tahu harus seperti apa,” cerita tersebut masih membekas dalam ingatan Fransiskus.

Namun bagi relawan yang melihat dan mendengar langsung, cerita itu memiliki makna berbeda. Mereka melihat bagaimana hasil kerja bertahun-tahun bisa hilang dalam hitungan detik.

Fransiskus menilai penanganan bencana tidak boleh berhenti pada bantuan logistik.

Sebab setelah rumah rusak dan lingkungan berubah, masyarakat harus menghadapi persoalan lain: trauma.

Bahkan para relawan sendiri merasakan dampak psikologis setelah beberapa hari menghadapi gempa susulan.

Ketika kembali ke Kupang, sedikit getaran saja dapat membuat mereka merasa seperti sedang menghadapi gempa.

“Pasca beberapa hari ketika kembali dari Flores, sedikit goyangan kami, pikiran itu seperti gempa,” ujarnya.

Jika relawan yang hanya berada sekitar sepuluh hari sudah merasakan dampak tersebut, Fransiskus membayangkan bagaimana kondisi masyarakat yang setiap hari masih berada di daerah bencana.

Mereka harus terus menghadapi gempa susulan. Mereka harus tidur di tenda. Mereka harus beradaptasi dengan suhu dingin. Dan mereka tidak tahu kapan sepenuhnya bisa kembali ke rumah.

Karena itu, menurut Fransiskus, trauma healing harus menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Bantuan bukan hanya tentang beras, air, selimut atau terpal. Masyarakat juga membutuhkan rasa aman.

Meski datang dalam situasi bencana, kehidupan di posko tidak sepenuhnya dipenuhi kesedihan. Ada tawa-tawa kecil. Ada candaan di antara relawan ketika perjalanan terasa panjang. Ada kebersamaan ketika harus tidur di tenda.

Ada saling menguatkan ketika gempa tiba-tiba mengguncang. Dan ada solidaritas warga yang tidak pernah mereka duga.

Vento masih mengingat warga yang membuat api untuk menghangatkan mereka pada tengah malam. Padahal warga tersebut juga merupakan korban. Mereka kehilangan kenyamanan. Sebagian kehilangan rumah. Namun mereka masih mampu memberikan sedikit yang mereka punya kepada orang lain. Api kecil itu mungkin sederhana. Tetapi bagi Vento, api tersebut menjadi simbol bagaimana manusia tetap bisa berbagi dalam keadaan paling sulit.

Bagi Vento, keterlibatannya dalam penanganan bencana juga menjadi bentuk nyata dari tugas Menwa sebagai organisasi kemahasiswaan. Menwa tidak hanya melatih kedisiplinan dan dasar-dasar militer. Di dalamnya juga terdapat semangat bela negara dan pengabdian kepada masyarakat.

Di Undana, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Pengabdian ini kita sering melaksanakan pengabdian masyarakat, banyak berupa dharma bakti, bakti sosial di dalam kampus maupun di luar kampus,” jelas Vento.

Anggota Menwa juga memiliki kesempatan mengikuti berbagai pelatihan lanjutan, termasuk pelatihan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana dan SAR.

Karena itu, ketika enam anggota Menwa Undana dipilih untuk turun ke Flores, mereka melihatnya sebagai kesempatan untuk mengimplementasikan apa yang selama ini dipelajari.

Mereka dibagi ke tiga wilayah. Dua orang menuju Nagekeo. Dua orang menuju Manggarai Timur. Dan dua orang menuju Manggarai.

“Kami memang dipilih dan kami akan melakukan yang terbaik di sana,” tegas Vento.

Setelah kembali dari Flores, Vento menyampaikan apresiasi kepada Undana karena telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kerja-kerja kemanusiaan.

Ia berharap Undana terus menjadi institusi yang hadir bagi masyarakat, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.

“Untuk Undana, terima kasih atas kepercayaan luar biasa yang diberikan kepada saya secara pribadi maupun kepada kami anggota Menwa yang berpartisipasi,” katanya.

Menurut Vento, keterlibatan mahasiswa dalam penanganan bencana menjadi pengalaman penting.

Bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga belajar memahami bagaimana masyarakat bertahan ketika menghadapi bencana.

Ia juga melihat banyak elemen Undana yang ikut berkontribusi. Tim medis turun. Mahasiswa menjalankan trauma healing. Tim lainnya melakukan pendataan. Sementara relawan awal bekerja melakukan asesmen dan distribusi logistik.

“Undana selalu berdampak,” ujarnya.

Fransiskus juga memberikan apresiasi terhadap kesempatan yang diberikan Undana kepada para relawan.

Menurutnya, dengan jumlah mahasiswa yang mencapai puluhan ribu, tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk langsung berada di tengah masyarakat terdampak bencana.

Namun pengalaman itu menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar ruang pendidikan.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, jaringan dan kemampuan untuk membantu masyarakat menghadapi bencana.

Karena NTT merupakan wilayah yang rawan bencana, Fransiskus menilai sudah saatnya perguruan tinggi membangun jejaring yang lebih kuat.

“Sudah saatnya membangun jejaring di tingkat perguruan tinggi dengan kapasitas keilmuan yang kita punya, bagaimana melakukan intervensi atau bagaimana memberikan kontribusi ilmu pengetahuan bagi teman-teman untuk hidup berdampingan dengan bencana,” katanya.

Sebab hidup berdampingan dengan bencana bukan berarti menyerah kepada alam.

Justru masyarakat membutuhkan pengetahuan agar dapat memahami risiko, mengurangi dampak dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.

Sepuluh hari di Manggarai akhirnya berakhir.Para relawan kembali ke Kupang.

Namun pengalaman itu tidak ikut pulang begitu saja. Ia tertinggal dalam ingatan. Tentang malam-malam dingin di tenda.

Tentang suara anjing yang menjadi alarm gempa. Tentang bangunan yang runtuh. Tentang warga yang kehilangan rumah.

Tentang seorang pegawai yang melihat rumahnya hancur setelah bertahun-tahun dibangun. Tentang warga yang belum mendapatkan bantuan.

Dan tentang api kecil yang dibuat seorang korban untuk menghangatkan relawan pada tengah malam.

Bagi Vento, semua itu menjadi pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan.

Ia juga meyakini bahwa bencana tersebut terjadi pada waktu yang, meskipun membawa kerusakan dan trauma, tidak menyebabkan korban jiwa dalam skala yang lebih besar.

Ia berharap proses pemulihan terus berjalan dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, tenaga medis, relawan dan seluruh masyarakat.

“Kita percaya bahwa pemulihan akan terjadi dengan banyak yang sudah turun ke sana. Dengan relawan-relawan baik dari medis maupun nonmedis, pasti akan membantu proses pemulihan di sana,” ujarnya.

Sementara bagi Fransiskus, perjalanan itu memberikan satu pelajaran penting. Bencana tidak pernah hanya tentang angka. Di balik setiap angka kerusakan, ada keluarga.

Di balik setiap rumah yang roboh, ada seseorang yang bertahun-tahun membangunnya. Di balik setiap tenda pengungsian, ada manusia yang sedang mencoba memulai kembali hidupnya.

Dan di balik setiap bantuan yang tiba, ada harapan bahwa mereka tidak sendirian. Para relawan muda Undana mungkin hanya tinggal sepuluh hari di Manggarai.

Tetapi bagi mereka yang sedang berjuang di tengah bencana, kehadiran itu mungkin akan dikenang jauh lebih lama.

Sebab terkadang, yang paling dibutuhkan korban bencana bukan hanya bantuan yang dibawa dalam mobil. Tetapi juga seseorang yang datang, duduk bersama mereka, mendengarkan cerita mereka, dan berkata: Kalian tidak sendirian. (mey)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.