Erupsi Anak Krakatau Berbeda dengan Krakatau 1883, Ini Penjelasan Pakar Vulkanologi
Glery Lazuardi September 10, 2026 04:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Ir. Agung Harijoko, S.T., M.Eng., IPM. mengatakan karakter erupsi Gunung Anak Krakatau dalam beberapa dekade terakhir berbeda dengan erupsi besar Gunung Krakatau pada 1883.

Menurut Agung, perbedaan tersebut antara lain berkaitan dengan karakter magma yang keluar saat erupsi.

Ia menyebut kandungan SO2 pada magma saat erupsi 1883 lebih tinggi dibandingkan magma yang dierupsikan Gunung Anak Krakatau dalam sekitar 30 tahun terakhir.

“Jadi secara potensi tipe erupsinya tentunya akan berbeda, dan itu bisa dilihat juga dari erupsinya ya. Jadi 30 tahun terakhir ini erupsinya mempunyai VEI atau indeks eksplosifitas vulkanik itu 1 sampai 3, ini relatif rendah. Itu biasanya disebabkan jika magmanya mempunyai SO2 yang rendah sekitar 55 persen itu. Jadi masih cukup jauh dari 1883,” katanya saat ditemui di Universitas Gadjah Mada, Rabu (9/9/2026).

Agung menjelaskan, erupsi dengan indeks eksplosivitas vulkanik (VEI) 1 hingga 3 cenderung menghasilkan lontaran material yang relatif terbatas di sekitar pusat erupsi. Material tersebut kemudian dapat menumpuk dan membentuk morfologi gunung api.

Namun, menurut Agung, kondisi geologi tempat Gunung Anak Krakatau berdiri tetap perlu diperhatikan. Gunung tersebut berada di tepi kaldera yang terbentuk akibat erupsi Krakatau 1883.

“Yang menjadi permasalahan adalah di mana tubuh gunung api itu berdiri. Kalau dari studi yang sudah dilakukan ternyata kan Gunung Anak Krakatau berdiri di atas tepi kaldera dari erupsi 1883. Sehingga mungkin di bawah itu bukan suatu dataran yang stabil. Biasanya kaldera itu mesti ada tebing yang cukup terjal, sehingga menyebabkan mudah longsor seperti di 2018,” lanjutnya.

Baca juga: 5 Jurnalis Hilang Kontak saat Liput Anak Krakatau, Legislator PAN Minta Pencarian Dimaksimalkan

Longsoran Perlu Diantisipasi

Agung mengatakan potensi perubahan morfologi dan longsoran di tubuh Gunung Anak Krakatau perlu terus dipantau. Ia menyinggung kejadian pada 2018 ketika longsoran tubuh gunung memicu tsunami di Selat Sunda.

Menurutnya, tsunami akibat longsoran memiliki karakter berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa bumi. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam sistem peringatan dini.

“Karena memang erupsinya tidak besar, hanya longsor. Makanya harapannya ke depan juga bahwa perubahan morfologi dari gunung api itu yang harus terus dipantau, untuk menghitung potensi adanya longsoran,” imbuhnya.

Anak Krakatau Kembali Erupsi

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Rabu (9/9/2026) pukul 00.47 WIB.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi berlangsung selama 28 detik dengan amplitudo maksimum 51 milimeter.

Tinggi kolom erupsi tidak teramati. Pada periode pengamatan tersebut juga tercatat satu kali gempa low frequency dengan amplitudo 16 milimeter dan durasi enam detik.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak mengarah ke Jakarta.

Namun, perubahan arah sebaran abu tetap perlu dipantau karena dapat berdampak pada wilayah sekitar dan aktivitas penerbangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.