Budayakan Siap Siaga Bencana di Sekolah, Wabup Sikka Sebut SDI Wairotang Jadi Contoh
Gordy Donovan September 10, 2026 04:41 AM

 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Sekolah Dasar Inpres (SDI) Wairotang, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu sekolah pilot project Program Satuan Pendidikan Aman Bencana di Kabupaten Sikka.

Sebagai bagian dari program tersebut, warga sekolah rutin menggelar simulasi siaga bencana setiap bulan.

Simulasi dilakukan untuk membangun budaya siap siaga di lingkungan sekolah terhadap berbagai jenis ancaman bencana, baik bencana alam maupun nonalam.

Pada Rabu (9/9/2026), SDI Wairotang menggelar simulasi menghadapi guncangan gempa bumi tektonik.

Dalam simulasi tersebut, siswa dilatih melakukan langkah penyelamatan diri ketika gempa terjadi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Baca juga: Dua Bulan Tanpa Air Bersih, Warga Wolomotong Sikka NTT Bertahan dengan Air Keruh

 

Begitu merasakan guncangan, anak-anak langsung berlindung di bawah meja. Mereka dilatih melindungi kepala dan tetap berada di tempat yang aman hingga guncangan reda.

Setelah guncangan reda, guru kemudian mengevakuasi siswa dari ruang kelas menuju tanah lapang.

Saat keluar dari ruangan, siswa melindungi kepala menggunakan tas. Mereka mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan hingga berkumpul di lapangan tengah sekolah.

Setelah tiba di titik kumpul, para siswa duduk dan mengikuti arahan guru. Simulasi tersebut dipantau langsung oleh Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, pada Rabu pagi.

Baca juga: Gempa Susulan Flores Tembus 13.863 Kali, Gempa M 4,8 Bangunkan Warga Manggarai Rabu Pagi

Kepala SDI Wairotang, Fransesko Losi, mengatakan simulasi dilakukan secara rutin agar guru dan siswa terbiasa menghadapi situasi darurat.

"Guru dan siswa dilatih bagaimana setiap hari, setiap saat harus siaga terhadap bencana. Jadi kami selama sebulan sekali melakukan simulasi bagaimana mitigasi terhadap bencana itu," ujar Fransesko, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, salah satu simulasi yang dilakukan adalah menghadapi gempa bumi.

Saat gempa terjadi ketika siswa masih berada di dalam kelas, mereka telah dilatih untuk segera berlindung di bawah meja dan melindungi kepala.

"Ketika gempa terjadi saat masih di dalam kelas, siswa otomatis masuk di dalam kolong meja dan melindungi kepala di bawah meja. Setelah reda, guru kelas mengevakuasi siswa ke lapangan," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi mengapresiasi komitmen SDI Wairotang dalam memberikan edukasi mitigasi bencana kepada anak-anak sejak dini.

Menurut Simon, latihan tersebut penting agar siswa mengetahui tindakan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.

"Ini sangat luar biasa. Anak-anak mempraktekkan cara tercepat menyelamatkan diri dari gempa. Edukasi diselingi dengan permainan dan nyanyian," kata Simon.

Ia berharap SDI Wairotang dapat menjadi sekolah percontohan bagi satuan pendidikan lainnya di Kabupaten Sikka dalam membangun budaya sadar dan siaga bencana sejak dini.

"Saya harap sekolah ini menjadi sekolah contoh untuk yang lain," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.