TRIBUNNEWS.COM - Duel panas tersaji di kancah Liga Champions Eropa ketika Galatasaray berjumpa Sporting CP di matchday pertama, Kamis (10/9/2026).
Sporting CP yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil mengalahkan Galatasaray dengan skor cukup nyaman, 3-1, pada laga yang digelar di Estadio Jose Alvalade.
Sebenarnya Galatasaray bisa unggul terlebih dahulu berkat gol bunuh diri pemain Sporting CP, Goncalo Inacio, di menit 5'.
Namun keunggulan itu langsung dibayar dengan 3 gol yang diciptakan sang tuan rumah di sisa pertandingan.
Pihak Galatasaray sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan kemampuan Sporting CP melakukan comeback dan memenangkan pertandingan di akhir.
Wakil asal Turki ini hanya menyayangkan keputusan wasit yang mereka anggap kurang adil. Diketahui, laga tersebut dipimpin oleh wasit asal Norwegia, Espen Eskas dan wasit VAR dari Jerman, Christian Dingert.
Kepemimpinan wasit membuat Sporting CP bisa mendapatkan setidaknya dua gol yang membuat mereka akhirnya unggul di laga ini.
Pelatih Galatasaray, Okan Buruk, menyoroti keputusan wasit memberikan hadiah penalti di menit ke-57 kepada Sporting CP.
Menurutnya, tak seharusnya penalti itu terjadi lantaran ia menganggap wasit terlalu mudah melakukan vonis pelanggaran.
Baca juga: Prediksi Skor Manchester United vs Sabah FK: MU Wajib Waspada, Debutan Liga Champions Sedang On Fire
Sang pengadil juga tak menggunakan VAR untuk meninjau keputusan yang diambil.
Selain itu, pihak Galatasaray melakukan protes saat ingin melakukan pergantian pemain.
Keputusan wasit keempat yang menunda masuknya Rafael Leao di sekitar menit 55' membuat Galatasaray akhirnya kebobolan lewat gol penalti lawan.
"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Sporting CP yang memenangkan pertandingan, karena apa yang akan saya katakan tidak ada hubungannya dengan mereka," kata Okan Buruk dalam konferensi pers setelah laga, dikutip dari laman resmi Champions League.
"Kepemimpinan wasit yang seperti ini juga tidak ada hubungannya dengan lawan yang kami hadapi. Namun mereka (wasit), ada bisa membuat pertandingan berjalan sesuai kehendak mereka dengan vonis kartu merah yang jelas dan penalti yang seharusnya tidak terjadi."
"Wasit VAR hari ini mungkin, um, bahkan tidak berada di stadion. Karena dia sama sekali tidak melakukan intervensi apa pun. Um, saya berharap dia juga datang ke stadion dan, um, memberi tahu wasit utama mengenai kartu merah tersebut dan fakta bahwa seharusnya tidak ada penalti dalam pertandingan ini. Ada banyak kartu kuning yang seharusnya diberikan tetapi tidak dikeluarkan selama pertandingan," paparnya.
Menurut Okan Buruk, keputusan wasit memberikan hadiah penalti kepada Sporting CP membuyarkan fokus para pemainnya.
"Penalti, yang sebenarnya tidak perlu terjadi, menjadi titik balik bagi kami. Menurut saya, kepercayaan diri para pemain saya menurun, dan kami justru memberikan kepercayaan diri kepada tim yang bermain di kandang. Mereka kemudian unggul 2-1. Setelah itu, mereka bermain jauh lebih baik daripada kami," ucap Okan Buruk.
Sementara dari pihak Sporting CP memilih respons yang cenderung normatif.
Maksudnya, mereka tetap memuji Galatasaray yang memberikan perlawanan hebat sembari juga mengedepankan semangat tim sendiri.
Justru anggapan menarik datang dari salah satu pemain Galatasaray sendiri, Lucas Torreira.
Torreira tak mau hanya menyalahkan wasit sebagai penyebab utama kegagalan timnya meraih kemenangan.
Pasalnya Galatasaray bisa bermain apik di babak pertama sebelum wasit membuat beberapa keputusan yang dianggap kontroversial.
"Kami tidak boleh terus memikirkan keputusan wasit! Kami tidak boleh membiarkan diri kami memikirkan hal tersebut. Kami mengendalikan jalannya babak pertama, tetapi kami pulang tanpa membawa apa-apa karena kesalahan yang kami lakukan pada babak kedua," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Guruh)