TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Gus Kautsar, akhirnya memberikan jawaban soal pencantuman namanya dalam buku “Islam ala Prabowo” yang sebelumnya menjadi sorotan.
Jawaban Gus Kautsar disampaikan dalam forum pengajian terbaru pada Rabu (9/9/2026). Video pengajian tersebut kemudian diunggah oleh akun official Teras Gubuk.
Dalam penjelasannya, Gus Kautsar mengatakan persoalan utama bukan mengenai keberatan namanya dicantumkan dalam buku tersebut.
Ia justru mempertanyakan mengapa dirinya tidak diberi tahu terlebih dahulu bahwa percakapan dengan penulis akan digunakan dan dicantumkan dalam sebuah buku.
Gus Kautsar menjelaskan, dirinya baru mengetahui adanya buku tersebut setelah namanya dicantumkan di dalamnya.
Baca juga: 30 Desa di Kabupaten Blitar Gelar Pilkades Serentak 2026, 2 Desa Buka Pendaftaran Tahap II
Menurut Gus Kautsar, persoalan tersebut lebih berkaitan dengan komunikasi antara dirinya dengan penulis buku.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mempersoalkan pencantuman nama semata, tetapi mempertanyakan proses sebelum materi maupun namanya dimasukkan ke dalam buku.
Gus Kautsar kemudian menyoroti cara buku tersebut menjelaskan hubungan Prabowo dengan Islam dan pesantren.
Menurutnya, apabila tujuan buku tersebut untuk menjelaskan hubungan Prabowo dengan Islam maupun pesantren, seharusnya penyampaiannya dilakukan secara lebih terbuka dan proporsional.
"Jadi bukan, gak masalah memang saya gak cara gitu. Kan banyak hal tuh. Banyak hal. Dan kenapa harus, mohon maaf, kalau dalam rangka menjelaskan bagaimana hubungan beliau dengan Islam, beliau dengan pesantren, harusnya jujurnya gak kayak gitu. Itu lebih soft dan itu lebih punya potensi untuk kemudian dibaca dengan baik. Kan begitu," katanya.
Gus Kautsar juga memberikan gambaran mengenai cara para gurunya dalam menyampaikan pembahasan mengenai Islam.
Ia mengatakan dirinya tidak terbiasa mengaitkan identitas Islam dengan sosok atau kelompok tertentu dengan cara seperti yang terdapat dalam buku tersebut.
"Saya ngomong begitu karena kapasitas guru-guru kami saja. Kami tidak punya tuh Islam ala Bahaya Jejuli misalnya. Tidak punya tuh Islam ala Bahaya Yehuda, gak ada tuh. Atau mungkin yang kamu kenal misalnya Islam ala Mbah Maimon, gak ada tuh. Gak ada. Karena kami tidak biasa bahwa ngomongkan Islam kemudian ngomongkan menurut saya. Gak ada tuh. Gak ada," ujarnya.
Gus Kautsar kembali menegaskan bahwa persoalan yang ia soroti bukan soal setuju atau tidak setuju namanya dicantumkan.
Menurutnya, ketika namanya akan digunakan dalam sebuah buku, terlebih buku yang membawa tema politik dan agama, semestinya ada komunikasi terlebih dahulu.
"Maka sebetulnya bukan masalah kami keberatan atau tidak. Tapi lebih kepada kami kok tidak merasa ikut dalam proyek ini begitu. Karena kalau kemudian nama kami ada harusnya sebelum masuk ke percetakan kami dikasih tahu tuh ini ada seperti ini. Mestinya normalnya begitu," tegasnya.
Sebelumnya, persoalan pencantuman nama Gus Kautsar dalam buku “Islam ala Prabowo” menjadi sorotan setelah istrinya, Ning Jazil, menyampaikan keberatan melalui media sosial.
Ning Jazil menyampaikan komplain melalui laman Instagram pribadinya serta kolom komentar unggahan akun kabarmahasiswa.id yang membagikan informasi mengenai buku tersebut.
Ia mempertanyakan bagaimana nama Gus Kautsar bisa dicantumkan dalam buku tersebut.
Ning Jazil menyebut Gus Kautsar tidak pernah menulis materi untuk buku tersebut dan mengaku tidak mengetahui bahwa percakapan ketika penulis berkunjung ke rumahnya akan digunakan sebagai bahan buku.
"Kok bisa ada nama suami saya??
"pdhl gus kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya" tulis Ning Jazil dalam sebuah komentar.
Ning Jazil Sebut Gus Kautsar Tak Tahu Wawancara untuk Buku
Dalam komentarnya, Ning Jazil mengatakan seharusnya penulis menyampaikan sejak awal apabila percakapan dengan Gus Kautsar akan digunakan untuk sebuah buku dengan tema tersebut.
Menurutnya, wawancara dengan Gus Kautsar saat itu berlangsung layaknya percakapan biasa.
"Maaf, Penulis harusnya terus terang saat wawancara kl akan dibuat buku dg judul tsb, kl hanya wawancara banyak jg wartawan yg wawancara dg gus kautsar, dan saat itu jawaban gus hanya harapan2 terbaik untuk pemimpin, tidak faham kl mau di masukkan buku tsb, kl mencatut nama dlm buku apalagi berbau politik minimal pamit dulu.."
Ning Jazil kemudian mengingat kembali kedatangan penulis ke kediamannya.
Ia menyebut penulis datang bersama anak dan istrinya dan diterima sebagai tamu seperti biasa.
"Saya ingat orang itu dtg ke rumah bersama anak dan istrinya, kami sambut layaknya tamu yg lain.. kami benar2 tidak tau kl obrolan itu ahirnya akan di masukkan dlm buku.. dan seingat saya itu tahun 2024 saat awal atau sblm pak Prabowo bertugas, gus kautsar hanya menyampaikan harapan2 dan doa sewajarnya tidak ada niat untuk menjadi bagian bahan dr buku tsb"
Ning Jazil juga menyebut nama Tuan Guru Bajang (TGB) dalam komentarnya.
Menurutnya, Gus Kautsar dan TGB sama-sama tidak mengetahui bahwa percakapan mereka akan menjadi bagian dari buku tersebut.
"Sama dg Tuan guru bajang sama2 tidak merasa menulis atau niat menjdi bagian buku tsb"
Gus Kautsar Ingin Proses Pencantuman Nama Dikomunikasikan
Dari penjelasan Gus Kautsar, persoalan yang dipermasalahkan lebih berkaitan dengan proses komunikasi sebelum buku diterbitkan.
Ia menilai, apabila nama seseorang akan dicantumkan dalam sebuah karya yang membawa isu agama dan politik, seharusnya pihak yang bersangkutan diberi tahu terlebih dahulu.
Gus Kautsar juga menginginkan penyampaian mengenai hubungan Prabowo dengan Islam dan pesantren dilakukan dengan cara yang lebih terbuka sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Sementara itu, keberatan sebelumnya yang disampaikan Ning Jazil melalui media sosial turut menjadi perhatian publik karena mempertanyakan proses penggunaan percakapan dan nama Gus Kautsar dalam buku tersebut.
Sebelumnya Buku Islam Ala Prabowo karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas belakangan menjadi sorotan publik.
Buku yang mengangkat sosok Presiden Prabowo Subianto dari perspektif Islam tersebut ramai diperbincangkan setelah sejumlah tokoh yang namanya tercantum di dalam buku memberikan klarifikasi.
Buku Islam Ala Prabowo diketahui diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House. Buku tersebut mencantumkan sejumlah nama tokoh besar, mulai dari ulama hingga pejabat negara.
Di antara nama yang tercantum adalah ulama sekaligus mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) KH Muhammad Zainul Majdi.
Kemudian ada pula nama Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar.
Nama mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj juga tercantum dalam buku tersebut.
Selain tokoh agama, sejumlah pejabat negara juga disebut dalam buku Islam Ala Prabowo, di antaranya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti serta Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra.
Pencantuman nama sejumlah tokoh tersebut kemudian menimbulkan polemik karena beberapa di antaranya mengaku tidak pernah menulis maupun memberikan tulisan untuk buku tersebut.
Lantas, sebenarnya seperti apa isi buku Islam Ala Prabowo yang kini menjadi sorotan?
Isi Buku Islam Ala Prabowo
Melansir laman Gramedia.com, buku Islam ala Prabowo karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush`ab Muqoddas diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House pada 14 Juli 2025.
Buku dengan ISBN 9786238967650 tersebut terdiri dari 368 halaman.
Dalam deskripsinya, buku ini berisikan narasi kilas sejarah, riwayat, sekaligus kiprah seorang pemimpin politik dari sudut pandang yang belum banyak diperbincangkan oleh publik intelektual.
Buku bertajuk Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam tersebut tidak hanya mendeskripsikan sosok Prabowo Subianto sebagaimana yang telah banyak diulas di berbagai media.
Namun, buku itu juga memberikan ruang interpretasi yang luas mengenai Prabowo Subianto sebagai penggerak dalam lokomotif keagamaan dan keumatan.
Buku tersebut ditulis sebagai ikhtiar untuk menggali nilai-nilai, paradigma, napak tilas sekaligus membaca denah rumah masa depan bangsa yang beliau emban dalam memacu perjuangan bangsa beserta unsur-unsur progresif di dalamnya.
Melalui buku tersebut, pembaca disebut dapat melihat pengaruh moral Islam dalam perilaku politik dan kepemimpinan Prabowo Subianto.
Namun, keberadaan sejumlah nama tokoh di dalam buku justru memunculkan polemik setelah beberapa tokoh memberikan klarifikasi mengenai keterlibatan mereka.
Salah satu nama yang tercantum dalam buku Islam Ala Prabowo adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi.
Bantahan itu disampaikan melalui komentarnya di salah satu unggahan Instagram.
Melalui akun Instagram resminya @tuangurubajang, TGB menegaskan tidak pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut.
"Saya tidak pernah kirim tulisan," tegasnya dalam kolom komentar salah satu unggahan Instagramnya pada Minggu (6/9/2026).
Nama Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Gus Kautsar, juga tercantum dalam buku tersebut.
Bantahan terkait pencantuman nama Gus Kautsar disampaikan oleh sang istri, Ning Jazil.
Melalui komentarnya di sebuah unggahan Instagram, Ning Jazil menegaskan bahwa Gus Kautsar tidak pernah menulis untuk buku Islam Ala Prabowo.
Ning Jazil juga mempertanyakan mengapa penulis tidak meminta izin terlebih dahulu untuk menyertakan nama suaminya dalam buku.
"Kok bisa ada nama suami saya?? Padahal Gus Kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu???!!" tulis Ning Jazil dalam komentarnya melalui akun resminya @zil_hb.
Polemik juga muncul setelah nama Prof Dr KH Said Aqil Siradj tercantum dalam buku Islam Ala Prabowo.
Melalui klarifikasi resmi, Kyai Said menyayangkan pencantuman namanya dalam buku tersebut.
Klarifikasi itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Pribadi Kyai Said, M. Sofwan Erce pada Senin (7/9/2026).
Ditegaskan, Kyai Said tidak pernah menulis, menyusun, maupun memberikan tulisan untuk buku itu.
Dengan demikian, pencantuman namanya tidak bisa dianggap sebagai bentuk keterlibatan beliau dalam penyusunan buku.
Atas dasar itu, Kyai Said meminta agar namanya segera di-take down dan dihapus dari buku tersebut.
Beliau juga berharap peredaran buku Islam Ala Prabowo dapat dihentikan sementara.
Penghentian ini dimaksudkan agar dilakukan pengecekan sekaligus revisi sesuai permohonan Kyai Said. Revisi yang dimaksud adalah menghilangkan nama Kyai Said dari buku tersebut.
Langkah klarifikasi ini diambil semata-mata untuk menjaga kejelasan informasi di tengah masyarakat.
Kyai Said tidak ingin muncul anggapan keliru bahwa dirinya adalah penulis atau kontributor buku tersebut.
Berbeda dengan sejumlah tokoh lainnya, Yusril Ihza Mahendra memberikan penjelasan mengenai keterlibatannya dalam buku Islam Ala Prabowo.
Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra membantah dirinya menjadi penulis buku tersebut.
Yusril menyebut dirinya hanya diwawancarai untuk penyusunan buku.
Terkait pembahasan judul hingga penggagasan buku, Yusril mengaku tidak pernah terlibat di dalamnya.
Bahkan, setelah diwawancarai oleh tim penyusun, dirinya tidak pernah melihat naskahnya hingga buku tersebut diterbitkan.
“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya," kata Yusril di Jakarta, Selasa (8/9/2026), dilansir Kompas TV.
Yusril juga tidak ingat siapa yang mewawancarainya untuk keperluan penyusunan buku Islam ala Prabowo tersebut.
Terlebih, proses wawancara dilakukan sebelum dirinya dilantik menjadi Menko Kumham Imipas.
Meski demikian, Yusril menilai tidak ada persoalan dengan isi buku tersebut.
Politikus Partai Bulan Bintang itu menyebut bagian isi buku yang bersumber dari wawancara dengannya dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik,” jelas Yusril.
Yusril berharap publik dapat melihat buku Islam Ala Prabowo secara utuh tanpa dipengaruhi persepsi atas judul.
Menurutnya, banyak orang cenderung membaca judul sebagai representasi keseluruhan buku.
“Saya kira kita perlu membiasakan diri membaca dan memahami substansinya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian."
"Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai judul, sementara isi bukunya sendiri belum pernah dibaca dengan saksama," imbuhnya.
(Farid Mukarrom/Tribunmataraman.com)