TRIBUNSUMSEL.COM - Sedekah merupakan salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan dalam Islam.
Selain menjadi bentuk kepedulian kepada sesama, sedekah juga dipercaya sebagai salah satu ikhtiar seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan, termasuk ketika sedang sakit.
Salah satu ungkapan yang cukup populer adalah dari hadits Nabi Muhammad SAW.
“Dawu mardakum bish shadaqah” atau sering ditulis “Dawu mardakum bish shadaqah”.
Ungkapan tersebut berarti:
“Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”
Lantas, apakah benar sedekah dapat menyembuhkan penyakit? Bagaimana kedudukan hadis tersebut dan apa makna yang terkandung di dalamnya?
Tulisan Arab Dawu Mardakum Bish Shadaqah
Ungkapan tersebut ditulis dalam bahasa Arab:
دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
Dāwū marḍākum bish-shadaqah.
Artinya:
“Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”
Hadis dengan lafaz tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalur. Salah satu riwayatnya berasal dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal dan tercantum dalam Al-Marasil karya Abu Dawud.
Dalam penilaian Al-Albani, kalimat “Dāwū marḍākum bish-shadaqah” dinilai hasan li ghairihi dalam Shahih at-Targhib.
Namun, riwayat lain dengan tambahan kalimat berbeda mendapatkan penilaian yang lebih lemah. Karena itu, status hadis ini perlu disampaikan secara hati-hati dan tidak disebut sebagai hadis sahih yang disepakati seluruh ulama.
Kalimat “Dāwū marḍākum bish-shadaqah” mengandung anjuran agar seseorang menjadikan sedekah sebagai salah satu bentuk ikhtiar ketika menghadapi penyakit.
Dalam perspektif keimanan, kesembuhan tetap berada di tangan Allah SWT. Sedekah bukanlah kekuatan yang bekerja secara mandiri untuk menyembuhkan seseorang.
Artinya, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk berobat, berdoa dan melakukan ikhtiar yang diperlukan, sembari memperbanyak amal saleh seperti sedekah.
Dengan demikian, sedekah dapat dipahami sebagai ikhtiar spiritual, bukan pengganti pengobatan medis.
Apakah Sedekah Benar-Benar Bisa Menyembuhkan Penyakit?
Dalam keyakinan Islam, Allah SWT adalah satu-satunya Zat yang memberikan kesembuhan. Allah dapat memberikan kesembuhan melalui berbagai sebab, termasuk pengobatan, doa dan amal kebaikan.
Namun, secara medis, tidak tepat mengatakan bahwa sedekah pasti menyembuhkan penyakit tertentu.
Penelitian ilmiah yang ada lebih banyak menunjukkan manfaat psikologis dan sosial dari perilaku memberi. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 14 penelitian menemukan bahwa prosocial spending, yakni membelanjakan sumber daya untuk membantu orang lain, secara konsisten berkaitan dengan peningkatan kebahagiaan, meskipun pengaruhnya dipengaruhi berbagai faktor.
Penelitian lain yang diterbitkan di Science juga menemukan bahwa orang yang menggunakan uangnya untuk orang lain mengalami tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menggunakannya untuk diri sendiri.
Artinya, ada dasar ilmiah untuk membicarakan dampak psikologis positif dari memberi, tetapi hal tersebut berbeda dengan klaim bahwa sedekah secara langsung dapat menyembuhkan penyakit secara medis.
Seseorang yang memberikan bantuan kepada orang lain dapat merasakan kepuasan karena melihat manfaat dari kebaikan yang dilakukannya.
Penelitian lintas negara juga menemukan bahwa penggunaan sumber daya untuk membantu orang lain berkaitan dengan kebahagiaan, bahkan efek tersebut ditemukan pada masyarakat dengan kondisi ekonomi dan budaya yang berbeda.
Dari sini dapat dipahami bahwa sedekah dapat memberikan dampak positif pada kondisi emosional dan kesejahteraan psikologis.
Namun, hal tersebut tidak berarti sedekah dapat menggantikan diagnosis atau terapi dokter.
Dalil Al-Qur'an tentang Sedekah
Anjuran untuk bersedekah memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
Artinya:
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”
(QS. Saba: 39)
Ayat tersebut memberikan motivasi bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidaklah sia-sia.
Allah SWT juga berfirman:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
Artinya:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak?”
(QS. Al-Baqarah: 245)
Ayat tersebut menggambarkan besarnya keutamaan memberikan harta untuk kebaikan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi salah satu dalil yang sangat kuat mengenai keutamaan sedekah.
Secara lahiriah, seseorang memang mengeluarkan sebagian hartanya. Namun dalam perspektif iman, sedekah tidak dianggap sebagai kerugian karena Allah menjanjikan pahala dan keberkahan bagi orang yang gemar bersedekah.
Sedekah juga memiliki keutamaan sebagai salah satu amal yang dapat menjadi sebab terhapusnya kesalahan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan menjadi salah satu dalil tentang keutamaan sedekah.
Karena itu, bersedekah tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial antara manusia, tetapi juga menjadi bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Ketika seseorang mengalami sakit, ada banyak bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan.
Pertama, berobat dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Kedua, berdoa memohon kesembuhan kepada Allah SWT.
Ketiga, memperbanyak amal saleh, termasuk sedekah jika memiliki kemampuan.
Keempat, tetap menjaga harapan dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Dengan demikian, seseorang yang sakit tidak perlu memilih antara pengobatan dan sedekah. Keduanya berada dalam ranah yang berbeda dan dapat dilakukan secara bersamaan.
Jangan Jadikan Sedekah sebagai Pengganti Pengobatan
Hal yang perlu ditekankan adalah sedekah bukan pengganti obat, pemeriksaan dokter atau tindakan medis yang diperlukan.
Jika seseorang mengalami gejala penyakit, sebaiknya tetap melakukan pemeriksaan dan mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya.
Sedekah dapat dilakukan sebagai amal ibadah dan bentuk ikhtiar spiritual, sementara pengobatan merupakan ikhtiar medis. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Sedekah tidak selalu harus berupa uang dalam jumlah besar.
Seorang Muslim dapat bersedekah sesuai kemampuan, misalnya:
Memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan.
Membantu biaya pengobatan orang lain.
Memberikan uang kepada fakir miskin.
Menyumbangkan kebutuhan pokok.
Membantu orang yang kesulitan.
Memberikan air minum.
Menyumbangkan Al-Qur'an atau buku yang bermanfaat.
Membantu kegiatan sosial.
Memberikan senyum dan perkataan yang baik.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa berbagai bentuk kebaikan memiliki nilai sedekah.
Sedekah Bukan Transaksi untuk Memaksa Kesembuhan
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan memahami sedekah sebagai transaksi:
“Saya memberi uang, maka Allah pasti menyembuhkan penyakit saya.”
Pemahaman seperti ini kurang tepat.
Sedekah merupakan ibadah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Kesembuhan adalah kehendak Allah.
Seseorang boleh berharap kesembuhan setelah bersedekah, tetapi tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Ketika seseorang bersedekah dalam kondisi sakit, terdapat sejumlah nilai spiritual yang dapat direnungkan.
1. Mengingat bahwa harta hanyalah titipan
Sakit dapat mengingatkan manusia bahwa kesehatan dan kekayaan bukan sesuatu yang kekal.
Sedekah menjadi bentuk kesadaran bahwa sebagian rezeki yang dimiliki sebenarnya dapat digunakan untuk membantu orang lain.
2. Melatih keikhlasan
Memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain merupakan latihan untuk mengurangi sifat kikir dan mencintai harta secara berlebihan.
3. Menumbuhkan kepedulian
Orang yang sedang mengalami kesulitan justru dapat belajar memahami kesulitan orang lain.
Sedekah mengubah rasa peduli tersebut menjadi tindakan nyata.
4. Menjaga harapan kepada Allah
Sedekah dapat menjadi bagian dari amal yang dilakukan seseorang sambil terus berdoa agar diberikan kesembuhan dan kekuatan.
Al-Qur'an mengingatkan bahwa kesembuhan berasal dari Allah SWT.
Dalam kisah Nabi Ibrahim AS disebutkan:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Artinya:
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu'ara: 80)
Ayat tersebut memberikan dasar penting bahwa manusia boleh melakukan berbagai ikhtiar, tetapi pada akhirnya Allah SWT-lah yang memberikan kesembuhan.
Karena itu, ketika sakit, seorang Muslim dapat menggabungkan beberapa ikhtiar: berobat, berdoa, memperbanyak ibadah dan bersedekah.
Semoga setiap sedekah yang diberikan menjadi amal yang diterima Allah, menjadi sebab datangnya keberkahan, ketenangan hati dan kebaikan dalam kehidupan. Aamiin.
Demikian Makna Hadits Sedekah Menyembuhkan Penyakit, Dawu Mardakum Bish Shadaqah Tulisan Arab dan Arti. Wallahualam bishawabi. (*)
Baca juga: Tema, Logo HUT ke-81 PMI Diperingati 17 September 2026 Lengkap Link Unduhan: Peduli Bergerak Bersama
Baca juga: Sejarah Hari Palang Merah Nasional HUT ke 81 PMI Diperingati 17 September 2026, Peduli Kemanusiaan
Baca juga: Mata Merah karena Kabut Asap: Penyebab, Ciri dan Cara Penanganannya, Hindari Penggunaan Soft Lens
Baca juga: 20 Prompt AI Membuat Spanduk, Poster, Banner dan Konten Medsos Sambut Hari Perhubungan Nasional 2026
Baca juga: 3 Contoh Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026, Jumat Terakhir Rabiul Awal dan Jelang Rabiul Akhir