Kasus ISPA di Sulawesi Utara Masih Fluktuatif, Dinkes Sulut Minta Warga Tetap Waspada
Isvara Savitri September 10, 2026 05:22 PM

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sulawesi Utara (Sulut) masih fluktuatif hingga minggu epidemiologi ke-35 tahun 2026.

Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan Sulut, jumlah kasus ISPA sepanjang tahun ini cukup naik turun.

Kasus tertinggi tercatat pada minggu pertama dengan 3.404 kasus.

Jumlah tersebut kemudian turun secara bertahap.

Pada minggu ke-7 tercatat 2.013 kasus dan kembali turun hingga mencapai titik terendah pada minggu ke-11 sebanyak 1.494 kasus.

Namun, kasus kembali mengalami peningkatan.

Pada minggu ke-16, jumlah kasus ISPA mencapai 2.809 kasus.

Angka tersebut menjadi puncak kedua selama periode pemantauan.

Setelah itu, kasus kembali bergerak naik turun.

Pada minggu ke-25 tercatat 2.590 kasus, sementara pada minggu ke-31 terdapat 2.363 kasus.

Direktur RSUD ODSK Sulawesi Utara Lidya Tulus
Direktur RSUD ODSK Sulawesi Utara Lidya Tulus (Petrick/Tribun Manado)

Memasuki minggu-minggu terakhir pemantauan, jumlah kasus berada di kisaran 2.100-2.300 kasus per minggu.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sulut, dr Lidya Tulus, mengatakan kondisi tersebut masih terus dipantau melalui surveilans epidemiologi.

Adanya peningkatan kasus pada beberapa minggu belum bisa langsung dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

"Kita perlu melihat berbagai indikator dan membandingkannya dengan kondisi sebelumnya," kata dr Lidya, Kamis (10/9/2026).

Penentuan KLB membutuhkan analisis berdasarkan baseline historis dan ambang kewaspadaan.

Selain itu, Dinkes Sulut juga melihat perkembangan kasus berdasarkan orang, tempat, waktu serta faktor risiko lingkungan.

"Jadi yang kita lakukan adalah pemantauan tren secara berkelanjutan. Kalau ada perubahan pola yang signifikan, tentu akan menjadi perhatian dan ditindaklanjuti," ujarnya.

Dari analisis tren mingguan, kasus ISPA di Sulut pada sebagian besar periode 2026 memang tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun 2025.

Namun, kondisi tersebut tidak terjadi secara konsisten sepanjang periode pengamatan.

Pada 2025, kasus ISPA justru mulai mengalami peningkatan yang cukup konsisten sejak sekitar minggu ke-25 hingga minggu ke-35.

Baca juga: 5 Rekomendasi Laptop Tidak Mudah Rusak dengan Daya Tahan Terbaik

Baca juga: Jordan Malalantang Meninggal Kecelakaan di Kalawat Minut saat Mencari Rezeki sebagai Ojek Online

Bahkan, pada minggu ke-35 jumlah kasus tahun 2025 tampak melampaui jumlah kasus pada 2026.

Di tengah kondisi tersebut, Dinkes Sulut juga mengingatkan masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan ISPA dalam kehidupan sehari-hari.

dr Lidya mengajak masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kebersihan lingkungan.

Masyarakat juga diingatkan untuk memperhatikan kondisi udara dan mengurangi paparan asap maupun debu yang dapat mengganggu saluran pernapasan.

"Yang paling penting adalah menjaga kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan dan menghindari paparan asap atau debu yang berlebihan. Kalau sedang sakit, sebaiknya juga menggunakan masker agar tidak menularkan kepada orang lain," kata dr Lidya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala ISPA, terutama jika keluhan berlangsung atau semakin berat.

"Kalau ada gejala seperti batuk, pilek, demam atau gangguan pernapasan dan kondisinya tidak membaik, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan," ujarnya.

Menurut dr Lidya, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit, selain pemantauan kasus yang dilakukan pemerintah.

"Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada. Kita bersama-sama menjaga kesehatan dan segera mencari pertolongan apabila ada keluhan yang membutuhkan pemeriksaan," katanya.

Dinkes Sulut akan terus memantau perkembangan kasus ISPA dari minggu ke minggu untuk memastikan apabila terjadi perubahan tren yang memerlukan perhatian lebih lanjut.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.