Sosok Luvidi, Raih Medali 2 Kali Berturut-turut di Olimpiade AI Dunia
GH News September 10, 2026 06:08 PM
Jakarta -

Pemrograman adalah bidang yang cukup asing bagi siswa SD sebelum mata pelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) diterapkan. Namun, bidang tersebutlah yang Luvidi Pranawa Alghari gemari sejak SD.

Kegemarannya terhadap dunia pemprograman dan matematika mengantarkan Luvidi meraih medali di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI).

Luvidi adalah siswa kelas 11 SMAS Privadi Beji, Depok, Jawa Barat. Tak tanggung-tanggung, medali peraklah yang berhasil ia sabet pada IOAI 2025.

Bagaimana perjalanan sosok Luvidi sampai bisa meraih prestasi gemilang tersebut?

Mulai dari Senang Ikut Lomba Matematika

Perjalanan Luvidi dimulai sejak jenjang sekolah dasar. Saat itu, ia sudah gemar matematika dan senang ikut lomba.

"Dari SD, saya suka ikut lomba matematika. Tahun 2023, saya ikut OSN SMP cabang ajang matematika dan mendapat medali perak," katanya dikutip dari laman Kemendikdasmen pada Kamis (10/9/2026).

Ambisi Luvidi tak pernah berhenti. Ia melanjutkan perjuangannya hingga ke Olimpiade Sains Nasional (OSN).

"Tahun 2024, saya mendapat medali emas OSN cabang ajang informatika. Lalu, saya ikut seleksi untuk delegasi IOAI 2025. Saya lolos dan mendapat medali perak di Beijing. Awal tahun 2026 ini, saya diundang untuk ikut seleksi IOAI 2026 dan mendapat medali emas di Astana, Kazakshtan," tutur Luvidi.

Raih Medali 2 Kali Berturut di Olimpiade Dunia

Setelah berhasil meraih medali perak di IOAI 2025, Luvidi kembali mewakili Indonesia dalam ajang olimpiade yang sama pada tahun 2026. Bahkan, ia kini meraih medali emas di IOAI 2026.

Luvidi dan peserta IOAI perwakilan Indonesia sama-sama menjalani pelatihan intensif dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Selama pelatihan, Luvidi mengaku banyak belajar hal baru soal AI.

Kini, tak hanya pemrograman dan matematika, Luvidi bidang yang Luvidi gemari sudah bertambah dengan AI.

"Karena awalnya saya tertarik pada matematika dan pemrograman, jadi saya mencoba ikut seleksi IOAI. Di sana, saya belajar lebih banyak tentang kecerdasan artifisial dan saya tertarik," ujarnya.

Kendala Menuju IOAI: Kurang Bahan Latihan

Meski sudah mengikuti ajang yang sama pada tahun lalu, Luvidi masih merasa bahwa materi dan soal latihan untuk persiapan olimpiade AI masih minim jika dibandingkan dengan olimpiade lainnya.

Oleh karena itu, ia menyiasatinya dengan belajar mandiri secara rutin tiap hari. Selain itu, ia juga bergabung dengan komunitas pecinta AI dengan anggota dari berbagai negara.

"Usahakan rutin belajar hampir setiap hari atau saat ada waktu luang. Saya juga ikut beberapa komunitas olimpiade kecerdasan artifisial yang anggotanya dari berbagai negara," katanya.

Luvidi juga dibantu oleh beberapa dosen yang menjadi pembinanya. Sejak jadi delegasi IOAI Indonesia, Luvidi juga menjadi punya banyak teman sesama delegasi lainnya.

"Saat mengikuti pembinaan, saya bertemu banyak teman dengan ketertarikan yang serupa. Selain itu, banyak diajarkan oleh para ahli di bidangnya," ungkapnya.

Menurut Luvidi, pencapaiannya ini adalah buah dari hasil kerja sama dari berbagai pihak yakni guru, pembina, dan teman-teman. Ia mengajak siswa-siswa di luar sana supaya bersemangat juga dalam berkompetisi.

"Isi waktu dengan kegiatan positif dan jangan mudah menyerah," pesan Luvidi.

Cicin Yulianti
Jurnalis detikcom. Lulusan Jurnalistik Unpad, di detikcom sejak 2022. Spesialis menulis topik pendidikan, kampus, sekolah, beasiswa, riset, dan kehidupan pelajar/mahasiswa.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.