Oleh : KH. Anis Maftukhin
Pegiat Literasi Islam dan Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang Kab Semarang
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Saya masih ingat betul hari-hari kami di Kairo puluhan tahun silam. Di sela-sela rutinitas kuliah di Kampus Al-Azhar dan ngopi di kawasan Rab’ah al-Adawiyah, hiruk-pikuk Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Mesir selalu diwarnai oleh satu sosok sentral: Imam Jazuli.
Sebagai kawan karib, saya hafal betul tabiatnya. Kang Imjaz—begitu kami dulu sering memanggilnya—adalah tipikal orang yang das-des, sat-set. Kalau dia sudah punya kemauan atau keinginan, apa pun hambatannya, pantang baginya pulang sebelum tembus. Di KMNU, dia bukan sekadar kawan syawir (diskusi) yang asyik, tapi juga seorang muharrik (penggerak) sekaligus leader (za’im) yang sangat mengayomi. Meski begitu, jangan salah, kalau ada kawan yang mulai lelet, jumud, atau asal-asalan, tegurannya bisa sangat keras dan tajam. Persis seperti sabetan rotan kiai saat santrinya ketahuan mbolos jamaah subuh.
Watak leader yang das-des, keras, tajam, tapi penuh mahabbah (cinta) itulah yang saya temukan tumpah ruah dalam buku terbarunya, "NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan." Membaca buku setebal 148 halaman PT. Damai Banawa Semesta ini rasanya seperti sedang disidang oleh Kang Imjaz di sebuah forum rapat majlis tahkim (mahkamah organisasi); kita dicecar, dijewer, tapi pada akhirnya diajak mikir bareng demi kemaslahatan jam’iyyah.
Mari kita bedah kitab otokritik ini. Pertama, soal tatanan jam’iyyah. Kang Imjaz menyorot tajam penyakit kronis NU yang sering kali meritokrasinya rontok oleh urusan patronase. Gus ini anak kiai itu, lantas mulus jadi pengurus. Atau, bekas tim sukses Muktamar yang mendadak diberi maqam tinggi. Beliau gregetan melihat ini. NU butuh tata kelola yang value-centered, butuh ahliyah (kompetensi), bukan sekadar modal nasab atau asal bisa sami'na wa atha'na membabi-buta yang justru mematikan nalar kritis.
Kedua , soal kurikulum pesantren. Nah, di sini Kang Jazuli melakukan dekonstruksi "Santri Ideal" dengan sangat mbeling. Beliau menggugat definisi tafaqquh fiddin yang selama ini mandek sebatas mendaras Fathul Mu'in atau Alfiyah Ibn Malik hanya untuk mencetak ustadz panggung. Zaman wis akhir, kata beliau. Umat sekarang butuh teknokrat, dokter, insinyur AI, yang otaknya sekelas Silicon Valley tapi hatinya tetap tawadhu ala santri salaf. Ratusan Perguruan Tinggi NU (PTNU) ditantang untuk melakukan "radikalisasi kurikulum" sains. Jangan sampai kampus NU cuma jadi ma'had abal-abal pencetak ijazah.
Ketiga , ini sentilan yang paling pedas: Kedaulatan Data dan Dakwah Digital. Kang Imjaz mengajak kita berhenti menderita "halusinasi statistik". Ke mana-mana pengurus bangga mengklaim seratus juta jamaah, tapi saat ditanya database riilnya: zonk. NU butuh sensus bottom-up, membangun Big Data mandiri.
Lalu soal dakwah. Kiai kita ini menertawakan kecenderungan warga NU yang masih terjebak euforia pengajian akbar. Anggaran miliaran habis untuk sewa sound system raksasa dan terop, sisa acaranya cuma tabarrukan (mencari berkah) berhadiah nasi kotak, padahal esok harinya jamaah tetap miskin dan pusing bayar SPP anak. Kang Imjaz minta kita hijrah dari dakwah seremonial ke dakwah empowerment (pemberdayaan), seperti bikin klinik BPJS di tiap kecamatan.
Belum lagi di dunia maya, NU tertinggal jauh. Maka, mencetak "Ulama Digital" adalah fardhu kifayah agar wasathiyah Islam tak tenggelam oleh algoritma kelompok tasyaddud (ekstrem).
Keempat , pilar ekoteologi. Krisis iklim adalah ujian iman abad ini. Pesantren harus turun tangan menjaga kelestarian bumi (hifdzul bi'ah). Ide beliau cukup menggelitik: santri yang melanggar aturan jangan cuma di-ta'zir cukur gundul atau nguras jeding (kamar mandi), tapi suruh tanam pohon!
Terakhir, ini punchline paling berani: Otokritik Nasab vs Nasib. Di saat dunia luar sudah ribut mau bikin koloni di planet Mars, warga kita di lapak-lapak warung kopi masih gontok-gontokan soal siapa silsilah yang paling nyambung ke Kanjeng Nabi. Kang Imjaz—dengan gayanya yang khas tanpa tedeng aling-aling—minta kita setop memuja-muja nasab. Sudahlah, mending perbaiki nasib umat yang masih melarat. Kasta karya harus berani menggantikan kasta darah!
Sebagai karya jurnalisme intelektual dari seorang kiai muda, buku ini sungguh patut diacungi jempol. Kang Imjaz sukses membredel pantangan-pantangan kultural yang bikin NU selama ini jalan di tempat. Bahasanya cair, seakan mengajak kita ngopi bareng usai jamaah shalat Isya.
Lalu, gagasan besarnya seperti sentralisasi ratusan kampus NU tentu butuh ijtihad finansial dan istinbath hukum yang sangat njelimet. Tidak bisa sekadar kun fayakun bermodal instruksi PBNU.
Pada akhirnya, NU Abad Kedua adalah tamparan sayang dari seorang santri yang tangannya tak rela melihat perahu besarnya oleng dihantam gelombang zaman. Bagi jajaran Syuriyah maupun Tanfidziyah PBNU, para pengasuh pesantren, hingga santri milenial yang mulai gelisah dengan kejumudan, buku ini hukumnya fardhu ain untuk di-muthala'ah (dikaji). Sebab kita sama-sama tahu, teguran yang paling menusuk itu justru datang dari sahabat yang paling tidak rela melihat kita tertinggal. Wallahu a'lam bish-shawab.
Baca juga: Pengusaha Nahdliyin Ingatkan Pengurus Baru PBNU: Jangan Sibuk Politik Elite, Fokus Ekonomi Warga!
Baca juga: Ada Prabowo di Penutupan Muktamar NU, Gus Kikin Tegaskan Sikap PBNU: Bukan untuk Berpolitik
Baca juga: Sosok Gus Kikin Ketua PBNU Periode 2026-2031: Cicit dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari