Ustaz Habibi Ingatkan Wasiat Malikussaleh pada Milad Samudera Pasai ke-800 di Lhoksukon
Faisal Zamzami September 10, 2026 07:23 PM

 

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Wasiat Sultan Malikussaleh menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Ustaz Habibi dalam ceramah pada rangkaian Milad ke-800 Aceh Utara/Samudera Pasai yang diadakan di Pelataran Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu (9/9/2026) malam.

Tausiah dai muda yang menjuarai Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026 di Indosiar tersebut dihadiri ribuan warga.

Dalam tausiahnya,  Alumnus Dayah Darul Huda Lueng Angen Kecamatan Langkahan Aceh mengingatkan masyarakat dan para pemimpin agar menjaga persatuan, keadilan, akhlak, serta semangat keilmuan yang menjadi bagian dari warisan Kesultanan Samudera Pasai.

Menurutnya, peringatan 800 tahun Samudera Pasai tidak semestinya hanya menjadi perayaan sejarah, tetapi harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Pesan tersebut terutama ditujukan kepada para pemimpin agar tidak terjebak dalam perebutan kekuasaan yang dapat memecah belah masyarakat.

“Raja yang adil adalah amanah dari Raja Malikussaleh. Para pemimpin, pejabat, dan tokoh adat tidak boleh membiarkan terjadinya pertengkaran dan perpecahan. Jangan sampai para pemimpin saling berebut kekuasaan sehingga merugikan rakyat,” ujar Ustaz Habibi di hadapan ribuan jamaah.

Baca juga: Ustaz Habibi Ungkap Kisah Ibnu Batutah ke Samudera Pasai Saat Isi Tausiah Milad Aceh Utara

Ia menegaskan, pemimpin harus berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan golongan maupun kelompok. Masyarakat, kata dia, juga memiliki tanggung jawab menjaga persatuan dan loyalitas kepada pemimpin selama berada di jalan yang benar.

Ustaz Habibi juga menyampaikan kekagumannya terhadap pelaksanaan Milad Samudera Pasai ke-800 yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

Ia menilai peringatan tersebut menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali sejarah kejayaan Islam di Nusantara sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

“Ini pertama kalinya dalam sejarah Aceh Utara menggelar acara semegah ini, dan ini berkat Bupati Ayah Wa,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya mengajak masyarakat mencintai sejarah, menjaga syariat Islam, serta membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai agama.

Samudera Pasai, lanjutnya, memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, peringatan 800 tahun harus menjadi kesempatan untuk membangkitkan kembali semangat keilmuan, akhlak dan persatuan umat.

“Kalau dahulu Samudera Pasai mampu melahirkan orang-orang besar dan menjadi pusat ilmu serta peradaban, maka hari ini tugas kita adalah melanjutkan warisan itu. Jangan hanya bangga dengan sejarah, tetapi mari kita hidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu,” pesannya.

Dalam tausiah yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, Ustaz Habibi juga mengisahkan perjalanan penjelajah Muslim Ibnu Battutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada abad ke-14.

Ia menggambarkan bagaimana masyarakat Pasai ketika itu memiliki tata krama dalam menerima tamu serta kehidupan keagamaan yang kuat.

Ibnu Battutah disebut mendapat sambutan penuh penghormatan sebelum bertemu dengan Sultan Al-Malik Al-Zahir. Ia juga mengisahkan sang sultan yang berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan Salat Jumat serta mengikuti majelis ilmu bersama para ulama.

Bagi Ustaz Habibi, kisah tersebut menunjukkan bahwa Samudera Pasai tidak hanya memiliki kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga berkembang sebagai pusat ilmu dan peradaban Islam.

“Jangan kita katakan bahwa kita bangsa yang tidak beradab. Jangan kita katakan bahwa kita tidak punya sejarah dan tidak punya peradaban. Kita mengerti tata krama, kita mengerti sopan santun, kita mengerti bagaimana menyambut dan memuliakan tamu,” tegasnya.

Ia juga menyinggung sosok Fatahillah yang memiliki keterkaitan dengan Samudera Pasai dan berperan dalam sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa. Hal tersebut, menurutnya, menjadi salah satu gambaran luasnya pengaruh Samudera Pasai dalam perjalanan sejarah Islam di Nusantara.

Baca juga: Dari Dike Jadi Seni Poh Kipah, Tangkulok Pase Hentak Panggung Milad ke-800 Tahun Aceh Utara

Ribuan Warga Hadiri Tausiah

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM., atau Ayah Wa, Sekretaris Daerah Aceh Utara Dayan Albar, S.Sos., MAP., unsur Forkopimda, ulama, tokoh adat serta sejumlah pejabat daerah.

Masyarakat mulai berdatangan sejak sore hari. Area utama kegiatan hingga tenda yang disediakan panitia dipenuhi jamaah yang ingin mengikuti tausiah dan rangkaian peringatan Milad Samudera Pasai ke-800.

Tingginya antusiasme masyarakat juga menyebabkan arus lalu lintas di ruas jalan nasional sekitar kawasan Landing mengalami kepadatan. Meski demikian, kegiatan berlangsung tertib dan lancar dengan pengamanan aparat gabungan.

Peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat”, yang menjadi refleksi untuk menjaga warisan sejarah, adat istiadat dan nilai-nilai Islam yang berkembang sejak masa Kesultanan Samudera Pasai. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.