TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil menilai, rencana proyek geotermal Gunung Ungaran bakal memicu kerusakan hutan.
Juru Kampanye Bioenergi Trend Asia, Bayu Maulana Putra menyebut, geotermal bisa memicu kerusakan hutan karena proyek geotermal bisa dengan mudah merambah kawasan hutan konservasi.
Baca juga: Menjawab Kekhawatiran Warga, Ini Pernyataan PLN soal Rencana Pengembangan PLTP Gunung Ungaran
Mudahnya proyek ini masuk ke hutan karena statusnya diubah dari kategori usaha pertambangan menjadi pemanfaatan jasa lingkungan.
Maka maka dari itu, pihaknya melihat proyek geotermal alih-alih menjadi solusi justru memperparah proses kerusakan hutan.
"Geotermal memperparah kondisi kerusakan hutan di tengah kondisi hutan di Jawa saat ini mengalami degradasi yang sangat parah," ujar Bayu kepada Tribun, Kamis (10/9/2026).
Menurut Bayu, proyek geotermal tidak jauh berbeda dengan proyek Co-firing Biomassa yang diprediksi melahap 70 ribu hektare hutan di pulau Jawa. Untuk konteks Jateng, luasan hutan tersebut bakal mencapai ribuan hektare.
Kondisi itu, lanjut dia, turut memperparah krisis sosial di masyarakat sekitar hutan.
"Membicarakan hutan tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial, karena masyarakat selama ini menggantungkan hidup dari kawasan-kawasan hutan," tuturnya.
Sementara, Staf Penanganan Kasus Divisi Pendamping Hukum Rakyat pada Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa) Wahidul Halim menyoroti proyek geotermal di Jateng yang terjadi anomali yakni rencana geotermal proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden.
Kawasan itu merupakan Taman Nasional yang sangat erat kaitannya dengan upaya menjaga ekosistem di dalamnya justru proyek geotermal bisa mudah masuk melakukan eksplorasi. Sebaliknya, warga akhirnya tidak bisa melakukan penolakan secara langsung.
"Tidak ada pembenaran karena status Taman Nasional untuk menjaga kawasan itu, sementara panas bumi itu adalah proyek yang menggunakan metode ekstraksi yang berdampak pada lingkungan di antara rakus air," terangnya.
Baca juga: Gubernur Jateng Menyoal Proyek Geothermal Gunung Ungaran: Tidak Akan Menyengsarakan Rakyat
Direktur LBH Semarang, Ahmad Syamsuddin Arief mengatakan, proyek geotermal di Gunung Ungaran justru menimbulkan konflik horisontal di masyarakat.
Hal itu dipicu karena kurangnya informasi yang diperoleh oleh masyarakat.
Masyarakat juga tidak mengetahui potensi kerugian dari proyek itu.
"Masyarakat takut terkait ancaman kerusakan mata air dan merusak situs budaya seperti Gedong Songo," tandasnya. (Iwn)