PESAN Terakhir Heriyanto Pemandu 5 Jurnalis Sebelum Hilang Kontak, Sang Istri Pilu: Semoga Selamat
Septrina Ayu Simanjorang September 10, 2026 06:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Inilah pesan terakhir Heriyanto, pemandu 5 jurnalis sebelum hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten sejak Senin (7/9/2026).

Sang istri pilu berharap sang suami bisa ditemukan dalam kondisi selamat.

Evi, istri Heriyanto (49) mengatakan suaminya mengirimkan foto kondisi terkini Gunung Anak Krakatau.

Baca juga: Dua Pengedar Narkoba di Tanjung Morawa Ditangkap, Polisi Amankan 15 Klip Diduga Berisi Sabusabu

Foto tersebut dikirim beberapa jam setelah bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita.

Rombongan menggunakan speedboat Arupadhatu 1 sekitar pukul 14.00 WIB.

Adapun sebuah foto erupsi Gunung Anak Krakatau yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp pada pukul 18.13 WIB menjadi pesan sekaligus komunikasi terakhir dari Heriyanto. 

"Dia kirim foto, jam 18.13, saya balas lagi jam 19.35 WIB pesan cuma ceklis satu, gak ada komunikasi lagi sampai sekarang," kata Evi saat mendatangi Posko SAR Terpadu Marina Carita, Rabu (9/9/2026) menanti kabar suaminya. 

Baca juga: Harga Bahan Pokok di Siantar, Cabai Merah Rp 58 Ribu per Kilogram dan Berikut Daftar Harganya

Evi menjelaskan, suaminya sempat berpesan sebelum berangkat bahwa perjalanan meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau tersebut hanya berlangsung sehari tanpa ada rencana menginap.

Rombongan awalnya diperkirakan sudah kembali ke daratan pada sore hari.

Namun hingga malam tiba, rombongan tidak kunjung pulang dan hilang kontak.

Evi mengenang kebiasaan suaminya yang selalu rutin memberi kabar selama bertahun-tahun bekerja di laut.

Baca juga: Alasan Sejumlah Pejabat di Pemkab Langkat Serentak Mengundurkan Diri, Terbaru 2 Kabag

Selain foto erupsi tersebut, tidak ada informasi lain mengenai posisi maupun kondisi rombongan.

Evi menambahkan, rombongan hanya membawa bekal sederhana untuk perjalanan singkat tersebut.

"Menunya bawa air mineral satu dus, lunch box lima, dan semangka satu biji. Sudah, bawa itu doang," ujar Evi.

Sikap tak Biasa Heriyanto

Evi menceritakan bahwa suaminya memang sudah terbiasa mengantar wisatawan maupun tamu khusus ke area laut tersebut. 

Pada perjalanan-perjalanan sebelumnya, Heriyanto bahkan pernah menginap di kawasan Krakatau, namun komunikasi selalu terjalin lancar karena tersedianya sinyal seluler.

Baca juga: Dana Kelurahan Dimanfaatkan Bangun Jalan Rusak yang Dikeluhkan Warga Gang Saudara Medan

Kondisi berbeda terjadi dalam pelayaran kali ini. Kontak terakhir yang diterima Evi dari sang suami terjadi pada Senin sore sekitar pukul 18.13 WIB. 

Saat itu, Heriyanto tidak memberikan pesan suara maupun tulisan, melainkan hanya mengunggah sebuah gambar.

"Dia cuma kirim gambar aja. Gambar Gunung Anak Krakatau," kata Evi.

Sikap diam Heriyanto setelah mengirimkan foto tersebut membuat Evi merasa heran sekaligus khawatir. 

Pasalnya, selama puluhan tahun bekerja di laut, sang suami selalu memiliki kebiasaan untuk memberi kabar secara berkala kepada keluarga di rumah, baik saat baru menginjakan kaki di lokasi tujuan maupun saat hendak bertolak pulang.

"Selalu ngabarin sudah sampai, mau pulang selalu ngabarin," tuturnya.

Baca juga: RDP Penggusuran Bioskop Ria, PT AIJ Bertanggungjawab Atas Kerugian Bangunan Warga Kota Binjai

Kehilangan kontak yang berlangsung hingga berhari-hari ini berdampak besar pada kondisi fisik dan mental Evi. 

Ia mengaku tidak bisa tidur tenang lantaran terus memikirkan nasib suaminya di tengah laut. 

Meski demikian, Evi berusaha tegar dan menggantungkan harapan pada proses pencarian yang sedang berlangsung.

"Khawatir, cuma bismillah aja lah. Semoga selamat, ketemu. Pasrah, ikhlas," ucapnya.

Di tengah situasi sulit tersebut, Evi menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada tim SAR gabungan yang terus berjuang menyisir perairan Selat Sunda.

"Enggak bisa tidur. Semoga ketemu. Selamat. Dari pihak Tim SAR Basarnas juga sudah bekerja keras, upaya untuk mencari. Mudah-mudahan ketemu lagi sih, selamat," katanya.

Hari Kedua Pencarian Masih Nihil

Hingga Rabu (9/9/2026) pukul 15.30 WIB, Tim SAR gabungan belum menemukan keberadaan delapan orang yang berada di atas speedboat tersebut.

Kedelapan orang tersebut dilaporkan hilang kontak saat hendak melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), Senin (7/9/2026).

Delapan orang tersebut terdiri dari lima jurnalis, dua Anak Buah Kapal (ABK), serta satu guide atau pemandu.

Kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas, jurnalis Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Baca juga: KONI Gunungsitoli Siapkan 43 Atlet di Porprov Sumut 2026, Targetkan 3 Medali Emas

Sementara tiga ABK  yakni Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, Heriyanto (49) selaku guidel.

(*/Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.