Hasil Lab Ungkap Biang Keracunan MBG di Sleman: Menu Bola-Bola Ayam Positif Bakteri Bacillus Cereus
Yoseph Hary W September 10, 2026 07:03 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemicu kejadian luar biasa, gejala keracunan yang dialami ratusan siswa di Kapanewon Sleman setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin, 31 Agustus 2026 lalu, mulai menemui titik terang.

Hasil lab: positif bakteri Bacillus cereus 

Uji laboratorium mendapati hasil positif bakteri Bacillus cereus pada sampel bola-bola ayam saus mentai. 

"Pemeriksaan laboratorium terbaru menemukan Bacillus cereus positif pada sampel bola-bola ayam saus mentai," Kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Khamidah Yuliati, Kamis (10/9/2026). 

Temuan mikrobiologis tersebut, kata Yuli, sejalan dengan hasil analisis epidemiologi lanjutan yang menunjukkan bahwa menu bola-bola ayam saus mentai memiliki asosiasi paling kuat dengan timbulnya gejala sakit pada para korban.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa temuan ini masih menjadi bagian dari rangkaian proses investigasi yang komprehensif. Pihaknya akan terus mengorelasikan hasil laboratorium tersebut dengan penyelidikan epidemiologi di lapangan serta penelusuran rantai makanan (food chain) guna memastikan hubungan sebab-akibat serta mengidentifikasi titik kontaminasi.

"Hasil tersebut masih menjadi bagian dari proses investigasi dan akan dikorelasikan dengan hasil penyelidikan epidemiologi serta penelusuran food chain untuk memastikan hubungan dan titik kontaminasi," ujarnya. 

Hasil pendataan: 389 orang mengalami keluhan kesehatan

Adapun berdasarkan data pemutakhiran per 6 September 2026 pukul 20.00 WIB, jangkauan pendataan semakin luas. Dalam kasus ini, jumlah terdata sebanyak 2.033 responden, dengan 1.627 orang di antaranya mengonsumsi MBG dan 389 orang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. 

Yuli menyebutkan, gejala yang paling banyak dilaporkan oleh para penerima manfaat masih didominasi oleh keluhan sakit perut dan diare. Dari jumlah warga yang mengalami gejala tersebut, tidak ada pasien yang harus menjalani perawatan inap atau opname, sementara 20 orang tercatat sempat menjalani pengobatan rawat jalan.

Saat ini, sebagai langkah mitigasi dan bentuk kehati-hatian, produksi serta distribusi MBG dari SPPG Sleman Pandowoharjo masih dihentikan sementara waktu. Kebijakan ini diberlakukan sepanjang proses investigasi dan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan pangan berlangsung.

Pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten Sleman dan instansi lintas sektor terkait, akan terus memastikan penanganan dan pemantauan kondisi kesehatan para penerima manfaat, termasuk memberi evaluasi. 

"Perkembangan penanganan selanjutnya akan disampaikan secara berkala berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah terverifikasi," kata dia. 

Sumber bakteri dan sanksi bagi SPPG

Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko sebelumnya mengungkapkan, ketika terdapat dugaan kejadian gejala keracunan, pasti akan ada evaluasi, terutama berkaitan dengan temuan - temuan yang dapat diduga menjadi faktor penyebab serta juga disertai pembuktiannya melalui penyelidikan epidemiologi dan pengujian laboratorium sample makanan yang diamankan oleh Puskesmas dan Dinas kesehatan. Apakah dugaan itu bersumber dari paket makanan yang di produksi oleh SPPG atau sumber lain.

Adapun soal sanksi diberikan oleh Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN.  

"Tentu ada sesuai kebijakan sanksi yang diterapkan oleh Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan BGN. (Kalau) untuk pembiayaan pengobatan bagi yang diduga terdampak dapat melaporkan diri ke SPPG," ujarnya.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.