Dokter Hewan Alfan Mehan Ditembak KKB Papua, 3 ASN Gugur saat Salurkan Bantuan, Ini Kronologinya
Rusaidah September 10, 2026 07:22 PM

 

POSBELITUNG.CO -- Tiga aparatur sipil negara (ASN) dikabarkan gugur saat penembakan KKB Papua, Rabu (9/9/2026) petang.

Ketiganya merupakan pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya.

Yakni: 

  • drh Alfan Mehan (34), dokter hewan.
  • Aprida Rafi (49), Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya 
  • Wili Mbuik (24), ASN.

Sang dokter ditembak di Kampung Muliama, Distrik Muliama saat sedang menyalurkan bantuan untuk masyarakat.

Ia diketahui berada dalam rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang saat itu sedang menjalankan tugas di wilayah tersebut.

Baca juga: Siasat Licik Rendi Tewaskan Rani dan Ayuhana Kakak Beradik 5 Tahun Lalu, Nginap di Rumah Kosong

Rombongan tersebut diketahui tengah melakukan penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat Kampung Muliama.

Alfan dilaporkan mengalami luka tembak di bagian belakang kepala dan tangan kiri. 

Ia meninggal dunia di lokasi kejadian.

Aprida Rafi juga ditemukan meninggal di tempat akibat luka tembak pada bagian perut.

Sedangkan Wili Mbuik mengalami luka tembak di bagian pinggang kanan. 

Ia sempat mendapat pertolongan dan dibawa ke RSUD Wamena, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Kronologi Kejadian

Sebelum insiden terjadi, rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya berangkat dari Wamena untuk melihat kegiatan cetak sawah.

Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya di Provinsi Papua Pegunungan.

Saat perjalanan kembali, rombongan berjumlah 11 orang tersebut diduga dihentikan oleh kelompok bersenjata.

Petugas memperoleh informasi bahwa delapan warga asli Papua yang ikut dalam rombongan, termasuk seorang anak, diduga dipisahkan dari tiga pegawai yang disebut merupakan warga pendatang.

Tiga pegawai tersebut kemudian diduga menjadi sasaran penembakan.

Baca juga: Kronologi Hilangnya Kakak Adik 5 Tahun Lalu, Sempat Curigai Pacar Korban, Motif Pelaku Terkuak

Sementara itu, lima orang lainnya berhasil menyelamatkan diri. 

Mereka kemudian mencari perlindungan di Puskesmas Muliama.

Muliama merupakan distrik di Kabupaten Jayawijaya yang berada di wilayah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.780 meter di atas permukaan laut.

Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Adarma Sinaga, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada petugas keamanan. Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz bersama Polres Jayawijaya akan mengusut tuntas aksi penembakan ini dan berupaya semaksimal mungkin mengungkap serta menangkap para pelaku sesuai dengan ketentuan hukum," tuturnya.

Sosok drh Alfan Mehan

Alfan Mehan diketahui berasal dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pria berusia 34 tahun itu menjalankan tugas sebagai dokter hewan di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Hingga kini, informasi mengenai keluarga, kehidupan pribadi, maupun tempat tinggal Alfan belum diungkap secara lengkap oleh pihak berwenang.

Kabar meninggalnya Alfan juga mendapat perhatian dari kalangan profesi dokter hewan.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, drh Mirjawal MM, menyampaikan rasa duka atas kepergian Alfan dan dua pegawai lainnya.

Mirjawal menyebut gugurnya Alfan ketika menjalankan tugas merupakan kehilangan bagi profesi dokter hewan di Indonesia.

Menurutnya, dokter hewan yang bekerja di lapangan, terlebih di wilayah dengan medan geografis serta situasi keamanan yang menantang, memiliki tanggung jawab sekaligus risiko besar.

Selain menangani kesehatan hewan, keberadaan mereka juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, produksi peternakan, ketahanan pangan, serta pelayanan kepada warga di daerah yang sulit dijangkau.

"drh. Alfan Mehan gugur bukan ketika meninggalkan tugasnya, tetapi justru ketika sedang menjalankan pengabdian. Di balik pelayanan peternakan dan kesehatan hewan sampai ke pelosok, ada dokter hewan dan petugas lapangan yang meninggalkan keluarga, menempuh medan yang tidak mudah, dan menghadapi berbagai risiko agar pelayanan negara tetap hadir bagi masyarakat," katanya.

Baca juga: Sosok Rani dan Ayuhana Kakak Adik, Hilang 5 Tahun Lalu Ternyata Dihabisi Pacar, Pelaku Ikut Yasinan

Mirjawal menambahkan, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan para dokter hewan yang bertugas di lapangan juga perlu mendapat perhatian.

Ia menilai perlindungan bagi profesi dokter hewan bukan hanya terkait kesejahteraan dan kepastian hukum, tetapi juga jaminan keselamatan saat menjalankan pelayanan untuk masyarakat dan negara.

"Hari ini keluarga besar dokter hewan Indonesia berduka. Kita kehilangan seorang sejawat yang memilih hadir dan bekerja untuk masyarakat hingga akhir pengabdiannya. Semoga pengabdian drh. Alfan Mehan menjadi amal kebaikan dan tidak pernah dilupakan oleh profesi maupun negara," kata Mirjawal.

"Selamat jalan, sejawat drh. Alfan Mehan. Pengabdianmu untuk masyarakat dan profesi akan selalu kami kenang," ujarnya.

Kompol Hendrik Diminta Tolong Korban Penembakan KKB Papua

Kapolres Lanny Jaya Kompol Hendrik Seru diadang dan dimintai tolong oleh delapan korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.

Peristiwa ini terjadi di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan pada Rabu (9/9/2026).

Delapan orang tersebut merupakan korban selamat, sementara tiga lainnya tewas ditembak.

Adapun identitas korban tewas adalah  dokter hewan Alfan Mehan, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya Aprida Rafi (49), dan ASN di Dinas Pertanian Wili Mbuik  (24). 

Para korban merupakan rombongan Dinas Pertanian Jayawijaya.

Mereka ditembak saat hendak menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

KOMPOL HENDRIK
KOMPOL HENDRIK -- Kapolres Lanny Jaya Kompol Hendrik Seru diadang dan dimintai tolong oleh delapan korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. (TribunPapua/Ist)

Saat Kompol Hendrik Seru tengah melintas di kawasan Kampung Muliama bersama jajarannya menuju Wamena dalam agenda sambang kamtibmas presisi, ia diadang oleh 8 korban selamat.

"Kami mendapat laporan dari delapan warga yang berhasil selamat bahwa rekan mereka menjadi korban penembakan dan membutuhkan pertolongan medis segera," ujar Hendrik melalui keterangan tertulis yang diterima Tribun-Papua.com, Kamis (10/9/2026).

Baca juga: Harga HP Samsung A07, A27 5G, A57 5G, S25 FE Terbaru September 2026 Mulai Rp2 Jutaan - Rp15 Jutaan

Mendapat laporan tersebut, personel kepolisian langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sebelum melakukan evakuasi, petugas terlebih dahulu melakukan sterilisasi area untuk mengantisipasi potensi serangan susulan.

Setelah situasi dinyatakan aman, seluruh korban langsung dilarikan ke RSUD Wamena untuk mendapatkan perawatan medis intensif.

"Keselamatan masyarakat dan personel adalah prioritas utama. Kami tidak ingin mengambil risiko, sehingga setelah dipastikan aman, korban langsung kami evakuasi," kata Hendrik.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengusut pelaku dan motif di balik aksi penembakan tersebut.

Untuk menjaga kondusivitas wilayah, Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satruya Bimantara juga telah berkoordinasi dengan aparat TNI setempat untuk memperketat pengamanan di Distrik Muliama dan sekitarnya.

Polda Papua mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi di media sosial.

"Apabila mengetahui adanya informasi berkaitan dengan gangguan keamanan, segera sampaikan kepada aparat terdekat agar dapat ditangani secara cepat dan tepat," ujar Cahyo.

TPNPB Klaim Terlibat dalam Penembakan

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) - Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap III Ndugama Darakma menyatakan klaim bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.

Pernyataan tersebut disampaikan Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB melalui juru bicara mereka, Sebby Sambom, dalam keterangan tertulis kepada Tribun-Papua.com pada Rabu malam.

Dalam keterangannya, kelompok tersebut menuding ketiga korban yang berstatus ASN sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia.

"Kami bertanggung jawab atas penembakan tiga orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya," ujar Sebby.

Baca juga: Inilah Tampang Terduga Pembunuh Mozza, Gadis Dilapor Hilang Setahun Lalu, Kenalan Lewat TikTok

TPNPB juga menyampaikan versi mereka mengenai kronologi kejadian.

Mereka mengklaim kendaraan yang membawa rombongan dihentikan di Jalan Trans Wamena–Tiom. Seluruh penumpang disebut diminta tetap berada di dalam kendaraan untuk menjalani pemeriksaan.

Kelompok tersebut kemudian mengeklaim tiga korban panik dan berusaha melarikan diri.

"Karena panik dan kaget ketiga korban akhirnya melarikan diri, oleh sebab itu kami tembak mati," klaim kelompok tersebut.

TPNPB menyebut penembakan dilakukan karena mereka khawatir keberadaan pasukannya akan diketahui oleh aparat keamanan.

Kelompok tersebut juga mengklaim terjadi kontak tembak dengan aparat keamanan di sekitar lokasi pada sekitar pukul 17.00 WIT.

Namun, mereka mengaku belum mengetahui apakah terdapat korban dari pihak aparat dalam kontak senjata tersebut.

Hingga kini, tudingan TPNPB mengenai status ketiga korban sebagai agen intelijen maupun versi kronologi penembakan masih berupa klaim sepihak dan belum terverifikasi secara independen.

(Tribun-Papua.com/Surya.co.id/Bangkapos.com/Posbelitung.co)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.