Keluarga korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara, melaporkan tiga pihak ke polisi, yakni SPPG terkait, Badan Gizi Nasional (BGN), dan guru.
Langkah hukum itu ditempuh keluarga korban karena hingga kini belum ada kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas insiden keracunan tersebut.
Laporan tersebut disampaikan ke Polres Tanah Karo oleh kuasa hukum korban, Aslia Rubianto, Senin (31/8/2026).
Selain laporan pidana, tim kuasa hukum juga tengah menyiapkan gugatan perdata terkait kasus keracunan MBG.
Aslia juga menyoroti keterbukaan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
"Siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi keracunan ini, itu sampai sekarang belum ada," kata Aslia.
"Itu makanya kita sebagai kuasa hukum daripada korban MBG melakukan upaya hukum pelaporan supaya jangan ada lagi korban lain," imbuhnya.
Menurutnya, keluarga korban baru memperoleh hasil laboratorium setelah mengikuti rapat dengar pendapat dengan DPRD Karo pada Senin (7/9).
Padahal, hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara tersebut telah bertanggal 16 Agustus 2026, atau tiga hari setelah insiden keracunan.
Keterlambatan informasi itu disebut membuat orang tua korban berada dalam ketidakpastian mengenai penyebab kondisi yang dialami anak-anak mereka.
Keluarga korban juga mempertanyakan kandungan atau bakteri yang ditemukan dalam pemeriksaan karena sebelumnya muncul berbagai dugaan di tengah masyarakat.
Kuasa hukum berharap proses hukum dapat mengungkap pihak yang bertanggung jawab sekaligus mencegah kejadian serupa kembali menimbulkan korban.
Salah satu orang tua korban, Paruliana Borusitonga, mengungkapkan kondisi anaknya, Agnesia, yang masih mengalami gangguan kesehatan.
Paruliana mempertanyakan pertanggungjawaban pihak terkait, termasuk kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia menyebut anaknya telah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit sejak mengalami keracunan MBG.
Paruliana mengatakan kondisi anaknya kini masih lemah dan harus menjalani pemulihan di rumah.
Menurutnya, Agnesia bahkan sudah tiga kali bolak-balik ke rumah sakit akibat kondisi kesehatannya.
Selain itu, Paruliana mempertanyakan informasi mengenai zat atau mikroorganisme yang ditemukan dalam makanan MBG yang dikonsumsi para siswa.