BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Regenerasi atlet menjadi salah satu perhatian dalam Direktur Poliban Wall Climbing Competition (DPWCC) 2026.
Ajang panjat tebing yang digelar di Kampus Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban), Kamis (10/9/2026), tak hanya mempertemukan pemanjat umum dan pecinta alam, tetapi juga memberi ruang bagi atlet usia dini.
Sebanyak 90 pemanjat dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur ambil bagian dalam kompetisi yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Komunitas Pecinta Alam Politeknik Banjarmasin (K-PAP) tersebut.
Dari jumlah itu, 21 peserta turun di kategori Under-13 (U-13). Sementara 39 peserta mengikuti kategori umum dan 29 lainnya berlaga pada disiplin pecinta alam.
Ketua Pelaksana DPWCC 2026, Vina, mengatakan peserta tahun ini datang dari berbagai latar belakang, mulai dari komunitas pecinta alam hingga pemanjat yang berlaga di kategori umum dan usia dini.
Baca juga: Jadwal Siaran TV Liga Champions Malam Ini-Jumat: Man United vs Sabah FK Hingga Fenerbahce vs AS Roma
Baca juga: 4 Pemain Naturalisasi Malaysia Lawan Timnas Indonesia di ASEAN Cup 2026, Ada Brasil dan Argentina
Ia berharap seluruh rangkaian kompetisi dapat berlangsung lancar hingga hari terakhir.
Namun, bagi Poliban dan K-PAP, kompetisi tersebut tidak berhenti sebagai arena perebutan juara.
Pembina Komunitas Pecinta Alam Politeknik Negeri Banjarmasin, Ucu Syauqi, mengatakan DPWCC menjadi salah satu ruang bagi para pemanjat untuk mengukur kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding.
“Kompetisi ini menjadi wadah bagi para atlet, khususnya dari Kalimantan Selatan, untuk terus mengembangkan dan meng-upgrade kemampuan mereka,” katanya.
Menurut Ucu, semakin banyak kesempatan bertanding akan memberikan pengalaman yang dibutuhkan atlet untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Karena itu, DPWCC diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem pembinaan panjat tebing di Kalimantan Selatan, termasuk melalui kolaborasi dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).
Selain pembinaan atlet, Poliban juga ingin membuka ruang bagi atlet untuk mengembangkan prestasi olahraga tanpa mengesampingkan pendidikan.
Ucu mengatakan mahasiswa yang menekuni panjat tebing tetap dapat berkuliah sekaligus mempertahankan karier olahraganya.
“Artinya, ada atlet panjat yang kuliah di sini untuk menuntut ilmu. Selain menuntut ilmu, mereka juga bisa tetap berprestasi di olahraga panjat,” jelasnya.
Menurutnya, konsep tersebut menjadi salah satu upaya Poliban membangun lingkungan yang mendukung atlet untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sembari tetap mengasah kemampuan di olahraga panjat tebing.
DPWCC 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga yang digelar K-PAP. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan anggota komunitas untuk belajar mengelola event olahraga.
Ucu berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi K-PAP untuk meningkatkan skala penyelenggaraan kompetisi pada masa mendatang.
“Ini juga menjadi pembelajaran bagi anggota untuk bisa membuat dan mengelola sebuah kegiatan yang skalanya ke depan tidak hanya regional, tetapi bisa sampai tingkat nasional,” ujarnya. (Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)