Sosiolog Politik UMY Sebut Buku Islam Ala Prabowo Berlebihan: Dimensi Komodifikasinya Kuat
Yoseph Hary W September 10, 2026 08:14 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Buku "Islam Ala Prabowo" kini menjadi perbincangan publik, terlebih sejumlah tokoh mengaku tidak menulis buku tersebut. Buku tersebut diluncurkan dalam Rakornas Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada 26 Agustus 2025. 

Menurut Sosiolog Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, terbitnya buku "Islam Ala Prabowo" terlalu berlebihan. Terlebih Prabowo Subianto dipandang belum memenuhi kaidah-kaidah seperti yang dikemukakan ulama masa lalu. 

Terlalu berlebihan

"Jadi kalau pada tahun-tahun sebelum Prabowo menjadi presiden, sebagian orang mengatakan bahwa Prabowo tidak ngerti Islam, Prabowo kurang paham tentang Islam, Prabowo tidak mempraktikkan ajaran-ajaran Islam. Sekarang sudah tiba-tiba sebagian dari pendukungnya garis keras mengatakan luar biasa ijtihad Prabowo terkait dengan Islam. Menurut saya terlalu berlebihan," katanya, Kamis (10/9/2026).

"Apalagi kalau mengikuti kaidah-kaidah atau koridor-koridor yang dikemukakan para ulama salaf, ulama masa lalu, harus paham bahasa Arab, harus paham minimal 500 hadis hukum, harus paham minimal misalnya minimal adalah 20 juz atau misalnya 10 juz Al-Qur'an, menurut saya Prabowo tidak semua itu," sambungnya.

Ia melanjutkan, sebagai pendukung boleh saja mendukung, namun jangan terlalu berlebihan.

Komodifikasi agama untuk kepentingan politik

Zuly juga menyoroti soal komodifikasi agama untuk kepentingan politik. Menurutnya, buku tersebut lebih cenderung komodifikasi yang hanya menguntungkan kelompok politik tertentu saja.

"Menurut saya malah terlalu kuat dimensi komodifikasinya, membesar-besarkannya, hiperboliknya bahwa ini adalah sebuah ijtihad pemikiran Islam ala Pak Prabowo. Ya memuji boleh lah, tetapi jangan terlalu berlebihan. Jangan sampai kemudian Islam atau agama itu dikomodifikasi untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu yang itu hanya ingin menguntungkan kelompok politik tertentu saja," lanjutnya.

Prabowo Subianto yang saat ini sebagai Presiden RI memang tidak bisa disangkal. Sebagai pembuat kebijakan, bisa saja buku yang diluncurkan berkaitan dengan kebijakan politik. Prabowo juga sempat berkarir di militer yang menguasai tentang perang hingga senjata. Buku yang diterbitkan bisa saja berkaitan dengan ilmu yang dikuasai.

Tidak ada track record, membodohi umat

"Tapi kalau ini khusus adalah dalam bidang pemikiran keislaman, menurut saya belum ada track record yang bisa menjelaskan dengan baik semacam itu. Karena tadi hal-hal yang sifatnya agak fundamental terkait dengan ijtihad, kriteria-kriteria mujtahid gitu ya, orang yang berpikir sungguh-sungguh di dalam koridor keislaman, menurut hemat saya, Pak Prabowo belum," ujarnya.

Ia menambahkan boleh saja para penyusun menulis buku tersebut, namun terlalu berlebihan. Bahkan ia menilai membodohi umat.

"Kalau dalam kaitan ini adalah Pak Prabowo kok menurut saya terlalu berlebihan gitu. Ya bahwa itu boleh sih boleh, tapi menurut saya terlalu berlebihan dan itu kemudian membodohi umat secara keseluruhan," imbuhnya. (maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.