TRIBUNKALTIM.CO – Pernyataan mengenai potensi pecahnya konflik global kembali muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Seorang anggota parlemen Iran, Kamran Ghazanfari, menilai situasi saat ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.
Ghazanfari bahkan menyebut dunia secara praktis berada di ambang Perang Dunia III.
Baca juga: Daftar Hitam Iran di Selat Hormuz Diperluas, Lebih dari 50 Kapal Terdampak
“Kami secara praktis berada di ambang Perang Dunia III,” kata Ghazanfari.
Menurut Ghazanfari, potensi konflik yang lebih luas tidak hanya berkaitan dengan ketegangan Iran dan negara-negara di Timur Tengah.
Ia melihat sejumlah konflik dan persaingan antarnegara besar dapat saling berkaitan dan meningkatkan risiko konfrontasi internasional.
Ia menyinggung perang Rusia-Ukraina, memburuknya hubungan Rusia dengan sejumlah negara Eropa, serta persaingan Amerika Serikat dan China terkait Taiwan sebagai beberapa titik ketegangan yang menurutnya perlu diperhatikan.
Meski demikian, pernyataan mengenai ancaman Perang Dunia III tersebut merupakan penilaian politik Ghazanfari, bukan konfirmasi independen bahwa perang global akan terjadi.
Pernyataan itu juga tidak berarti dunia saat ini telah memasuki Perang Dunia III.
Ghazanfari menilai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko konflik global adalah dukungan NATO terhadap Ukraina dalam menghadapi Rusia.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan antara Moskow dengan negara-negara Eropa, termasuk Inggris dan Jerman, dapat membuat konflik Rusia-Ukraina berpotensi meluas ke wilayah lain di Eropa.
Ia juga menyoroti persaingan Amerika Serikat dan China mengenai Taiwan. Menurut Ghazanfari, persoalan tersebut merupakan titik konflik lain yang berpotensi mempertemukan kepentingan dua kekuatan besar dunia.
Jika beberapa titik ketegangan tersebut berkembang secara bersamaan, Ghazanfari menilai risiko konfrontasi yang lebih luas akan semakin besar.
Pandangan tersebut mencerminkan bagaimana sebagian kalangan politik di Iran melihat konflik saat ini bukan sebagai persoalan yang berdiri sendiri.
Mereka memandang perang dan ketegangan di sejumlah kawasan sebagai bagian dari persaingan geopolitik antara kekuatan besar dunia.
Ghazanfari sendiri dikenal pernah menyampaikan sejumlah klaim kontroversial. Salah satunya adalah klaim bahwa Presiden Iran Ebrahim Raisi dibunuh Israel dan sekutunya pada 2024.
Karena itu, pernyataan Ghazanfari mengenai Perang Dunia III perlu ditempatkan sebagai pandangan seorang anggota parlemen Iran dalam membaca perkembangan geopolitik, bukan sebagai konfirmasi independen mengenai kemungkinan pecahnya perang global.
Baca juga: Iran Siap Buka Selat Hormuz, Tapi Tunggu AS Penuhi Syarat Kesepakatan
Peringatan Ghazanfari juga tidak terlepas dari posisi Iran dalam persaingan geopolitik internasional.
Iran dalam beberapa tahun terakhir memperkuat hubungan dengan Rusia dan China. Teheran berupaya membangun kerja sama dengan negara-negara yang dinilai dapat membantu menantang dominasi Amerika Serikat dalam tatanan politik dunia.
Bagi sejumlah kelompok politik di Iran, mengurangi pengaruh Amerika Serikat dan mendorong Washington keluar dari Timur Tengah merupakan salah satu tujuan strategis.
Sikap tersebut memiliki akar sejarah sejak Revolusi Islam Iran pada 1979. Sejak saat itu, Iran berusaha menampilkan dirinya sebagai kekuatan yang memiliki jalur politik dan ideologi berbeda dari blok Amerika Serikat maupun Uni Soviet pada masa Perang Dingin.
Ketika Uni Soviet mengalami keruntuhan pada awal 1990-an, peta kekuatan dunia berubah. Iran kemudian semakin berupaya membangun hubungan dengan negara-negara yang dianggap dapat mendukung terbentuknya tatanan dunia yang tidak hanya didominasi satu kekuatan.
Meski dikenal memiliki hubungan yang tegang dengan Washington, Iran pada periode tertentu tetap membuka peluang negosiasi dengan Amerika Serikat.
Persoalan nuklir dan sanksi ekonomi menjadi salah satu isu yang pernah mendorong kedua negara untuk kembali membuka jalur diplomasi.
Selain memperingatkan mengenai potensi Perang Dunia III, Ghazanfari sebelumnya juga menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Baca juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Turun Hampir 50 Persen di Tengah Ketegangan Iran-AS
Ia bahkan mengklaim Washington dan Tel Aviv mungkin memiliki rencana untuk merebut sejumlah pulau Iran di kawasan selatan.
“Bukti dan tanda-tanda menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang merencanakan operasi berskala besar. Mereka mungkin bermaksud merebut beberapa pulau kita di selatan dan telah membawa banyak pasukan dan peralatan ke wilayah tersebut,” ujar Ghazanfari dalam pernyataan sebelumnya.
Namun, klaim mengenai rencana perebutan pulau tersebut juga merupakan pernyataan Ghazanfari dan tidak menjadi bukti bahwa operasi tersebut benar-benar telah direncanakan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan itu lebih menunjukkan kekhawatiran sebagian politisi Iran terhadap kemungkinan konflik berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah meningkatnya konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat serta ketegangan Israel-Iran yang belum sepenuhnya mereda.
Situasi di kawasan semakin kompleks karena Iran terus berusaha menunjukkan kemampuan untuk memberikan respons terhadap tekanan militer.
Serangan Iran terhadap Yordania serta ancaman terhadap kapal tanker menjadi bagian dari perkembangan yang meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi meluasnya konflik di Timur Tengah.
Dalam kondisi tersebut, Teheran berupaya menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk membalas serangan dan tidak akan begitu saja mundur menghadapi tekanan dari lawan-lawannya.
Pada saat yang sama, keterlibatan atau dukungan berbagai kekuatan besar membuat konflik di kawasan memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas.
Perang Rusia-Ukraina, persaingan Amerika Serikat dan China mengenai Taiwan, serta konflik di Timur Tengah memiliki karakter dan aktor yang berbeda.
Namun, menurut Ghazanfari, meningkatnya ketegangan di berbagai titik tersebut dapat menciptakan risiko konfrontasi yang lebih besar.
Baca juga: Trump Sebut Pejabat Iran tak Tahu Siapa Pemimpinnya, Mojtaba Khamenei Menghilang 6 Bulan
Peringatan tersebut menjadi sorotan karena terjadi ketika hubungan antara Iran dan negara-negara Barat kembali berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Jika ketegangan terus meningkat dan semakin banyak negara terlibat secara langsung, konflik regional berpotensi memberikan dampak terhadap stabilitas keamanan internasional.
Namun, sejauh ini, pernyataan mengenai Perang Dunia III tetap merupakan peringatan dan penilaian politik Ghazanfari, bukan kepastian bahwa konflik global akan pecah.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana sebagian kalangan di Iran membaca situasi geopolitik saat ini: konflik di Timur Tengah dianggap tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam pusaran persaingan yang lebih luas antara kekuatan-kekuatan besar dunia.
Perkembangan hubungan Iran dengan Amerika Serikat, Rusia, China, serta dinamika perang Rusia-Ukraina dan ketegangan terkait Taiwan akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah geopolitik global ke depan. (*)