TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit Influenza-Like Illness (ILI) dengan gejala mirip influenza.
Penyakit tersebut ditandai sejumlah gejala, antara lain demam tinggi lebih dari 38 derajat Celsius, batuk, sakit tenggorokan, dan pada sebagian kasus disertai gangguan pernapasan akut.
Dinkes Banyuwangi menyebut peningkatan pasien dengan gejala serupa terpantau di sejumlah fasilitas kesehatan. Jumlah kasus juga menunjukkan peningkatan sepanjang 2026.
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menjelaskan, ILI merupakan istilah yang digunakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk kasus penyakit dengan gejala menyerupai influenza.
Sementara untuk kondisi yang lebih berat dan disertai infeksi saluran pernapasan akut, Kemenkes menggunakan istilah Severe Acute Respiratory Infection (SARI).
Baca juga: Christyani Wibowo, Dancer Sound Horeg Asal Banyuwangi Pamer Saweran Unik dari Uang Hingga Sayuran
"Kemenkes menyebut kasus ini sebagai Influenza-Like Illness (ILI), yaitu penyakit yang menyerang seperti influenza. Untuk kasus yang agak berat, biasanya disertai demam dan perubahan kondisi tubuh, Kemenkes menyebutnya Severe Acute Respiratory Infection (SARI)," kata Amir, Kamis (10/9/2026).
Menurut Amir, kasus ILI di Banyuwangi mengalami peningkatan pada 2026. Angka tertinggi tercatat pada Januari dengan jumlah lebih dari 10 ribu kasus.
"Sementara dari bulan Februari, Maret, hingga bulan kemarin, rata-rata tercatat sekitar 8.500 kasus per bulan," ujarnya.
Untuk data kasus pada awal September, Dinkes masih meminta seluruh fasilitas kesehatan memperbarui laporan. Langkah tersebut diperlukan untuk memantau perkembangan kasus sekaligus memperkuat upaya pencegahan.
Amir juga menyebut kondisi cuaca pada masa transisi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Perubahan kondisi lingkungan membuat tubuh perlu beradaptasi, sementara daya tahan tubuh dapat ikut terpengaruh.
Baca juga: Pawai Endhog-Endhogan Maulid Nabi Banyuwangi, Ribuan Telur Dibagikan pada Warga
"Saat ini masih dalam masa transisi cuaca dan diperkirakan kondisi kemarau akan meningkat. Pada masa transisi ini, proses adaptasi membuat imunitas tubuh cenderung menurun. Penurunan imunitas yang berbarengan dengan perubahan lingkungan ini memicu peningkatan kasus," ujarnya.
Dinkes mengimbau masyarakat melakukan berbagai langkah untuk menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi risiko penularan.
Warga dianjurkan memperbanyak minum cairan, mengonsumsi vitamin, serta mencukupi waktu istirahat. Protokol kesehatan juga tetap perlu diterapkan, terutama menggunakan masker dan menjalankan etika batuk.
Kondisi udara di dalam ruangan turut menjadi perhatian. Masyarakat diminta memastikan sirkulasi atau ventilasi berjalan baik sehingga udara tidak terjebak di dalam ruangan.
Selain itu, jendela rumah dapat dibuka secara berkala agar udara dan cahaya matahari masuk.
"Rumah yang tertutup dapat meningkatkan risiko penularan dan penyebaran," ujar Amir.