TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Sebanyak 14.809 warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terdampak krisis air bersih selama musim kemarau 2026.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mencatat, warga terdampak tersebut berasal dari 4.436 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 12 desa.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang Yudhi mengatakan, krisis air bersih terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Ranuyoso, Padang, Gucialit, dan Kedungjajang.
Kondisi tersebut dipicu berkurangnya debit sumber air serta minimnya serapan air ke dalam tanah.
"Tidak menutup kemungkinan nanti setiap minggu atau setiap bulan, akan ada penambahan titik atau desa yang krisis air bersih," ujarnya, Kamis (10/9/2026).
Penanganan krisis air bersih dan kekeringan di Lumajang dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/282/KEP/472.12/2026 tentang status tanggap darurat bencana kekeringan/krisis air bersih serta penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Baca juga: Kekeringan di 8 Desa, Pemkab Situbondo Siapkan Sumur Bor dan Tambah Droping Air Bersih
Yudhi mengatakan, masa penanganan tersebut berlangsung mulai 7 Juli hingga 10 Oktober 2026.
Menurut dia, persoalan kekurangan air bersih terutama menjadi masalah berulang di wilayah Lumajang Utara. Bahkan, kondisi tersebut tidak selalu terjadi ketika musim kemarau.
"Wilayah utara kekurangan air bersih pasti, kami tidak melihat dari musim. Seperti di Desa Jenggrong (Kecamatan Ranuyoso) baik musim hujan maupun musim kemarau untuk air bersih selalu kurang mencukupi," ungkap Yudhi.
Salah satu penyebabnya adalah jaringan pipa air bersih dari sumber mata air terdekat yang belum menjangkau masyarakat di sejumlah desa di wilayah Lumajang Utara, khususnya Desa Jenggrong.
Meski mengalami kekurangan air bersih, kondisi tersebut tidak sampai menyebabkan kekeringan pada lahan pertanian warga. Sebagian besar wilayah tersebut merupakan area perkebunan yang ditanami sengon dan tebu.
"Meski kekurangan air bersih, di lokasi itu tidak sampai mengalami kekeringan sebab tidak berdampak pada pertanian warga. Karena daerah perkebunan yang mayoritas ditanami sengon dan tebu," imbuhnya.
Baca juga: 11 Desa di Banyuwangi Mulai Terdampak Kekeringan, BPBD Salurkan 343 Ribu Liter Air Bersih
Selama masa tanggap darurat, BPBD Lumajang menyalurkan air bersih ke 191 titik lokasi warga yang terdampak.
Pengiriman dilakukan menggunakan truk tangki dengan kapasitas 5.000 liter. Dalam sehari, BPBD dapat melakukan hingga 16 kali pengiriman untuk memenuhi kebutuhan warga.
"Sehari kami bisa menyalurkan 16 rit (pengiriman) menggunakan tangki kapasitas 5.000 liter. Satu rit kapasitasnya 5.000 liter," tambah Yudhi.