Sagi Bergegure dan Politik Kecil Membangun Manusia dari Kampung
Mawaddatul Husna September 10, 2026 08:54 PM

Oleh: Rahma Jelita SPd *)

Pembangunan sering kali lebih mudah diukur ketika yang dibangun adalah benda. Jalan yang selesai dapat diukur panjangnya.

Drainase dapat dihitung volumenya. Gedung dapat dilihat bentuknya. Anggaran dapat ditulis dalam angka.

Namun pembangunan manusia berbeda. Hasilnya tidak selalu tampak hari ini.

Ketika seorang anak mulai berani berbicara, mampu berbagi dengan temannya, terbiasa mencuci tangan, senang membaca buku, memiliki rasa ingin tahu dan tumbuh dengan percaya diri, kita mungkin tidak langsung menyebutnya sebagai hasil pembangunan.

Padahal, di situlah pembangunan yang paling mendasar sedang berlangsung.

Atas kesadaran tersebut, Sagi Bergegure di Kampung Keramat Mupakat kami hadirkan sebagai ruang tumbuh anak usia dini.

Sagi Bergegure bukan sekadar tempat bermain.

Ia merupakan upaya menghadirkan perspektif baru bahwa pembangunan kampung tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik.

Kampung juga harus menjadi tempat di mana manusia dibentuk sejak usia paling awal.

Mengubah Cara Melihat Pembangunan

Ada kecenderungan dalam pembangunan desa atau kampung untuk menjadikan infrastruktur sebagai ukuran keberhasilan yang paling mudah dilihat.

Jalan dibangun, drainase diperbaiki, gedung pelayanan berdiri, lalu kita mengatakan pembangunan telah berjalan.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Tetapi pembangunan akan kehilangan arah apabila kita lupa bertanya: manusia seperti apa yang sedang kita persiapkan melalui semua pembangunan tersebut?

Jalan yang bagus pada akhirnya akan dilalui manusia. Gedung pelayanan pada akhirnya akan digunakan manusia.

Lingkungan yang bersih pada akhirnya akan menjadi tempat manusia hidup.

Maka manusia seharusnya bukan sekadar penerima manfaat pembangunan. Manusia adalah pusat pembangunan itu sendiri.

Dan pembangunan manusia seharusnya dimulai sedini mungkin.

Sagi Bergegure: Ruang Kecil dengan Gagasan Besar

Di Gedung Pelayanan Dasar Kampung Keramat Mupakat, anak-anak mendapatkan ruang untuk membaca, bercerita, bermain lego, bernyanyi, bergerak, berinteraksi, dan belajar berbagai kebiasaan positif.

Kita mungkin menganggap aktivitas tersebut sederhana.

Tetapi pendidikan anak usia dini memang dibangun dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Satu buku dapat membuka imajinasi. Satu cerita dapat menumbuhkan keberanian.

Satu permainan dapat melatih kerja sama. Satu kegiatan mencuci tangan dapat membangun kebiasaan hidup bersih.

Satu kesempatan berbicara dapat meningkatkan rasa percaya diri. Karena itu, Sagi Bergegure kami maknai sebagai investasi sosial.

Investasi yang tidak selalu menghasilkan sesuatu dalam hitungan bulan, tetapi hasilnya dapat kita lihat ketika anak-anak tersebut tumbuh menjadi generasi yang memiliki karakter dan kemampuan menghadapi kehidupan.

PAUD bukan Sekadar Urusan Sekolah

Kita perlu mengubah cara pandang bahwa pendidikan anak usia dini hanya menjadi urusan guru dan lembaga PAUD.

Anak hidup dalam keluarga. Anak bermain di lingkungan.

Anak berinteraksi dengan masyarakat. Karena itu, seluruh lingkungan mempunyai pengaruh terhadap tumbuh kembangnya.

Di sinilah konsep PAUD Holistik Integratif menjadi penting.

Pendidikan perlu berjalan bersama kesehatan, gizi, perlindungan, pengasuhan dan lingkungan yang ramah anak.

Bunda PAUD, guru, kader PKK, kader Posyandu, tenaga kesehatan, orang tua dan pemerintah kampung tidak boleh bekerja dalam ruang masing-masing.

Kita perlu membangun ekosistem.

Sebab anak yang sehat tetapi tidak mendapatkan stimulasi pendidikan yang baik tentu belum cukup.

 Anak yang cerdas tetapi tidak terlindungi juga belum cukup. Anak yang mendapatkan pendidikan tetapi tumbuh di lingkungan yang tidak sehat juga menghadapi persoalan.

Anak membutuhkan semuanya secara utuh.

Kampung Sebagai Sekolah Sosial

Ada satu hal yang sering kita lupakan: kampung sesungguhnya adalah sekolah sosial yang sangat besar.

Di sanalah anak pertama kali melihat bagaimana orang dewasa memperlakukan orang lain.

Mereka belajar gotong royong dari masyarakat. Mereka belajar sopan santun dari keluarga.

Mereka mengenal budaya dari lingkungannya. Mereka belajar menjaga kebersihan dari kebiasaan masyarakat.

Mereka belajar toleransi dari keberagaman yang ada di sekelilingnya.

Karena itu, membangun kampung yang ramah anak berarti juga membangun masyarakat yang memberikan keteladanan kepada anak.

Keramat Mupakat memiliki kekayaan adat, budaya, nilai religius dan kehidupan masyarakat yang beragam. Semua itu adalah modal sosial yang harus dirawat dan diwariskan.

Kita ingin anak-anak tumbuh modern tanpa kehilangan akar budayanya. Kita ingin mereka mengenal teknologi tanpa kehilangan sopan santun.

Kita ingin mereka cerdas secara akademik sekaligus memiliki kepedulian sosial.

Dari Ruang Bermain Menuju Masa Depan

Bagi sebagian orang, bermain mungkin dianggap sebagai kegiatan yang tidak produktif.

Bagi pendidikan anak usia dini, bermain justru merupakan cara anak belajar memahami dunia.

Ketika anak menyusun lego, ia belajar mengenal bentuk dan membangun kreativitas.

Ketika anak bercerita, ia belajar bahasa dan keberanian. Ketika anak bermain bersama, ia belajar aturan sosial.

Ketika anak bergerak dan bernyanyi, ia mengembangkan kemampuan motorik dan ekspresi.

Maka kita tidak boleh meremehkan dunia bermain anak. Di dalam permainan terdapat proses pendidikan.

Sagi Bergegure ingin memberikan ruang bagi proses tersebut. Bukan untuk menggantikan keluarga.

Bukan untuk menggantikan sekolah. Tetapi untuk memperkuat keduanya.

Pembangunan yang Paling Panjang Napasnya

Membangun infrastruktur mungkin dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran.

Membangun manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Bahkan hasilnya mungkin baru dirasakan satu atau dua dekade kemudian.

Tetapi justru karena itulah pembangunan manusia membutuhkan keberanian untuk berpikir melampaui periode kepemimpinan.

Apa yang kita tanam kepada anak hari ini adalah apa yang mungkin akan kita panen sebagai masyarakat dua puluh tahun mendatang.

Jika hari ini kita menanam budaya membaca, mungkin kelak kita memanen generasi pembelajar.

Jika hari ini kita menanam kepedulian lingkungan, mungkin kelak kita memiliki generasi yang menjaga alam.

Jika hari ini kita menanam toleransi dan gotong royong, mungkin kelak kita memiliki masyarakat yang kuat menghadapi perbedaan.

Sagi Bergegure Adalah Awal

Kami menyadari bahwa Sagi Bergegure masih merupakan langkah kecil.

Fasilitas mungkin belum sempurna. Ruang mungkin masih sederhana.

Program pun akan terus kami evaluasi. Tetapi pembangunan tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk dimulai.

Yang paling penting adalah keberanian untuk memulai dan kemauan untuk terus memperbaiki.

Sebab kampung yang maju bukan kampung yang merasa sudah sempurna.

Kampung yang maju adalah kampung yang mau belajar dari persoalan dan terus menciptakan solusi.

Sagi Bergegure adalah salah satu ikhtiar kecil itu.

Kami ingin membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus mahal dan rumit.

Kadang inovasi adalah keberanian melihat persoalan yang selama ini dianggap biasa, kemudian bertanya: “Apa yang bisa kita lakukan?”

Membangun Manusia bukan Sekadar Membangun Benda

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kampung tidak hanya ditentukan oleh berapa kilometer jalan yang dibangun atau berapa banyak bangunan yang berdiri.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakatnya semakin sehat, anak-anaknya semakin terlindungi, pendidikannya semakin baik, lingkungannya semakin bersih, dan warganya semakin memiliki kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, saya percaya pembangunan kampung harus mempunyai dua kaki.

Kaki pertama adalah pembangunan fisik. Kaki kedua adalah pembangunan manusia. Keduanya harus berjalan bersama.

Sebab jalan tanpa manusia yang berkualitas hanya akan menjadi jalan.

Gedung tanpa pelayanan yang manusiawi hanya akan menjadi bangunan.

Tetapi ketika infrastruktur dipadukan dengan pembangunan manusia, di situlah sebuah kampung mulai membangun peradaban.

Dan Sagi Bergegure ingin menjadi bagian dari perjalanan itu. Dari ruang kecil. Dari anak-anak kecil.

Dari kegiatan-kegiatan sederhana. Kami sedang menanam sesuatu yang mungkin baru akan terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian.

Tetapi begitulah sejatinya pendidikan. Kita menanam hari ini untuk memanen masa depan.

Dan masa depan Kampung Keramat Mupakat sedang tumbuh di depan mata kita.

Mari jangan hanya membangun jalan yang mengantarkan anak menuju masa depan.

Mari kita bangun pula manusia yang kelak mampu menciptakan masa depan itu. (*)

*) Penulis adalah Bunda PAUD Kampung Keramat Mupakat, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Baca juga: Kampung Keramat Mupakat Raih Juara II Lomba Tiga Pilar Desa se-Aceh

Baca juga: Kampung Keramat Mupakat Aceh Tengah jadi Tuan Rumah Sosialisasi Pengelolaan dan Bank Sampah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.