TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Sosok Aprida Rapi (49), wanita asal Tana Toraja, Sulsel, yang bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, dikenang keluarga sebagai perempuan ramah dan pekerja keras.
Aprida merupakan salah satu dari tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) setelah mengantarkan bantuan kepada masyarakat di Distrik Muliama, Rabu (9/9/2026).
Kakak pertama korban, Yoslina (57), mengatakan Aprida merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara.
Menurut Yoslina, sejak masih bersekolah, Aprida sudah terbiasa bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhannya.
Ia bahkan kerap menjajakan sayur untuk dijual dengan menggunakan angkutan umum pete-pete.
"Sejak sekolah dia sering menjajakan sayur untuk dijualnya agar mendapat uang, menggunakan angkutan mobil pete-pete," ujar Yoslina saat ditemui di rumah duka, Jalan Tondon Mamullu, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Kamis (10/9/2026) malam.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Aprida mulai merantau pada 2003.
Ia berangkat ke Papua dan bekerja di lingkungan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan.
Sebelum merantau, Aprida diketahui tinggal bersama ibunya di Tondon Mamullu, Kecamatan Makale.
Yoslina mengatakan, adiknya merupakan sosok yang ramah dan dikenal memiliki semangat kerja tinggi.
"Dia orangnya ramah, suka membantu sesama, dan pekerja keras," katanya sambil tersenyum.
Selama merantau di Papua, Aprida juga telah berkeluarga dan memiliki tiga anak.
Ketiga anaknya kini masih menempuh pendidikan.
Keluarga mengaku sangat terkejut saat pertama kali menerima kabar bahwa Aprida menjadi korban penembakan di Jayawijaya.
Kabar duka tersebut diterima keluarga setelah peristiwa penembakan terjadi pada Rabu (9/9/2026).
Sebelumnya, Aprida bersama dua rekannya, Alfonsius Albinus Meha (35) dan Willi Mbuik (25), sedang dalam perjalanan kembali ke Wamena setelah meninjau kegiatan cetak sawah sekaligus mengantarkan bantuan bibit babi kepada masyarakat di Distrik Muliama.
Rombongan mereka yang berjumlah sebelas orang kemudian dihadang kelompok bersenjata.
Ketiga korban yang merupakan non-OAP (orang asli Papua) dipisahkan dari rekan mereka sebelum ditembak.
Delapan orang lainnya yang merupakan OAP tidak mendapat kekerasan dari KKB.
Aprida mengalami luka tembak pada bagian perut dan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Jenazah Aprida selanjutnya dibawa di RSUD Wamena sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Tana Toraja.
Di rumah duka di Tondon Mammulu, Makale, Tana Toraja, Kamis malam ini, keluarga dan kerabat tampak berdatangan silih berganti.
Ibu korban terlihat duduk di dalam rumah dikelilingi keluarga yang datang menyampaikan belasungkawa.
Sementara sejumlah keluarga lainnya tampak berkumpul di alang atau lumbung yang berada di sekitar rumah duka.(*)