Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyatakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan penyakit paling mendominasi dalam penanganan medis penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati dalam konferensi pers di Graha BNPB Jakarta, Kamis, menyampaikan laporan kasus ISPA yang menyerang pengungsi di wilayah terdampak telah menembus puluhan ribu kasus.
"Data kasus penyakit dampak gempa bumi NTT laporan tertinggi adalah kasus ISPA sebanyak 25.017 kasus yang tersebar di Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur," kata dia.
Pihaknya telah memobilisasi 868 relawan kesehatan gabungan ke lokasi bencana terdampak gempa di Pulau Flores, NTT. Pengerahan relawan kesehatan tersebut secara simultan demi menopang pelayanan kesehatan yang terganggu akibat kerusakan 169 puskesmas.
Data fasilitas kesehatan puskesmas terdampak di Kabupaten Sikka (27), Kabupaten Manggarai Timur (29), Kabupaten Manggarai (25), Kabupaten Ngada (25), Kabupaten Nagekeo (9), Kabupaten Ende (28), dan Kabupaten Manggarai Barat (26).
Kementerian Kesehatan juga mendistribusikan ratusan tenaga medis dalam dua gelombang utama, yakni 206 personel pada 24 Agustus dan 160 personel pada 7 September 2026, yang diperkuat relawan organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan unsur dari pemerintah daerah.
"Termasuk kami mendistribusikan logistik medis meliputi 10 tenda rumah sakit lapangan, lima unit oxygen concentrator, delapan emergency kit, 16.000 lembar masker, 17.600 pasang sarung tangan medis, serta 444 paket Makanan Pendamping ASI (PMT)," kata Widya.
Dia mengharapkan pengerahan sumber daya media tersebut bisa mengatasi selain ISPA juga dua penyakit lainnya yang mendominasi di lokasi pengungsian, yakni dermatitis 1.573 kasus dan diare 1.512 kasus.
Kementerian Kesehatan mengkonfirmasi secara kumulatif 135 korban meninggal dunia, 215 jiwa luka berat, 1.552 jiwa luka ringan rawat jalan, 55.811 warga mengungsi ke ratusan lokasi pengungsian di tujuh kabupaten.
Jumlah tersebut sebagaimana rekapitulasi tim petugas gabungan di lapangan yang dalam koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai dengan Kamis, pukul 07.30 WIB atau 25 hari pasca-gempa utama magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores.
"Pemantauan sanitasi dan pelayanan medis dasar di posko-posko pengungsian terus diperketat guna mencegah penularan penyakit menular di tengah kondisi lingkungan pengungsian," kata dia.





