TRIBUNNEWS.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat enam orang utan di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, kehilangan akses menuju habitat alaminya.
Keenam satwa tersebut akhirnya harus dievakuasi setelah ditemukan berpindah-pindah di kawasan perkebunan warga.
Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).
Evakuasi berlangsung dalam dua operasi, yakni pada 4 dan 8 September 2026.
Enam orang utan yang diselamatkan terdiri dari Naufal, Nopan, Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta Mama Noni bersama anaknya yang juga bernama Noni.
Operasi tersebut turut dibantu Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pemangkat, masyarakat sekitar dan pemilik kebun.
Keberadaan orang utan diketahui melalui patroli dan pemantauan bersama BKSDA Kalbar-YIARI yang mulai dilakukan sejak 1 September 2026.
Patroli tersebut bertujuan mendeteksi satwa liar yang berada di kawasan rawan karhutla maupun yang terpaksa keluar dari habitatnya.
Tim kemudian menerima laporan adanya orang utan yang bergerak di sekitar perkebunan masyarakat.
Kebakaran yang terjadi di sekitar lokasi telah memutus jalur orang utan menuju blok hutan yang masih tersisa.
Bahkan, titik kebakaran berjarak sekitar 200 meter dari lokasi ditemukannya satwa.
Baca juga: 21 Orang Utan Alami Gejala ISPA Akibat Paparan Asap Tebal Karhutla di Kalteng
Kondisi itu membuat orang utan tidak memiliki jalur aman untuk kembali ke hutan. Mereka kemudian berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung.
Situasi tersebut juga meningkatkan risiko konflik dengan masyarakat karena satwa semakin dekat dengan aktivitas manusia.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan ancaman karhutla terhadap orang utan tidak hanya berasal dari api dan asap.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya ketika api mendekati orang utan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan. Mereka akhirnya terjebak di lanskap perkebunan dan berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung,” ujar Argitoe kepada Tribunnews.com, Kamis (10/9/2026).
Ia mengatakan patroli akan terus ditingkatkan selama karhutla masih berlangsung.
Dengan enam tambahan tersebut, total orang utan yang telah diselamatkan BKSDA Kalbar bersama YIARI akibat ancaman karhutla dalam satu bulan terakhir mencapai 15 individu.
Dalam proses evakuasi, tim medis menggunakan obat bius dengan dosis terukur untuk memudahkan penanganan dan mencegah satwa mengalami cedera.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Naufal dan Mama Nopi dalam kondisi umum baik tanpa luka atau kelainan fisik signifikan.
Nopan sempat mengalami suhu tubuh hingga 40 derajat Celsius. Setelah mendapat cairan infus dan penanganan medis, suhunya kembali normal.
Sementara Nopi juga berada dalam kondisi umum baik.
Adapun Mama Noni, yang diselamatkan pada 8 September, diperkirakan berusia 13-15 tahun.
Saat diperiksa, suhu tubuhnya mencapai 39,4 derajat Celsius dan mengalami panting atau pernapasan cepat.
Tim medis kemudian memberikan cairan infus, oksigen dan kompres untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya.
Baca juga: Sampurna, Orang Utan yang Berjuang Melawan Asap Karhutla hingga Napas Terakhir
Anak Mama Noni diperkirakan baru berusia 1-2 bulan. Setelah dievakuasi, anak tersebut masih menyusu kepada induknya sehingga kondisinya akan dipantau secara ketat.
Keenam orang utan kemudian dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi orang utan YIARI untuk menjalani observasi serta perawatan medis.
Tim akan memantau perkembangan kondisi karhutla dan habitat di sekitar lokasi asal satwa.
Jika kondisi telah aman dan tersedia habitat yang sesuai, akan dilakukan penilaian untuk menentukan kemungkinan orang utan dikembalikan ke alam.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyatakan pihaknya mendukung upaya pemerintah dalam menyelamatkan satwa yang terdampak karhutla.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang terdampak kebakaran.
Laporan dapat disampaikan melalui call center Balai KSDA Kalimantan Barat di 0811-5776-767 atau 0811-5670-041.
“Upaya penyelamatan satwa terdampak kebakaran hutan berpacu dengan waktu,” ujar Murlan.
(Tribunnews.com/Endra)