8 Orang Hilang di Selat Sunda, Peneliti Ungkap Peluang Bertahan Hidup di Pulau Sekitar
Glery Lazuardi September 11, 2026 02:33 AM

TRIBUNNEWS.COM - Operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak saat berada di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, memasuki hari ketiga pada Kamis (10/9/2026).

Area pencarian diperluas hingga sejumlah pulau di sekitar kawasan tersebut.

Delapan orang yang dicari terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak serta pemandu speedboat Arupadhatu 1.

Mereka dilaporkan hilang kontak setelah berangkat dari wilayah Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Di tengah proses pencarian, peneliti Krakatau Prof. Tukirin Parto Miharjo menyampaikan analisis mengenai kondisi sejumlah pulau di sekitar Krakatau dan kemungkinan bertahan hidup apabila orang yang dicari terdampar di wilayah tersebut.

Menurut Tukirin, peluang bertahan hidup bergantung pada lokasi mereka terdampar dan ketersediaan sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Jika berada di Pulau Rakata, misalnya, menurut Tukirin masih terdapat kemungkinan memperoleh air dan sumber makanan tertentu.

"Di Rakata, kalau ada peralatan, bisa gali sumur untuk mendapatkan air tawar. Ada juga tumbuhan yang bisa dimakan seperti tangkil, salam, cabai hutan, dan kadang pepaya hutan, meski sifatnya musiman," ungkap Prof. Tukirin dalam wawancara di saluran YouTube SINDOnews, Kamis (10/9/2026).

Ia mengatakan kondisi di Pulau Rakata relatif berbeda dengan Pulau Sertung. Menurutnya, keberadaan binatang seperti piton lebih sering ditemukan di Sertung, sementara di Rakata nyaris tidak ada nyamuk besar.

Tukirin menyebut Pulau Sertung memiliki sumber air tawar yang dapat menjadi salah satu faktor penting bagi orang yang terdampar.

"Sertung adalah satu-satunya pulau yang punya sumber air tawar. Walau kemarau, selalu ada air, jadi kalau terdampar di sana mungkin bisa tahan lama," jelasnya.

Sebaliknya, Pulau Panjang dinilai memiliki kondisi yang lebih terbatas. Tukirin mengatakan pulau tersebut mengalami kerusakan akibat tsunami 2018 sehingga sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan tidak sebanyak di pulau lainnya.

Baca juga: Life Jacket Ditemukan, SAR Telusuri Keterkaitannya dengan 8 Orang Hilang di Selat Sunda

Kondisi Laut dan Risiko Vulkanik

Selain kondisi pulau, Tukirin mengingatkan adanya sejumlah risiko alam yang perlu diperhitungkan dalam aktivitas di sekitar Krakatau. Menurutnya, aktivitas gunung api tidak selalu dapat diprediksi secara pasti.

"Gunung berapi itu tak bisa diduga, tiba-tiba bisa meletus. Kita tak bisa bilang hari ini baik-baik saja, lalu tiba-tiba meletus," tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi laut di sekitar kawasan tersebut. Pada periode tertentu, gelombang dapat menjadi cukup besar sehingga menyulitkan kapal untuk mendekati atau bersandar di pulau.

"Gelombangnya cukup besar pada bulan-bulan tertentu, sehingga perahu tak bisa mendarat karena hempasannya sangat keras," ujar Prof. Tukirin.

Menurutnya, speedboat memiliki risiko lebih besar ketika menghadapi gelombang tinggi karena ukuran kapal yang relatif pendek.

"Speedboat biasanya yang paling bahaya itu karena kapalnya pendek. Diangkat gelombang dia biasanya terbalik, nah ini yang mungkin terjadi juga," analisisnya.

Tukirin mengatakan kondisi gelombang di sisi selatan Krakatau yang mengarah ke Samudra Hindia juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Ia menyebut speedboat umumnya lebih memilih sisi utara yang mengarah ke Pulau Jawa atau Sumatera.

"Kejadian terbaliknya speedboat akibat gelombang besar juga sangat mungkin terjadi," tambahnya.

Selain faktor cuaca dan gelombang, Tukirin menyebut terdapat populasi ikan hiu di sekitar dinding Pulau Rakata. Menurutnya, keberadaan sumber air panas vulkanik dapat mendukung pertumbuhan plankton yang kemudian menarik ikan-ikan kecil dan predator.

Baca juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meluas, Dokter Ungkap Cara Lindungi Paru

Kronologi Hilangnya Kontak

Lima jurnalis sebelumnya dilaporkan berangkat menuju perairan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menggunakan speedboat Arupadhatu 1.

Mereka berangkat dari wilayah Carita dengan rencana pergi dan kembali pada hari yang sama.

Kepala Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Pandeglang, Sandi mengatakan rombongan menyewa kapal dari warga setempat.

"Berangkat pukul 14.00 WIB kemarin, rencana pulang-pergi dan sampai sekarang nggak ada info," katanya, Selasa (8/9/2026).

Menurut Sandi, sekitar pukul 16.00 WIB seorang pemandu yang berada di kapal sempat melaporkan kondisi aman kepada istrinya. Namun, setelah komunikasi tersebut, rombongan tidak lagi diketahui keberadaannya.

"Kalau 14.00 WIB berangkat, sekitar pukul 20.00 WIB perkiraan harus sampai darat. Sampai sekarang tidak ada kontak," ucapnya.

Kepala Basarnas Banten Al Amrad sebelumnya mengatakan rombongan bertolak dari dermaga Pagedongan, Carita, untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Pada hari Senin tanggal 7 September 2026 pada pukul 14.00 WIB, jurnalis Banten bertolak dari dermaga Pagedongan Carita untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau," kata Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).

Salah satu jurnalis sempat berkomunikasi dengan jurnalis di Lampung sekitar pukul 14.42 WIB dan mengirimkan lokasi terakhir sebelum kontak terputus.

Delapan orang yang berada di speedboat tersebut terdiri atas lima jurnalis, satu pemandu, satu nakhoda, dan satu ABK.

Baca juga: Reza Rahadian Doakan 5 Jurnalis Hilang saat Liputan Anak Krakatau Segera Ditemukan

SAR Temukan Life Jacket dan Pelampung

Dalam pencarian pada hari ketiga, KAL Anyer menemukan sebuah life jacket dan pelampung berbentuk botol berwarna putih.

Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani mengatakan kedua benda tersebut ditemukan sekitar pukul 15.10 WIB pada koordinat 06°04'40" Lintang Selatan dan 105°45'17" Bujur Timur.

"Jadi pada posisi di lintang bujur 06 derajat, 04 menit 40 detik selatan dan 105 derajat 45 menit 17 detik timur pada pukul 15.10 WIB KAL Anyer melihat objek yang diduga sebagai life jacket," ujar Wawan dalam konferensi pers, Kamis (10/9/2026).

Setelah didekati, personel KAL Anyer menemukan benda lain di sekitar life jacket berupa pelampung berbentuk botol berwarna putih.

"Setelah didekati objek tersebut diambil dan diangkat dan di sekitar objek tersebut ada pelampung dalam bentuk botol berwarna putih," lanjut dia.

Wawan mengatakan lokasi penemuan berada sekitar 7,5 nautical mile dari suar Tanjung Cikoneng Anyer, Serang, Banten, dan sekitar 20 nautical mile dari Gunung Anak Krakatau.

"Lokasi penemuan 7,5 nautical mile di sisi barat dari suar Tanjung Koneng Anyar atau kurang lebih kalau dari posisi Gunung Anak Krakatau itu di sisi timur laut dengan jarak kurang lebih 20 nautical mile," lanjut dia.

Kedua benda tersebut kemudian dibawa ke Posko SAR Gabungan untuk menjalani identifikasi. Wawan menegaskan belum ada kepastian bahwa barang temuan tersebut berkaitan dengan delapan orang yang dicari.

"Kita tidak bisa menyampaikan, mengonfirmasi atau menyampaikan dari sisi gambar atau tampilan video (apakah sama dengan milik korban)," tegas dia.

Menurut Wawan, hasil identifikasi dapat menjadi salah satu petunjuk dalam operasi pencarian apabila benda tersebut terbukti berkaitan dengan rombongan.

"Untuk petunjuk lokasi korban sampai saat ini masih menunggu hasil identifikasi (barang temuan), apabila itu benar berarti ada petunjuk keberadaan korban, tapi kalau bukan kita tentu tidak bisa menilai bahwa itu petunjuk," kata Wawan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.