Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Ratusan petani sawah di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT, terancam gagal panen akibat kurangnya pasokan air. Lebih dari 300 hektar sawah di wilayah itu mengalami kekeringan.
Kepala Desa Wanga, Monce Lado Kale kepada Pos Kupang mengatakan, kondisi tersebut lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya.
Ia menyebutkan, pada musim tanam kedua tahun 2026 ini, kurang lebih 300 hektar lahan sawah mengalami kekeringan. Sebanyak 100 kepala keluarga terancam gagal panen.
Baca juga: Gempa M7,7 Tak Hanya Merusak Rumah: Ratusan Hektare Sawah di Manggarai Timur Terancam Gagal Panen
“Hampir 50 persen petani di Desa Wanga terancam gagal panen karena mengalami kekeringan. Tahun kemarin di beberapa tempat saja yang kering, terutama di area yang serap airnya cepat. Sekarang lebih besar potensi kekeringannya. Hampir terjadi di dua dusun,” kata dia pada Kamis (10/9/2026).
Kades Monce mengatakan, kondisi itu terjadi sejak dua bulan terakhir. Di lahan tersebut, tanaman padi baru berusia 45 hari setelah tanam.
Akibat kondisi itu, kata dia, masing-masing pemilik lahan ditaksir mengalami kerugian belasan sampai puluhan juta rupiah.
“Ada yang rugi sampai puluhan juta. Itu dihitung dari biaya olah lahan, biaya tanam dan ada juga yang sudah menyiram pupuk dan pestisida,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kekeringan itu akibat pasokan air dari Sungai Lukumihi menurun.
Selama bertahun-tahun, aliran air dari sungai ini menjadi andalan warga untuk mengairi sawah.
Saat ini, lanjut dia, untuk mengurangi kerugian lebih besar, pemerintah desa bersama warga telah membagi jadwal mendapatkan pasokan air ke sawah-sawah tersebut.
Pembagiannya diatur per jam. Ada yang mendapatkan pasokan selama dua sampai tiga jam. Ada juga yang lebih dari itu. Disesuaikan dengan blok irigasi yang ada.
Kades Monce Lado Kale menyebutkan, hal ini juga disebabkan oleh curah hujan yang sedikit di wilayah Wanga.
Ke depan sebagai mitigasi jangka panjang, ia bersama warga bertekad untuk kembali menanam pohon di daerah resapan atau di wilayah hulu.
Ia berharap, pemerintah daerah dan pihak lainnya dapat menyediakan anakan pohon yang akan ditanam.
“Kami berharap ada partisipasi masyarakat untuk menanam pohon-pohon besar untuk melindungi area penyerapan air sehingga debit air semakin banyak ke depan,” tutupnya. (dim)