Siswa Keracunan MBG, Bola-Bola Ayam Positif Terkontaminasi Bakteri
Joko Widiyarso September 11, 2026 07:01 AM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemicu kejadian luar biasa (KLB) keracunan yang dialami ratusan siswa di Kapanewon Sleman setelah menyantap menu makanan bergizi gratis (MBG) pada 31 Agustus 2026 lalu mulai menemui titik terang. 

Uji laboratorium mendapati hasil bahwa sampel makanan positif terkontaminasi bakteri.

"Pemeriksaan laboratorium terbaru menemukan Bacillus cereus positif pada sampel bola-bola ayam saus mentai," Kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Khamidah Yuliati, Kamis (10/9/2026). 

Temuan mikrobiologis tersebut, kata Yuli, sejalan dengan hasil analisis epidemiologi lanjutan yang menunjukkan bahwa menu bola-bola ayam saus mentai memiliki asosiasi paling kuat dengan timbulnya gejala sakit pada para korban. 

Ia menegaskan bahwa temuan ini masih menjadi bagian dari rangkaian proses investigasi yang komprehensif.

"Hasil tersebut masih menjadi bagian dari proses investigasi dan akan dikorelasikan dengan hasil penyelidikan epidemiologi serta penelusuran food chain untuk memastikan hubungan dan titik kontaminasi," ujarnya. 

Berdasarkan data pemutakhiran per 6 September 2026 pukul 20.00 WIB, jumlah terdata sebanyak 2.033 responden.

Sebanyak 1.627 orang di antaranya mengonsumsi MBG dan 389 orang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan seperti sakit perut dan diare. 

Tidak ada pasien yang harus menjalani perawatan inap, sementara 20 orang sempat menjalani pengobatan rawat jalan. 

Sebagai langkah mitigasi dan bentuk kehati-hatian, produksi serta distribusi MBG dari SPPG Sleman Pandowoharjo masih dihentikan sementara waktu. 

Di Bantul, seorang siswa SD Negeri 1 Sumberagung, Kapanewon Jetis, yang menjadi korban keracunan MBG, hingga kini masih rawat inap di rumah sakit. 

Di sekolah itu, ada 61 siswa dan guru yang mual, muntah, pusing, hingga diare setelah menyantap MBG yang didistribusikan oleh SPPG Patalan 2 pada Jumat (4/9/2026). 

Kepala SDN 1 Sumberagung, Parjiyatmi, berujar, mayoritas siswa sudah masuk sekolah lagi pada Kamis (10/9/2026). 

Tersisa lima orang yang belum masuk, dengan satu siswa belum diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena menunggu hasil observasi. 

"Kemudian dari yang masuk tadi pun minta pulang awal karena masih sakit. Yang minta pulang awal ada tiga anak atau siswa," ucapnya, saat dihubungi Tribun Jogja, Kamis.

Investigasi

Menyusul insiden keracunan ini, Pemerintah DIY melakukan evaluasi komprehensif terhadap tata kelola dan pengawasan operasional SPPG. 

Berdasarkan investigasi awal, Pemda DIY menemukan adanya kelalaian operasional yang krusial pada dapur vendor penyedia makanan. 

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, membeberkan adanya kesalahan fatal dalam tata kelola dapur vendor. 

Kesalahan tersebut terletak pada alur pemrosesan makanan yang memicu kontaminasi silang. 

"Karena ternyata kan bahan yang kemudian tercampur bukan yang protein, dan ketemunya juga ini masih ada di sisi operasional, yaitu bahan mentah dan bahan matang dicampur," terangnya di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Kamis.

Ia mengungkapkan, Pemda sejatinya telah memiliki sistem pengawasan dan pemeringkatan kinerja ratusan SPPG di wilayahnya. 

Namun, ia mengakui adanya kendala komunikasi dalam rantai pengawasan yang tidak langsung menjangkau vendor pelaksana lapangan.
    
Menanggapi desakan publik agar Pemda mempidanakan pihak SPPG yang lalai, Ni Made menegaskan bahwa pemerintah daerah belum akan menempuh jalur hukum dalam waktu dekat. 

Pemda DIY saat ini lebih menitikberatkan pada evaluasi menyeluruh, terlebih data menunjukkan bahwa vendor yang memicu insiden tersebut memang memiliki performa yang rendah dalam sistem pemeringkatan. (rif/nei/han)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.