Harga Minyak Dunia Melonjak 6 Persen Akibat Konflik di Selat Hormuz
Petrus Bolly Lamak September 11, 2026 10:27 AM

 

TRIBUNSORONG.COM - Harga minyak mentah di pasar internasional melonjak lebih dari 6 persen  pada perdagangan hari Kamis, 10 September 2026 menyusul banyaknya serangan rudal yang menyasar kapal-kapal tanker pengangkut minyak di Selat Hormuz.

Para trader minyak was-was makin masifnya serangan terhadap kapal yang terbesar sejak dimulainya konflik terkait Iran akan mengganggu pasokan minyak yang kini sudah ketat.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik US$6,42, atau 6,34 persen menjadi US$107,63 per barel.

Baca juga: Pertamina Hentikan Pasokan BBM 19 SPBU, Sorong dan Ambon Dominasi Pelanggaran

Sementara harga minyak AS menembus angka US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, seiring kenaikan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$6,43 atau naik 6,69 persen menjadi US$102,48.

Kedua acuan harga tersebut mencapai level tertinggi sejak 19 Mei dan mencatat kenaikan paling tajam dalam hampir dua bulan terakhir.

Kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran merebut kendali atas pelabuhan Mocha di Yaman pada hari Kamis, sehingga menambah ancaman terhadap lalu lintas pelayaran di Laut Merah.

Baca juga: Sidang Kasus Mafia BBM di Sorong Ungkap Keterlibatan WNA: Bongkar Hutan Pakai Minya Ilegal

Sementara itu, lalu lintas di kawasan Teluk melalui Selat Hormuz tetap terbatas akibat meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menghadirkan sumber risiko pasar yang baru, memperluas kekhawatiran hingga melampaui isu Iran dan Selat Hormuz, ujar Simon-Peter Massabni, kepala pengembangan bisnis di XS.com.

Ancaman ini tidak lagi terbatas pada satu titik jalur pelayaran vital (choke point) saja, melainkan kini mencakup potensi gangguan yang dapat merembet ke berbagai jalur ekspor regional, lokasi produksi minyak, serta infrastruktur energi lainnya, katanya.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa AS mungkin akan menyerang lokasi Pickaxe Mountain di Iran. Lokasi ini terletak di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang mengalami kerusakan parah.

Trump juga menyatakan bahwa perang tersebut kemungkinan akan berlangsung hingga melewati pemilihan umum paruh waktu bulan November.

Baca juga: 3 Saksi Ungkap Praktik Mafia BBM Subsidi di Kota Sorong, Ada Keterlibatan Puluhan Sopir Truk

Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat tersebut pada hari Rabu, setelah AS menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan akan meningkatkan responsnya terhadap serangan lebih lanjut.

"Dengan meredupnya prospek penyelesaian tuntas konflik Iran dan harga minyak mentah Brent yang baru-baru ini menembus angka US$100 untuk pertama kalinya sejak Juli, pasar minyak mentah kini memasuki kondisi 'kenormalan baru' yang berkepanjangan, di mana risiko gangguan bersifat terus-menerus, bukan sekadar kejadian sesaat," sebut hasil analisis terbaru dari S&P Global Energy.

Para analis menyebutkan, ketahanan tren kenaikan harga ini akan sangat bergantung pada Tiongkok, importir minyak mentah terbesar di dunia.

Tiongkok telah meningkatkan pembelian dalam beberapa minggu terakhir setelah permintaan sempat lesu selama berbulan-bulan, yang turut mendorong pasar fisik minyak mentah, menurut catatan analis ING.

Jika tren pemulihan pembelian oleh Tiongkok berlanjut, hal ini dapat memperbesar dampak gangguan pasokan dan mendorong harga lebih tinggi; sebaliknya, penurunan impor dapat meredam kenaikan harga di pasar, ungkap ING.

"Selama berbulan-bulan, prediksi penurunan harga (bearish) didasarkan pada lemahnya permintaan dari Tiongkok," ujar David Jorbenaze, kepala pasar minyak global di penyedia informasi komoditas ICIS.

Cadangan minyak mentah AS turun sebesar 391.000 barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan lalu seiring aktivitas kilang yang terus menunjukkan kinerja kuat, menurut data Energy Information Administration (EIA). Sebelumnya, para analis memperkirakan adanya penurunan cadangan sebesar 1,55 juta barel.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Siap Bersinergi Bentuk Satgas Pengawasan BBM Subsidi di Manokwari

Pada hari Kamis, OPEC menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2026 menjadi 380.000 barel per hari sebagaimana tercantum dalam laporan bulanan organisasi tersebut yang menandai revisi penurunan untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

Produksi minyak OPEC turun sebesar 640.000 barel per hari pada bulan Agustus, menurut survei Reuters, karena ekspor Arab Saudi menghadapi gangguan baru akibat konflik yang melibatkan Iran, sementara blokade AS memangkas volume pengiriman minyak Iran. (*)

Sumber: The Star/Reuters

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.