SRIPOKU.COM - Misteri hilangnya lima jurnalis dan tiga kru kapal saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau hingga kini belum terpecahkan.
Memasuki hari ketiga pencarian, tim SAR gabungan masih menyisir perairan sekitar Gunung Anak Krakatau hingga wilayah Anyer dan Carita.
Sebanyak 11 kapal dan sekitar 300 personel dikerahkan untuk mencari keberadaan delapan orang tersebut yang hingga kini belum diketahui nasibnya.
Pencarian bahkan diperluas melalui jalur udara dan dibagi menjadi enam sektor.
Di tengah operasi tersebut, tim SAR menemukan sebuah jaket pelampung dan botol pelampung di sektor 6 wilayah Anyer.
Namun, temuan itu belum menjadi titik terang.
Jaket Pelampung yang Ditemukan Bukan Milik Rombongan
Jaket pelampung dan botol pelampung ditemukan ketika petugas menyisir kawasan pantai Carita hingga pesisir Anyer.
Namun, nakhoda kapal Arupadhatu 1 dan 2, Dedy Junaidi, memastikan jaket pelampung tersebut bukan perlengkapan yang digunakan rombongan jurnalis.
Dedy mengatakan, bentuk dan warna jaket yang ditemukan berbeda dengan perlengkapan yang biasa digunakan dalam operasi pencarian.
"Jaketnya warnanya beda, bentuknya juga beda," ujar Dedy, dikutip TribunTrends dari kanal YouTube KompasTV, Jumat (11/9/2026).
Ia juga menyebut sempat menemukan jaket pelampung berwarna oranye yang diketahui merupakan milik KM Alodia Cruz.
Dengan demikian, dari enam sektor pencarian yang telah disisir, belum ditemukan barang yang dapat dipastikan berkaitan dengan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang.
SAR Kerahkan 300 Personel
Tim SAR gabungan memperluas pencarian pada hari ketiga dengan melibatkan 11 kapal dan sekitar 300 personel. Mereka dibagi dalam enam sektor agar penyisiran dapat dilakukan secara lebih luas dan sistematis. Selain melalui jalur laut, pencarian juga dilakukan melalui udara.
Tim SAR juga membuka kemungkinan memasuki area yang berada di sekitar radius aman Gunung Anak Krakatau apabila ditemukan petunjuk yang mengarah ke daratan atau kawasan sekitar gunung.
"Kita akan menyiapkan diri dengan perlengkapan yang ada, kita akan masuk ke sana," kata petugas SAR dalam laporan tersebut.
Namun, kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian karena jarak pandang terbatas akibat asap.
Tim SAR masih harus memastikan apakah asap yang terlihat berasal dari aktivitas vulkanik atau sumber lainnya sebelum melakukan pencarian lebih jauh ke kawasan tersebut.
Keluarga Masih Menunggu Kabar
Di tengah proses pencarian, keluarga para korban masih menanti kabar dengan harapan seluruh rombongan dapat segera ditemukan. Desi, istri salah satu jurnalis bernama Bagus Koirunas, terus menunggu kepastian mengenai keberadaan suaminya.
Bagus diketahui berangkat bersama empat jurnalis lainnya dan tiga kru kapal untuk menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. Keluarga berharap pencarian yang telah diperluas dapat segera menemukan petunjuk mengenai keberadaan rombongan.
Mereka juga meminta nelayan, masyarakat lokal, serta pemandu wisata yang berpengalaman di kawasan tersebut ikut dilibatkan dalam pencarian.
"Teman-teman dari nelayan lokal, masyarakat lokal, dan juga guide yang sudah berpengalaman yang sering bolak-balik ke tempat tersebut untuk diikutsertakan atau dilibatkan dalam proses pencarian ini agar lebih efektif dan pencariannya bisa menyebar ke mana-mana, bisa meluas," ujar salah satu pihak keluarga.
Komunikasi Terakhir Pemandu Wisata
Salah satu pemandu wisata yang ikut dalam rombongan diketahui sempat berkomunikasi dengan istrinya sebelum akhirnya hilang kontak.
Evi, istri pemandu wisata tersebut, mengatakan suaminya sempat mengirimkan foto Gunung Anak Krakatau melalui grup pesan singkat. Foto itu dikirim pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 18.13 WIB.
"Iya. Komunikasi terakhir dengan suami itu hari Senin," kata Evi.
Ia mengatakan, saat itu suaminya hanya mengirimkan foto Gunung Anak Krakatau tanpa menjelaskan lokasi pengambilan gambar.
"Komunikasinya di hari Senin jam 18.13 dia cuma ngirim gambar itu aja," ujarnya.
Setelah foto tersebut dikirim, pesan dari keluarga tidak lagi terkirim. Evi mengatakan komunikasi dengan suaminya kemudian benar-benar terputus sekitar pukul 18.20 WIB.
"Di 18.20 hari Senin sudah lost kontak," kata Evi.
Sempat Pamit Hendak Bekerja
Sebelum berangkat, pemandu wisata tersebut sempat berpamitan kepada keluarganya. Menurut Evi, suaminya berpamitan sekitar pukul 14.06 WIB dan mengatakan hendak bekerja menuju kawasan Krakatau.
"Sempat pamitan di jam 14.06. Dia bilang mau berangkat ke Krakatau," ujar Evi.
Rencananya, sang suami akan kembali pada sore atau malam hari. Ia juga diketahui sudah cukup sering memandu wisatawan di kawasan Krakatau. Namun, menurut Evi, perjalanan pada Senin tersebut menjadi pengalaman pertamanya berada di kawasan itu ketika terjadi erupsi.
"Enggak. Belum, baru hari Senin itu dia ke sana," katanya.
Evi menambahkan, suaminya biasanya membawa perlengkapan keselamatan ketika bekerja, termasuk peralatan P3K dan perlengkapan snorkeling.
"Suami saya juga bawa peralatan lengkap P3K, alat-alat snorkeling dan lainnya," ujar Evi.
Belum Ada Titik Terang
Hingga Kamis malam, keluarga mengaku belum menerima informasi mengenai keberadaan rombongan.
"Belum ada informasi apa-apa. Belum ada titik terangnya," kata Evi.
Meski demikian, keluarga tetap berharap upaya pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan bersama warga lokal dan nelayan dapat membuahkan hasil. Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut masih terus dilakukan dengan memperluas wilayah penyisiran.
Doa dan harapan keluarga pun terus dipanjatkan agar seluruh rombongan segera ditemukan dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga.