TRIBUNNEWS.COM, ACEH TAMIANG - Pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang tak cuma berfokus pada perbaikan gedung dan fasilitas yang rusak, tapi juga memoles keterampilan warganya agar kembali berdaya secara ekonomi.
Sebanyak 112 warga terdampak bencana kini resmi mengikuti Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) skema barista dalam program PRR Ekraf Peduli 2026, Kamis (10/9/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari agenda besar pemerintah pusat melalui Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Kepres No. 1/2026) yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian.
Mengingat Aceh kaya akan tradisi dan potensi kopi, meracik barista andal dinilai sebagai langkah cepat memutar kembali roda perekonomian lokal.
"Investasi terbaik dalam pembangunan ekonomi kreatif bukan hanya pada produk dan infrastrukturnya, melainkan pada sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan berdaya saing," tegas Kapusbang SDM Ekraf, Adi M Rivai.
Senada dengan hal tersebut, Asisten Administrasi Umum Kabupaten Aceh Tamiang, Muhammad Zein, menegaskan pentingnya dukungan penuh seluruh pihak terhadap pelatihan ini.
Menurutnya, pesatnya bisnis kuliner dan kedai kopi saat ini merupakan peluang emas yang harus ditangkap oleh masyarakat setempat.
Nantinya, dari total peserta yang ikut, akan dilakukan kurasi hingga terpilih 86 orang terbaik untuk mengikuti uji sertifikasi kompetensi resmi.
Baca juga: Bangkit Pascabencana, MIN 4 Aceh Tamiang Kembali Miliki Ruang Belajar Layak
Plt Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Aceh Tamiang, Muhammad Farij, optimistis sertifikasi ini dapat membuka peluang kerja baru sekaligus mencetak wirausaha mandiri.
Harapan besar pun digantungkan oleh para peserta. Yogi, salah satu peserta pelatihan, mengaku bersyukur dan berharap program ini tidak berhenti di kelas saja.
"Semoga ada pendampingan berkelanjutan setelah pelatihan ini selesai, jadi kami betul-betul siap bersaing dan buka usaha sendiri," tutur Yogi.
Kegiatan pelatihan yang turut didampingi Tenaga Ahli Deputi III KSP, Pandu Satyahadi Putra dan M. Nawawi, ini diharapkan menjadi titik balik bagi Aceh Tamiang untuk bangkit lebih kuat, bukan sekadar kembali ke kondisi semula, tetapi menciptakan generasi baru penyedong ekonomi kreatif daerah.