TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Warga berdiri di depan pangkalan gas LPG 3 Kg di Jl Antang Raya, tak jauh dari SPBU Pertamina.
Sekitar pukul 09.30 wita, truk yang membawa gas LPG 3 Kg akhirnya tiba.
Warga langsung berkerumun di depan pangkalan.
Kertas kecil berwarna putih sudah dipegang masing-masing warga.
Antrean gelombang pertama mulai mendapat jatah gas. Masing-masing hanya bisa membeli satu tabung saja.
Warga mengantre dengan rapih. Meskipun lelah sudah terpancar dari raut wajah setiap warga.
Setiap nomor yang dipanggil petugas, teriakannya diteruskan pelanggan.
Diantaranya ada Mustamin, warga Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.
Dari Pallangga, ia mengendarai motor demi bisa membeli satu tabung gas.
"Alhamdulillah enakmi dirasa ini. Satu jam biasa kita antre," kata Mustamin kepada Tribun-Timur.com pada Jumat (11/9/2026).
Mustamin dapat antrean nomor satu, meskipun bukan gelombang pertama yang membeli gas.
"Ini pakai nomor, kebetulan saya dapat nomor satu," ujarnya.
Mustamin begitu jauh menempuh perjalanan demi bisa mendapat gas LPG 3 Kg
Sepanjang jalan, ia singgah di toko kelontong, namun tidak dapat juga.
"Tidak ada sepanjang itu didapat, tidak ada biar satu. Kalau datang ke pangkalan bilang habis," katanya.
Mustamin lega kini sudah bisa dapat LPG 3 Kg dengan harga terjangkau Rp 19 ribu.
Ia berharap krisis yang terjadi ini bisa segera berakhir.
Pasalnya ia mulai merasakan kelangkaan gas, antrean panjang BBM hingga kekeringan.
Wakil Ketua Komisi A DPRD Sulsel, Mizar Roem meminta Pertamina terbuka mengenai kondisi stok BBM dan LPG yang masuk ke Sulawesi Selatan.
Legislator Nasdem itu, mengatakan publik perlu tahu secara jelas apakah kelangkaan di lapangan memang disebabkan oleh keterbatasan pasokan atau terdapat persoalan dalam distribusi dan manajemen penyaluran.
Menurutnya, informasi mengenai stok menjadi penting karena jumlah konsumen maupun penerima manfaat subsidi dinilai tidak mengalami perubahan signifikan.
"Kita minta Pertamina terbuka soal stok yang masuk di Sulsel sebenarnya apakah kurang memang atau tidak, karena konsumen tidak bertambah," kata Mizar kepada wartawan Rabu (9/9/2026).
Ia menilai masyarakat berhak mendapatkan kepastian mengenai penyebab kelangkaan yang membuat warga harus mengantre berjam-jam di SPBU untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
Kondisi serupa juga dirasakan masyarakat dalam memperoleh LPG 3 kilogram. Ibu rumah tangga disebut kesulitan mendapatkan tabung gas bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mizar mengatakan, apabila kuota BBM dan LPG bersubsidi serta jumlah penerima manfaat tidak berubah, seharusnya tidak terjadi kelangkaan berkepanjangan di tingkat masyarakat.
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz