Masih Tanah, Lintasan Lari GOR Satria Purwokerto Belum Diganti Sejak Orba
khoirul muzaki September 11, 2026 01:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Stadion Satria Purwokerto hingga kini masih menggunakan lintasan jogging yang belum pernah diganti sejak stadion tersebut dibangun pada era 1990-an.


Kondisi tersebut membuat lintasan di stadion kebanggaan masyarakat Banyumas itu menuai kritik karena dinilai berdebu, dan kurang representatif dan belum memenuhi standar nasional. 


Dampaknya, sejumlah kegiatan olahraga, khususnya atletik berskala provinsi maupun nasional, belum dapat digelar di Stadion Satria.


Kepala UPTD Sarana Prasarana Olahraga GOR Satria Purwokerto, Ade Bahtiar, mengatakan lintasan jogging tersebut memang belum pernah dilakukan penggantian sejak awal dibangun.


"Belum pernah diganti sejak tahun 90-an. 


Belum pernah diganti sama sekali, begitu juga perawatannya," kata Ade kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (11/9/2026).


Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang perlu segera dibenahi untuk meningkatkan kualitas fasilitas olahraga di Stadion Satria.


Pihaknya telah mengusulkan anggaran pada 2027 untuk melakukan perbaikan rumput stadion sekaligus jogging track. 


Nantinya, lintasan akan menggunakan material tartan atau setelban sehingga lebih menyerupai lintasan karet yang memenuhi standar olahraga atletik.


"Kami sudah mengusulkan anggaran 2027 untuk perbaikan rumput dan jogging track dengan menggunakan setelban. 


Sehingga jogging track itu digunakan seperti menggunakan karet," ujarnya. 


Ade menilai perbaikan lintasan tidak hanya berkaitan dengan estetika maupun kenyamanan. 


Fasilitas yang lebih layak diyakini dapat meningkatkan animo masyarakat terhadap olahraga lari dan jogging.


"Dengan demikian akan meningkatkan semangat atau niat-niat untuk berolahraga," katanya.


Berdasarkan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB), kebutuhan untuk membenahi rumput stadion dan jogging track diperkirakan mencapai sekitar Rp11 miliar.


Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp4 miliar dialokasikan untuk perbaikan rumput stadion. Sementara kebutuhan untuk pembangunan atau perbaikan jogging track diperkirakan mencapai sekitar Rp7 miliar.


Usulan tersebut telah dimasukkan dalam rencana anggaran induk 2027. 


Ade berharap kebutuhan anggaran tersebut dapat direalisasikan sehingga pembenahan fasilitas Stadion Satria dapat segera dilakukan.


Ade menyebut sejumlah daerah lain di Jawa Tengah telah lebih dahulu memiliki lintasan atletik dengan material tartan atau setelban.


"Jelas, di Jawa Tengah itu kota-kota besar seperti Semarang, Solo, Kudus, Jepara, Kebumen, Cilacap, Batang itu sudah menggunakan setelban," ujarnya.


Berpeluang Dongkrak PAD


Menurut Ade, pembenahan fasilitas juga dapat memberikan dampak terhadap pendapatan daerah. Stadion dengan fasilitas yang lebih representatif dinilai akan lebih menarik untuk menjadi lokasi penyelenggaraan event olahraga.


"Kalau kita ingin meningkatkan itu juga untuk bisa pendapatan daerah, dengan menarik PAD juga," katanya.


Selain menjadi tempat latihan masyarakat dan atlet, Stadion Satria berpotensi menjadi venue berbagai kompetisi olahraga berskala besar apabila fasilitasnya memenuhi standar.


Ade mengatakan saat ini kondisi lintasan menjadi salah satu kendala ketika ada penyelenggaraan olahraga atletik berskala provinsi maupun nasional.


"Iya, dengan kondisi lintasan yang masih menggunakan tanah sehingga untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya provinsi maupun nasional jadi tidak masuk ke Banyumas," ungkapnya.


Kondisi tersebut juga berdampak kepada atlet atletik Banyumas yang membutuhkan fasilitas latihan sesuai standar pertandingan.


"Iya, karena itu belum standar nasional," katanya.


Ade menilai apabila jogging track diperbaiki hingga memenuhi standar nasional, peluang Banyumas menjadi tuan rumah berbagai event atletik akan semakin terbuka.


"Karena seperti olahraga yang lain, misalnya bulu tangkis sudah pelaksanaan Sirnas. 


Voli juga sudah digunakan Proliga. 


Sehingga kalau ini diperbaiki dengan level nasional, itu jelas akan meningkatkan minat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan atletik ketika nasional," jelasnya.


Ia optimistis Banyumas memiliki potensi besar menjadi lokasi penyelenggaraan event olahraga karena letaknya yang strategis.


Apalagi posisi Banyumas itu sangat strategis. 


"Sangat potensial. Biar semakin dilirik," katanya.


Ade juga berharap perbaikan sarana tersebut dapat memberikan dampak langsung terhadap pembinaan atlet Banyumas.


Menurutnya, lintasan yang memenuhi standar akan memberikan ruang latihan yang lebih aman dan representatif bagi atlet, sehingga dapat mendukung peningkatan prestasi, baik di tingkat daerah maupun nasional.


Selain untuk atlet profesional, lintasan yang layak juga diharapkan dapat digunakan masyarakat umum dengan biaya yang terjangkau.


"Kalau soal tiket sangat memungkinkan, agar terjangkau dengan murah. 


Paling tidak Rp2.000 sampai Rp3.000 masih terjangkau," katanya.


Persoalan kondisi lintasan bukan hanya berkaitan dengan standar pertandingan. Kondisi permukaan yang ada juga dinilai berisiko bagi atlet yang berlatih.


Ade menyebut pernah ada atlet cabang olahraga lari yang terjatuh hingga mengalami cedera ketika melakukan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kabupaten.


Permasalahan lain muncul ketika Stadion Satria digunakan untuk kegiatan besar. 


Kondisi lintasan yang masih berupa tanah membuat debu menjadi persoalan, terutama saat cuaca kering.


Bahkan, untuk mengurangi debu ketika ada kegiatan besar yang diselenggarakan di area lapangan GOR Satria, petugas harus melakukan penyiraman menggunakan armada pemadam kebakaran.


Runner Keluhkan Lintasan


Kondisi jogging track tersebut juga mendapat sorotan dari masyarakat yang rutin menggunakan fasilitas Stadion Satria untuk berolahraga.


Salah seorang pecinta lari atau runner asal Banyumas, Banyu (32), menilai kondisi lintasan saat ini sudah tidak layak digunakan sebagai fasilitas olahraga yang representatif.


"Ajur mumur bolo, kurang layak. Apalagi kondisi kemarau berdebu. 
Saya akhirnya memilih lari di luar area stadion," katanya.


Menurut Banyu, Stadion Satria sebenarnya memiliki potensi besar menjadi pusat aktivitas olahraga lari apabila lintasannya dibenahi.


"Bagus banget buat jadi jogging track yang layak dan profesional. 


Apalagi penggemar lari sekarang banyak. Pasti butuh sarana yang representatif buat berlatih," ujarnya.


Dengan pembenahan tersebut, Stadion Satria tidak hanya dapat menjadi tempat latihan masyarakat, tetapi juga berpeluang menjadi venue pertandingan atletik berskala besar.


Perbaikan fasilitas diharapkan mampu membuka peluang Banyumas menjadi tuan rumah event olahraga tingkat provinsi hingga nasional, sekaligus mendukung pembinaan atlet dan meningkatkan aktivitas olahraga masyarakat. (jti) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.