NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Kabut asap kiriman masih menyelimuti Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Asap itu berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan.
Jarak terdekat antara Natuna ke daratan Kalimantan, khususnya wilayah Kalimantan Barat seperti Pulau Serasan ke Sambas atau Pontianak, adalah sekitar 300 hingga 450 kilometer tergantung titik pulau terluar atau terdekat yang diukur.
Kondisi asap kiriman tersebut membuat kualitas udara di seluruh wilayah Natuna masih mengkhawatirkan.
Hingga Jumat (11/9/2026), sebanyak 17 kecamatan tercatat berada dalam kategori tidak sehat berdasarkan pemantauan kualitas udara terbaru.
Pantauan TribunBatam.id di Kota Ranai, Jumat pagi, kabut asap pekat masih tampak menyelimuti kawasan perkotaan.
Langit terlihat putih keabu-abuan dan sedikit gelap.
Asap membuat pandangan ke arah perbukitan dan Gunung Ranai menjadi samar.
Gunung Ranai yang biasanya terlihat jelas dari sejumlah ruas jalan Kota Ranai, kini hanya tampak sebagai bayangan samar di balik kepungan kabut asap.
Selain itu, udara terasa cukup panas dan pengap efek dari sebaran asap.
Meski demikian, aktivitas masyarakat di Kota Ranai masih berjalan seperti biasa.
Kendaraan tetap melintas, warga beraktivitas, dan sejumlah toko tetap buka.
Kabut asap juga terlihat menyelimuti kawasan perairan Natuna.
Namun, jarak pandang masih relatif aman, meski suasana di kejauhan tampak berkabut dan warna langit terlihat kusam.
Kondisi udara yang tidak sehat juga mulai dirasakan masyarakat.
Dayat, warga Ranai, mengaku merasakan perbedaan kondisi udara dalam beberapa hari terakhir.
"Kalau terlalu lama di luar itu terasa sekali, mata jadi perih. Panasnya juga tak macam biasanya," ujarnya.
Kabut asap yang semakin pekat ini menjadi perhatian karena masyarakat terpapar polutan ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.
Terlebih, kondisi kualitas udara berdasarkan data terbaru Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna mencatat kualitas udara di seluruh 17 kecamatan masih berada pada kategori tidak sehat.
Data kualitas udara Kabupaten Natuna yang diperbarui menunjukkan AQI di seluruh wilayah dengan kategori tidak sehat.
Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5, dengan konsentrasi sekitar 11,3 kali di atas pedoman WHO.
"Berdasarkan rincian per kecamatan, angka AQI di 17 kecamatan kita bervariasi mulai dari 154 hingga paling tinggi 168," ujar Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Natuna, Harmidi.
Untuk itu, ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyikapi kondisi tersebut.
Terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan maupun jantung.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan yang dilakukan dalam waktu lama atau membutuhkan tenaga cukup berat.
"Jadi kategori masih tidak sehat. Untuk itu sebisa mungkin kurangi aktivitas luar ruang yang berat atau lama. Gunakan masker saat berada di luar ruangan," imbaunya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena seluruh 17 kecamatan di Natuna saat ini sama-sama berada dalam status tidak sehat.