TRIBUNPRIANGAN.COM – Hakikat kebahagiaan yang hakiki tidak terletak pada limpahan materi, tingginya jabatan, atau validasi manusia, melainkan pada ketenangan hati (tumaninah) dan kedekatan hubungan dengan Sang Pencipta.
Kebahagiaan duniawi yang bersumber dari hal-hal fisik bersifat semu dan sementara, sedangkan kebahagiaan sejati bersifat abadi dan bersumber dari dalam jiwa yang rida terhadap ketentuan Allah.
Dalam pandangan universal dan spiritual Islam, kebahagiaan sejati dicapai ketika manusia berhasil merdeka dari ketergantungan makhluk dan menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada Allah SWT.
Berbicara perihal Jumat hari ini, tepatnya di hari Jumat tanggal 11 September 2026, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.
Khusus untuk khutbah pada hari ini, berikut merupakan naskah khutbah Jumat tanggal 11 September 2026 dalam Bahasa Sunda yang sudah TribunPriangan.com lansir dari berbagai sumber tentang "Hakekat Kunci Kebahagiaan yang Hakiki".
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026: Demokrasi dan Etika Mengkritik Pemimpin
Khutbah 1
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026: Meneladan Kesederhanaan Nabi Muhammad SAW
Sidang Jumah yang dirahmati Allah
Pertama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Dzat yang tak henti-hentinya melimpahkan karunia nikmat-Nya kepada kita semua, termasuk nikmat taufik, hidayah, dan nikmat berjamaah seperti sekarang ini.
Shalawat teriring salam semoga tercurah kepada Baginda Alam, Habibana Muhammad saw. Shalawat dan salam juga semoga terlimpah kepada para sahabat, para tabiin, tabi’ tabiin-nya, hingga kepada kita semua selaku umatnya.
Tak lupa melalui mimbar yang mulia ini, Khatib berwasiat khusus kepada diri sendiri, umumnya kepada jamaah Jumah sekalian, marilah kita sama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sebab, hanya bekal takwa kita bisa lebih memaksimalkan ketaatan kita kepada-Nya dan menjauhkan diri dari segala bentuk larangan-Nya.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026: Keistimewaan Mengamalkan Istighfar
Sidang jumah yang dimuliakan Allah
Kebahagiaan kita selaku manusia tentu tak sekedar kebahagiaan dunia. Tetapi juga jauh dari itu, kita harus mengejar kebahagiaan hakiki dan abadi di akhirat, yakni meraih kedekatan dengan Penciptanya di dalam negeri keridhaan-Nya. Namun, perlu diingat kita tidak akan meraih kebahagiaan hakiki itu hingga kita makrifat atau mengenal siapa sesungguhnya Tuhan kita melaui tanda-tanda kebesaran-Nya.
Marilah kita perhatikan firman Allah dalam Al-Quran:
سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ
Artinya, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di seluruh penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tadak cukupkah bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Surat Fushilat ayat 53). Ini artinya, kunci mengenal Allah adalah mengenal tanda-tanda kekuasaan-Nya, baik yang ada di jagat raya maupun yang ada pada diri kita itu sendiri.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat Hari Ini, Meneladani Kesederhanaan Nabi Muhammad SAW Kunci Kebahagiaan
Hadirin rahimakumullah
Menurut Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami' li Ahkamil Quran, juz II, halaman 289, melalui ayat di atas, Allah hendak memperlihatkan tanda-tanda keesaan dan kekuasaan-Nya, baik yang tampak kasat mata di seantero cakrawala, maupun yang ada pada diri kita manusia.
Yang ada di seantero cakrawala antara lain langit, bumi, matahari, bulan, bintang, pergantian siang dan malam, angin, hujan, petir, kilat, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Sementara kekuasaan Allah yang ada dalam diri kita sendiri antara lain adalah aneka sistem tubuh yang sangat kompleks, seperti sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem respirasi, sistem reproduksi, sistem imunitas, sistem penciuman, dan sebagainya.
Semua ciptaan di atas dan juga semua sistem yang ada pada tubuh manusia dengan jelas menunjukkan kehebatan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ
Artinya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (Surat Ali Imran ayat 190).
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil Karim, jilid II, halaman 184, Allah tak henti-hentinya mengajak kita selaku manusia untuk menggunakan akal cerdas dan sempurnanya untuk merenungi serta mengenali hakikat yang ada di belakangnya, yaitu kehebatan dan kebesaran Dzat yang menciptakanya.
Setelah mengenal Allah, manusia yang berakal kemudian kian mendalam keimanannya, kian menyadari kelemahan tanpa ada daya serta kekuatan yang diberikan Allah kepada dirinya. Dari kesadaran itu pula manusia kian takut kepada Allah, semakin pasrah kepada-Nya, dan semakin taat kepada-Nya.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026: Rasulullah SAW dan Makna Kesederhanaan
Hadirin yang dirahmati Allah
Mungkin itu pula yang dimaksud dengan pepatah masyhur yang menyebutkan:
مَنْ عَرَفَ َنَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Artinya, “Siapa saja yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026: Maulid Nabi dan Menanti Hidayah
Sidang Jumah yang dirahmati Allah
Makanya, bagi kita selaku muslim, wajib sampai pada hakikat ini, agar kita tak kehilangan arah dan tujuan hidup, agar kita bisa menentukan dari mana diri kita berasal, dari apa kita tercipta, sedang di mana kita berada, mau apa kita di dunia? Apakah ingin bahagia atau ingin celaka? Jika ingin bahagia, kapan dan di mana? Kebahagiaan seperti apa yang kita dambakan? Dan bagaimana cara meraihnya?
Jawabannya, kita berasal dari Allah, tercipta dari tanah, sekarang kita sedang berada di dunia, diciptakan untuk beribadah kepada Allah, saat ajal datang kita akan mati dan kembali kepada Allah, orientasi ibadah untuk meraih rida-Nya serta kebahagiaan, tidak hanya kebahagiaan dunia, tetapi juga kebahagiaan hakiki nan abadi di akhirat, diraih dengan cara menjadi hamba Allah yang sesungguhnya, melalui taat pada perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Jika kita sudah mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, setidaknya kita sudah mampu menyelesaikan satu masalah, yaitu menentukan haluan dan orientasi hidup kita yang hakiki.
Namun ingat, dalam perjalannnya, kita juga harus sadar bahwa halangan dan rintangan akan selalu ada. Mulai rintangan dunia, makhluk, nafsu, hingga setan, akan selalu ada.
Belum lagi rintangan potensi buruk yang ada dalam diri kita, seperti yang diungkap Allah dalam Al-Quran:
فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها
Artinya, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya". (Surat As-Syams ayat 8).
Artinya, selain memiliki tujuan baik, potensi baik, serta sifat-sifat terpuji, kita juga memiliki potensi buruk, sifat-sifat kehewanan, serta sifat-sifat tercela, yang harus kita singkirkan dan kita kalahkan agar tidak menghalangi perjalanan mulia kita menghadap Allah swt.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026: Keutamaan Shalat Berjamaah
Hadirin rahimakumullah
Walhasil, demi meraih tujuan hakiki, kita harus mampu menyingkirkan sifat-sifat kebinatangan, sifat-sifat kesetanan, serta berbagai rintangan dunia, makhluk, nafsu dan setan. Di saat yang sama, kita kembangkan potensi-potensi baik, sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat kemalaikatan. Tinggalkan kebahagiaan hewani dan kejar kebahagiaan hakiki.
Kebahagiaan hewani terletak pada makan, minum, tidur, dan kawin. Sementara kebahagiaan hakiki terletak pada menyaksikan keindahan hadirat Allah. Ikutilah tujuan para malaikat. Berusahalah mengetahui jati diri agar bisa mengenal Allah dan berhasil menggapai kebahagiaan yang hakiki nan abadi di akhirat.
Sebab, kebahagiaan yang hakiki berada di sisi Dzat Yang Abadi, menyaksikan keagungan dan keindahan-Nya tanpa penghalang apa pun. Pada saat yang sama, kita harus berusaha mengenali sifat-sifat yang dominan pada diri kita, membebaskan diri dari sifat-sifat hewani, dan menjauhkan diri dari tipu daya nafsu dan amarah, serta mendekatkan diri dengan sifat-sifat ketuhanan.
Namun, hal ini jangan dipahami bahwa kita tidak boleh makan, minum, tidur, dan kawin dengan pasangan, melainkan menjadikan nafsu sebagai tahanan kita, bukan kita yang menjadi tawanannya. Sebab, Allah menciptakan nafsu untuk melestarikan kehidupan kita, bukan untuk menghancurkan kehidupan kita. Maka jadikanlah nafsu di belakang kita, bukan di depan kita. Jadikan nafsu sebagai kendaraan kita mencapai tujuan, bukan untuk menggagalkan tujuan.
Setibanya di tujuan, letakkanlah kembali nafsu pada tempatnya, yakni di bawah kendali makrifat, hati, dan akal sehat kita. Fokus pada tempat dan sumber kebahagiaan, yakni Allah swt. Sebab, itulah tempat kebahagiaan hakiki dan abadi.
Siapapun yang menginginkan kebahagiaan itu haruslah mengetahui hakikat dirinya dan makrifat kepada tuhannya.
Demikian penjelasan tentang kunci makrifat kepada Allah dan kebahagiaan hakiki sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimiya-us Sa‘adah, halaman 124).
Hadirin, semoga kita tetap istiqamah dalam menempuh perjalanan kita, diberi kekuatan untuk menyingkirkan halangan dan rintangan di dalamnya, serta sukses meraih kebahagiaan yang hakiki. Amin ya Rabbal 'alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 11 September 2026: Introspeksi Diri Jalan Menuju Kesabaran Hakiki
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر