Firasat Ayah Bagus, Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau, Dikenal Berani Liput Wilayah Bencana
ninda iswara September 11, 2026 11:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda memasuki hari keempat. Rombongan tersebut sebelumnya berangkat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Tim SAR gabungan terus menyisir kawasan yang telah ditentukan untuk mencari keberadaan para jurnalis dan kru kapal tersebut.

Operasi pencarian dilakukan dari sejumlah titik dengan mengerahkan kapal Rigid Inflatable Boat (RIB), kapal lainnya, hingga dukungan pemantauan melalui udara.

300 Personel Dikerahkan, Helikopter Lakukan Pemetaan Udara

Posko Utama SAR berada di kawasan Pantai Marina Carita, Pandeglang, Banten. Dari posko tersebut, informasi mengenai perkembangan operasi pencarian dihimpun dari Basarnas, TNI, dan Polri.

Pada hari keempat pencarian, tim SAR telah bertolak dari Pantai Carita menuju titik pencarian menggunakan kapal RIB. Sementara itu, sejumlah kapal lain bergerak dari wilayah Cilegon dan Merak untuk mendukung operasi.

Kepala Kantor SAR Banten menyebut sekitar 300 personel dilibatkan dalam operasi pencarian tersebut. Selain kapal, satu unit helikopter juga dikerahkan untuk melakukan pemantauan sekaligus pemetaan dari udara.

"Tim sudah bertolak dari Pantai Carita menuju ke titik yang telah ditentukan menggunakan kapal RIB. Sementara kapal yang lain masih bertolak dari Banten maupun juga dari Merak," ujar jurnalis di Posko Utama SAR.

Operasi pencarian ini dilakukan untuk menemukan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang belum diketahui keberadaannya setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Baca juga: Komunikasi Terakhir Pemandu yang Bawa 5 Jurnalis ke Perairan Anak Krakatau, Fakta Temuan Pelampung

Ayah Bagus Ungkap Putranya Berangkat Tanpa Penugasan Kantor

Di tengah pencarian, keluarga para jurnalis terus menunggu kabar mengenai keberadaan mereka. Salah satunya keluarga Muhammad Bagus Khoirunnas, jurnalis Antara yang ikut dalam rombongan tersebut. Ayah Bagus, Mansur, mengatakan hingga hari keempat pencarian belum mendapatkan kabar terbaru mengenai putranya.

"Ya, kalau kabar terbaru si belum ya, karena pagi hari ini belum," kata Mansur, dikutip dari kanal YouTube Official iNews, Jumat 11/9/2026).

Mansur kemudian menceritakan bahwa Bagus berangkat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau atas inisiatif sendiri. Menurutnya, tidak ada penugasan resmi dari kantor kepada Bagus untuk melakukan peliputan tersebut.

"Kalau menurut saya sih dari kantor enggak ada, Pak. Enggak ada penugasan dari kantor," ujar Mansur.

Meski demikian, Bagus tetap berangkat karena ingin menjalankan profesinya sebagai wartawan sekaligus mendapatkan gambar mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Foto erupsi Gunung Anak Krakatau yang diambil Bagus bahkan sempat diunggah oleh Presiden Prabowo Subianto.

Sempat Dilarang Istri dan Teman

Mansur mengungkapkan, sebelum berangkat ke kawasan Gunung Anak Krakatau, Bagus sebenarnya sudah mendapat larangan dari keluarga dan teman-temannya. Mereka khawatir perjalanan tersebut membahayakan keselamatan Bagus.

"Istrinya juga melarang, jangan. Teman-temannya juga yang terakhir itu sampai 10 kali, 'Jangan Gus, jangan Gus. Jangan ikut, jangan naik nyebrang'," tutur Mansur.

Namun, Bagus tetap berangkat. Mansur menduga putranya kemudian berkomunikasi dengan komunitas pewarta foto dan akhirnya ikut dalam perjalanan menuju perairan Selat Sunda. Menurut Mansur, keberanian Bagus melakukan peliputan di lokasi bencana memang bukan hal baru.

Dikenal Berani Meliput Wilayah Bencana

Mansur menggambarkan Bagus sebagai wartawan yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Ia menyebut putranya telah banyak meliput berbagai peristiwa bencana di wilayah Banten.

"Kalau sosoknya itu saya kira dia potensi, wartawan profesional ya. Sangat potensi," ujar Mansur.

Bagus disebut aktif meliput bencana tsunami yang terjadi di kawasan Pandeglang dan Anyer pada 2018. Dalam sejumlah peliputan, ia juga kerap berada di lokasi yang memiliki risiko tinggi. Mansur mengingat Bagus pernah meliput banjir bandang hingga hampir terseret lumpur.

Bagus juga pernah mendatangi wilayah pedalaman Lebak dan Pandeglang untuk mengangkat cerita mengenai budaya masyarakat setempat. Ia bahkan disebut berani melintasi kawasan pegunungan pada malam hari demi mendapatkan bahan liputan.

"Dia malam hari melintasi pegunungan kawasan Gunung Halimun yang topografinya itu perbukitan dan masih banyak binatang-binatang buas mungkin," kata Mansur.

Menurut Mansur, keberanian tersebut dilandasi keyakinan Bagus kepada Tuhan.

"Ia tidak takut, filosofi saya tanya dia kenapa dia enggak takut, dia itu hanya pasrah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala," ujarnya.

JURNALIS HILANG - (kiri) Foto terakhir yang dikirim salah satu jurnalis ke istri sebelum hilang kontak. (kanan) Lima Jurnalis hilang kontak saat akan liputan ke Gunung Anak Krakatau dan saat ini masih dalam pencarian
JURNALIS HILANG - (kiri) Foto terakhir yang dikirim salah satu jurnalis ke istri sebelum hilang kontak. (kanan) Lima Jurnalis hilang kontak saat akan liputan ke Gunung Anak Krakatau dan saat ini masih dalam pencarian (Youtube/Official iNews | Istimewa via Kompas.com)

Sebelum Hilang Kontak, Rombongan Sempat Menginap di Hotel

Sementara itu, sejumlah informasi mengenai jejak terakhir rombongan mulai terungkap. Sebelum berangkat menuju perairan Selat Sunda, lima jurnalis dan tiga kru kapal diketahui sempat menginap di sebuah hotel di Pandeglang, Banten.

Mereka memesan kamar untuk dua malam. Pihak hotel menyebut rombongan tiba pada Minggu malam secara terpisah menggunakan dua kendaraan. Setelah menginap, rombongan kemudian berpamitan kepada penjaga hotel untuk berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

"Mereka rencananya dua malam. Jadi nanti langsung pulang, langsung mau menginap lagi rencananya. Cuma sampai sekarang belum kembali lagi," ujar penjaga hotel.

Di hotel tersebut, kendaraan serta sejumlah barang pribadi milik para jurnalis masih tertinggal. Hotel tersebut kemudian menjadi salah satu lokasi yang didatangi keluarga untuk menelusuri barang-barang milik para jurnalis.

Keluarga Yudistiro Ambil Barang di Hotel

Keluarga jurnalis Yudistiro Pranoto juga mendatangi hotel tempat rombongan terakhir menginap. Kedatangan keluarga dilakukan untuk memeriksa dan mengambil barang-barang milik Yudistiro yang masih berada di kamar hotel. Perwakilan keluarga terlebih dahulu mencocokkan barang-barang tersebut dengan istrinya sebelum membawanya.

"Jadi nanyanya sejumlah barang dibawa oleh pihak keluarga usai terkonfirmasi barang tersebut milik Yudistiro," ujar perwakilan keluarga.

Keluarga berharap barang-barang tersebut nantinya dapat membantu mengingat kembali keberadaan dan aktivitas terakhir Yudistiro sebelum rombongan berangkat menuju Gunung Anak Krakatau. Namun, di balik proses tersebut, keluarga tetap berharap Yudistiro dan seluruh rombongan segera ditemukan dalam keadaan selamat.

"Saya kepenginnya bukan saya yang bawa. Saya kepenginnya Yudi saya yang ngambil, gitu. Itu aja harapannya seperti itu," kata perwakilan keluarga.

Tim SAR Terus Berupaya Menemukan Rombongan

Hingga hari keempat pencarian, tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran di sejumlah titik perairan Selat Sunda. Sekitar 300 personel dikerahkan, didukung kapal RIB dan helikopter untuk pemantauan serta pemetaan udara.

Operasi tersebut diharapkan segera membuahkan hasil sehingga keberadaan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak dapat diketahui. Keluarga dan rekan-rekan para korban juga terus menanti kabar dengan harapan seluruh rombongan dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

(TribunTrends)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.