TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mempawah resmi memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hingga 22 September 2026 mendatang.
Kebijakan perpanjangan status tersebut secara resmi berlaku sejak Rabu, 9 September 2026.
Langkah ini diambil mengingat potensi ancaman karhutla yang masih membutuhkan kewaspadaan tinggi di seluruh wilayah.
Keputusan tersebut berdasar pada temuan di lapangan, di mana sejumlah titik panas (hotspot) serta kabut asap tipis masih terlihat membentang dari wilayah selatan hingga utara Kabupaten Mempawah.
Selain itu, indeks kualitas udara di beberapa titik kawasan masih berada dalam kategori kurang sehat.
Secara geografis, Kabupaten Mempawah terletak sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Pontianak yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat.
Pusat Pemerintahan Kabupaten Mempawah di Kota Mempawah berjarak sekitar 65 hingga 75 kilometer ke arah utara dari pusat Kota Pontianak.
Akses perjalanan darat dari Kota Pontianak menuju Kabupaten Mempawah dapat ditempuh melalui Jalan Nasional Jalur Pantura Kalimantan Barat dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 hingga 2 jam.
Kedekatan jarak antarwilayah ini menjadikan kondisi kabut asap akibat karhutla di Kabupaten Mempawah berpotensi memengaruhi kualitas udara serta jarak pandang di wilayah perbatasan Kota Pontianak dan sekitarnya.
Meskipun jumlah hotspot yang terpantau mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, penanganan karhutla di lapangan terus digencarkan secara intensif oleh Satuan Tugas (Satgas) Gabungan.
Koordinator Operasi Darat Posko Terpadu Karhutla Kabupaten Mempawah, Desvan Erdanustie, menegaskan bahwa seluruh personel gabungan terus disiagakan untuk memantau daerah-daerah rawan guna mencegah kembalinya kobaran api besar.
"Walaupun hotspot yang muncul tidak terlalu banyak, penanganan tetap kita optimalkan. Kita lakukan patroli rutin, pemadaman langsung, kemudian pendinginan di lokasi-lokasi bekas terbakar," ujar Desvan.
• Kemarau Panjang, Polsek Mempawah Hilir Salurkan 15 Ton Air Bersih ke Rumah Warga
Desvan menjelaskan bahwa proses pendinginan (cooling down) merupakan tahap vital dalam penanggulangan karhutla di lahan gambut.
Menurutnya, pemadaman tidak boleh hanya menyasar api yang terlihat di permukaan tanah saja.
"Jadi bukan hanya apinya yang kita padamkan. Setelah itu kita lakukan pendinginan untuk memastikan bara-bara yang masih ada di dalam lapisan tanah benar-benar padam," kata Desvan.
Menghadapi tantangan berupa keterbatasan jumlah personel operasional di tengah luasnya area penanganan, Posko Terpadu Karhutla Kabupaten Mempawah menerapkan strategi pengoperasian melalui sistem rolling atau pergantian sif secara berkala.
Langkah tersebut diambil guna menjaga stamina dan kesehatan para petugas pemadam kebakaran di lapangan yang kerap harus bertugas selama berjam-jam di bawah terik matahari dan kepulan asap.
"Untuk personel kita terapkan sistem rolling. Tim mulai bergerak ke lapangan sekitar pukul 10.00 WIB dan bisa bertahan sampai pukul 16.00 atau 17.00 WIB, tergantung kondisi medan dan tingkat urgensi di lokasi," terangnya.
Selain mengerahkan armada dan personel ke lokasi-lokasi prioritas pemadaman lahan, Posko Terpadu Karhutla juga menginstruksikan tim khusus untuk tetap siaga penuh (standby) di markas komando (mako).
Kehadiran tim siaga di Mako BPBD Kabupaten Mempawah bertujuan untuk merespons cepat laporan darurat yang sewaktu-waktu masuk dari warga masyarakat.
"Di kantor juga tetap ada tim yang standby. Jadi ketika ada laporan kebakaran permukiman, lahan masyarakat, atau fasilitas umum, bisa segera kita respons cepat tanpa mengganggu tim operasional yang sedang fokus di lokasi penanganan utama," tutur Desvan.
Ia memastikan seluruh unsur terkait terus memperkuat koordinasi, baik melalui kegiatan patroli darat, pemadaman, pendinginan, maupun menindaklanjuti setiap informasi yang disampaikan warga.
"Semua tetap kita sinergikan. Informasi dari masyarakat maupun hasil patroli terus kita pantau dan tindak lanjuti. Prinsipnya, selama status tanggap darurat ini diperpanjang, kita tetap siaga dan tidak boleh lengah," tegasnya.
Melalui perpanjangan status Tanggap Darurat ini, Pemkab Mempawah mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi aktif menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan.
Warga yang melihat kemunculan titik api atau asap imbas karhutla diminta segera melaporkannya kepada petugas atau posko terdekat agar dapat ditangani secara dini.
Desvan Erdanustie, S.T., M.Ec.Dev. merupakan aparatur sipil negara (ASN) yang saat ini mengemban amanah sebagai Kepala Bidang (Kabid) Kebakaran pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah.
Dalam penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Desvan dipercaya menjabat sebagai Koordinator Operasi Darat Posko Terpadu Karhutla Kabupaten Mempawah.
Berbekal latar belakang pendidikan di bidang teknik dan pembangunan ekonomi, Desvan aktif memimpin berbagai operasi tanggap bencana di lapangan, mulai dari penanggulangan karhutla, penanganan bencana banjir, hingga evakuasi darurat di wilayah Kabupaten Mempawah.
Biodata Singkat
Nama Lengkap: Desvan Erdanustie, S.T., M.Ec.Dev.
Jabatan Struktural: Kepala Bidang Kebakaran BPBD Kabupaten Mempawah
Jabatan Satgas: Koordinator Operasi Darat / Koordinator Lapangan Posko Terpadu Karhutla Kabupaten Mempawah
Instansi: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah
Pendidikan
Sarjana Teknik (S.T.)
Magister Economics of Development (M.Ec.Dev.) (*)