TRIBUNJOGJA.COM - Secangkir teh tersaji di atas meja, ditemani dadar gulung dan sejumlah kudapan.
Namun, sajian tersebut bukan sekadar minuman untuk menemani sore.
Di baliknya terdapat tradisi Patehan, sebuah tradisi penyajian teh yang lekat dengan tata krama dan kehidupan di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Tradisi tersebut diperkenalkan dalam Exclusive Preview Ambarukmo Atisomya – Patehan, The Royal High Tea Ceremony di Pendopo Agung Kedhaton Ambarukmo, Kamis (10/9/2026).
Sebelum mengikuti prosesi Patehan, peserta terlebih dahulu diajak mengenal kawasan yang menyimpan jejak sejarah Keraton Yogyakarta.
Perjalanan dimulai dari room tour kawasan Kedhaton Ambarukmo.
Leo selaku Pengelola memperkenalkan sejumlah bangunan bersejarah kepada peserta, termasuk ndalem yang dahulu menjadi tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
"Nah, di sini dulu juga menjadi tempat singgah Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Selain itu, di sini juga ada pendopo yang dulu digunakan untuk menyambut tamu Sri Sultan. Dulu, kereta akan berhenti di depan pendopo dan akan disambut oleh Sri Sultan," ujarnya.
Di belakang ndalem, terdapat area pemandian yang di bagian atasnya berdiri sebuah pendopo.
Dahulu, kawasan tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan. Namun kini, tempat tersebut tidak lagi digunakan untuk kegiatan umum dan dipertahankan sebagai bagian dari kawasan bersejarah.
Dari bangunan-bangunan tersebut, peserta tidak hanya melihat bentuk fisik peninggalan masa lalu, tetapi juga mendapat gambaran mengenai kehidupan dan aktivitas yang pernah berlangsung di kawasan Kedhaton Ambarukmo.
Setelah menyusuri jejak sejarah tersebut, peserta kemudian diperkenalkan dengan Patehan.
Menurut Leno Christiannaldo, Patehan merupakan tradisi penyajian teh kuno sekaligus bagian dari tata krama keraton di Keraton Yogyakarta. Tradisi tersebut memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar menyajikan minuman.
"Patehan adalah tradisi penyajian teh kuno dan tata krama keraton di Keraton Yogyakarta yang menyimbolkan keharmonisan, kesabaran, dan penghormatan," ujar Leno.
Nama Patehan sendiri berasal dari kata teh. Dahulu, penyajian minuman kepada Sultan dilakukan sejak pagi hingga menjelang siang, sekitar pukul 06.00 hingga 11.00.
Dalam kegiatan tersebut, Royal Ambarukmo mengadopsi tradisi Patehan dari Keraton Yogyakarta dan menghadirkannya sebagai pengalaman budaya bagi peserta.
"Patehan diselenggarakan karena animo masyarakat cukup banyak. Jadi, Patehan itu apa? Patehan adalah salah satu culture activity atau kegiatan budaya yang ada di Royal Ambarukmo Yogyakarta. Di keraton pun sampai saat ini masih mengadakan tradisi Patehan. Nah, di hotel lain di Indonesia, hanya Royal Ambarukmo Yogyakarta yang bisa mengadopsi tradisi ini," ujarnya.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyajian teh bersama sejumlah kudapan, di antaranya dadar gulung dan pastry yang mempunyai makna di dalamnya.
Bagi peserta, sajian tersebut menjadi bagian dari pengalaman mengikuti tradisi yang selama ini lekat dengan lingkungan keraton.
Rahmat, salah seorang peserta, mengaku kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti Patehan.
Ia menyebut pengalaman tersebut tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberinya kesempatan untuk belajar lebih jauh mengenai budaya.
"Baru pertama kali ikutan event ini, tapi rasanya senang, seru, dan ini menjadi momen yang luar biasa. Dari edukasi ini, kita mulai belajar jemparingan, aksara Jawa, dan juga gamelan. Ini menjadi ajang untuk kita, generasi Z ataupun milenial, melestarikan budaya Jawa," ujarnya.
Pengalaman peserta tidak berhenti pada prosesi Patehan.
Setelahnya, mereka juga diajak mengenal berbagai unsur budaya Jawa melalui kegiatan bermain gamelan, mengenal aksara Jawa, hingga mencoba jemparingan.
Rangkaian tersebut membuat Patehan hadir bukan hanya sebagai tradisi penyajian teh, tetapi juga sebagai pintu untuk mengenalkan kembali kebudayaan Jawa kepada masyarakat.
Pada akhirnya, secangkir teh yang tersaji dalam Patehan membawa cerita yang jauh lebih panjang. Ada jejak kehidupan Sultan, bangunan yang menyimpan sejarah, tata krama yang diwariskan, hingga berbagai kesenian dan tradisi Jawa yang terus diperkenalkan.
Sebab dalam Patehan, teh bukan sekadar minuman. Ia menjadi bagian dari cara sebuah tradisi menyimpan nilai tentang keharmonisan, kesabaran, dan penghormatan, lalu membawanya kembali untuk dikenali oleh generasi hari ini.
MG Filda Noviana