Aparat Keamanan Kantongi Ciri-ciri dan Identitas Pelaku Penembakan 3 ASN di Jayawijaya: Kita Kejar
Astini Mega Sari September 11, 2026 01:29 PM


TRIBUN-PAPUA.COM
- Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 mengaku sudah mengantongi ciri-ciri dan identitas pelaku penembakan terhadap tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Diketahui, ketiga ASN tersebut tewas ditembak oleh diduga Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Muliama, pada Rabu (9/9/2026) sore.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Yusuf Sutejo, mengatakan pihaknya telah mengantongi ciri-ciri dan identitas pelaku setelah memeriksa saksi yang merupakan korban selamat dalam peristiwa tersebut.

Baca juga: Keluarga Korban Penembakan KKB Mengaku Diteror, Ponsel Korban Diduga Dirampas oleh Pelaku 

PENEMBAKAN - Sejumlah petugas medis Puskesmas di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan sedang memberikan pertolongan medis kepada tiga pegawai Dinas Pertanian yang menjadi korban penembakan, Rabu (9/9/2026).
PENEMBAKAN - Sejumlah petugas medis Puskesmas di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan sedang memberikan pertolongan medis kepada tiga pegawai Dinas Pertanian yang menjadi korban penembakan, Rabu (9/9/2026). (Tribun Papua/Istimewa)

"Dari hasil pendalaman, kita sudah lakukan pemeriksaan terhadap saksi korban yang selamat. Ciri-ciri pelaku sudah kita kantongi dan tim gabungan saat ini sedang melakukan pengejaran di lapangan," ujar Yusuf dalam keterangan resminya, Kamis (10/9/2026).

Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 telah mengerahkan 50 personel tambahan dari Timika menuju Jayawijaya untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku dan menjaga keamanan di wilayah tersebut.

"Tentunya kita kejar, insyaallah kita dapat, karena identitas pelaku sudah kita kantongi," tegasnya.

Pelaku Berjumlah 8 Orang, Bawa Senpi Laras Panjang

Dalam pemeriksaan di Polres Jayawijaya, saksi korban menginformasikan bahwa aksi penyerangan dilakukan oleh anggota KKB yang berjumlah delapan orang.

Kelompok tersebut membawa dua pucuk senjata api laras panjang. 

Sementara itu, dari hasil oleh Tempat Kejadian Perkara (TKP), Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 menemukan tiga selongsong peluru dan jejak darah.

Dua selongsong peluru yang ditemukan berkaliber 5,56 milimeter yang merupakan amunisi senjata laras panjang, sedangkan satu selongsong lainnya berkaliber 9 milimeter dari senjata laras pendek.

Baca juga: Kronologi Penembakan 3 ASN di Jayawijaya, Korban Diadang KKB seusai Tinjau Kegiatan Cetak Sawah

Kronologi Penembakan

Peristiwa tersebut bermula ketika rombongan korban yang terdiri dari 11 orang dalam perjalanan kembali menuju Kota Wamena seusai meninjau pelaksanaan kegiatan program cetak sawah.

Mereka lalu diadang oleh KKB di Distrik Muliama.

Ketiga korban ditembaki di lokasi tersebut sementara delapan orang lainnya yang berada dalam rombongan tersebut berhasil selamat setelah berlindung di Puskesmas Muliama.

AR dan AAM tewas di lokasi kejadian. Sementara WB meninggal dunia setelah sempat dievakuasi ke RSUD Wamena untuk mendapatkan perawatan medis.

Baca juga: Pasca-penembakan ASN Jayawijaya, OPM Ancam Pemerintah dan Nyatakan Perang Terbuka di Wamena

TPNPB-OPM Akui Bertanggung Jawab, Tuding Korban Agen Intelijen

Sementara itu, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap III Ndugama Darakma mengaku bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, dalam keterangan tertulisnya kepada Tribun-Papua.com menuding ketiga korban sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia.

"Kami bertanggung jawab atas penembakan tiga orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya," ujar Sebby.

TPNPB-OPM beralasan penembakan dilakukan lantaran khawatir para korban akan membocorkan informasi keberadaan pasukan mereka kepada aparat keamanan.

Dalam siaran persnya, TPNPB-OPM secara terbuka menyatakan tidak akan bergeser dari wilayah Jayawijaya dan mengancam akan memperluas area konflik hingga pusat kota.

Selain itu, TPNPB-OPM juga memberikan ultimatum sepihak untuk membatasi pergerakan masyarakat di sejumlah akses jalan vital Papua Pegunungan seperti jalur Trans Wamena–Tiom, Wamena–Yalimo, hingga Wamena–Jayapura.

Mereka juga menuntut agar seluruh aktivitas perkantoran pemerintahan di Kota Wamena dihentikan pada jam-jam tertentu. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.