Israel Disebut Ledakkan Lebih dari 2 Kilometer Terowongan Hizbullah di Lebanon
Garudea Prabawati September 11, 2026 02:35 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM - Militer Israel mengklaim telah menyelesaikan penghancuran jaringan terowongan bawah tanah sepanjang lebih dari 2 kilometer di Dataran Tinggi Ali al-Taher, dekat Nabatieh, Lebanon selatan.

Ledakan besar terjadi di kawasan tersebut pada Kamis dan menimbulkan getaran kuat yang terdengar di berbagai wilayah Provinsi Nabatieh dan sekitarnya.

Ledakan itu berlangsung setelah Channel 12 Israel dan lembaga penyiaran publik KAN melaporkan bahwa militer Israel bersiap menghancurkan terowongan dan infrastruktur bawah tanah di kawasan tersebut.

Dataran Tinggi Ali al-Taher berada di antara Kfar Tibnit dan Nabatieh al-Fawqa, di sebelah utara Sungai Litani.

Dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, kawasan tersebut memiliki nilai strategis karena memungkinkan pengawasan terhadap wilayah yang luas di Lebanon selatan, mengutip Anadolu Agency, Jumat (11/9/2026).

Militer Israel kemudian menyatakan bahwa pasukan dari Divisi ke-36 telah mencapai apa yang disebutnya sebagai kendali operasional di atas dan di bawah tanah di kawasan Ali al-Taher.

Baca juga: Zionis Israel Terus Lakukan Serangan di Lebanon Selatan, Sejumlah Wilayah Jadi Sasaran

Israel menuduh jaringan terowongan tersebut dibangun untuk digunakan oleh kelompok Hezbollah.

Militer Israel menyatakan jalur bawah tanah yang dihancurkan memiliki panjang total lebih dari 2 kilometer.

Israel Tegaskan Pasukan Tetap di Zona Keamanan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa penghancuran jaringan terowongan tersebut melengkapi apa yang mereka sebut sebagai pengorganisasian zona keamanan di Lebanon selatan.

Keduanya menegaskan bahwa militer Israel akan tetap berada di zona keamanan tersebut.

Pernyataan itu menambah kekhawatiran mengenai masa depan kesepakatan kerangka kerja yang ditengahi Amerika Serikat (AS) antara Israel dan Lebanon.

Kesepakatan tersebut mengatur penarikan bertahap Israel dari wilayah-wilayah yang didudukinya di Lebanon selatan dengan imbalan penempatan pasukan Lebanon di kawasan tersebut.

Namun, Israel tetap mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah dan terus melakukan operasi terhadap lokasi yang diklaim berkaitan dengan Hezbollah.

Eskalasi di Tengah Dinamika Politik Israel

Eskalasi militer Israel di Lebanon juga berlangsung menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi tantangan untuk mengamankan dukungan politik yang cukup bagi pembentukan pemerintahan.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan blok pendukungnya masih menghadapi kesulitan mencapai mayoritas 61 kursi.

Isu keamanan dan konfrontasi dengan kelompok-kelompok yang didukung Iran di kawasan menjadi bagian penting dalam retorika politik Netanyahu.

Perkembangan di Lebanon selatan karena itu tidak hanya berdampak terhadap hubungan Israel-Lebanon, tetapi juga berpotensi menjadi isu penting dalam dinamika politik domestik Israel.

(*)
 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.