TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Deretan ember dan wadah penampungan air jenis tedmond berjejer rapi di sepanjang tepi jalan permukiman warga di Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Pantauan Jurnalis TribunPadang.com, Arif Ramanda dilokasi Jumat (11/9/2026) beberapa wadah plastik tersebut tampak terisi air hingga batas leher, sementara sebagian besar lainnya dibiarkan kosong, sengaja dideretkan oleh pemiliknya demi mengantre pasokan air bersih yang tak kunjung pasti jam kedatangannya.
Gambaran visual tersebut menjadi pemandangan harian yang kini menghiasi sudut permukiman warga setempat.
Krisis air bersih yang melanda wilayah ini bukanlah persoalan anyar yang terjadi secara mendadak.
Salah seorang warga setempat, Nadia, mengungkapkan bahwa bencana kekeringan ini sudah membelit kehidupan masyarakat sejak akhir tahun lalu pascabencana alam.
Baca juga: KemenHAM Kecam Penembakan 3 Warga Sipil di Jayawijaya, Minta Pelaku Dihukum
Menurut Nadia, kelangkaan air mulai terasa amat parah setelah terjadi perubahan alur aliran sungai di kawasan tempat tinggal mereka.
"Saluran sungai banyak yang tidak dijalurnya, mungkin itu penyebab mata air kering hingga sumur-sumur warga terdampak," ujar Nadia saat ditemui di lokasi.
Perubahan bentang alam tersebut memicu mengeringnya sejumlah titik sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan utama.
Dampaknya langsung merembet ke sumur-sumur galian milik warga sekitar yang kini tak lagi memancarkan air.
Baca juga: Sumatera Bersatu, Ekonomi Kuat, Gubernur Sumbar Mahyeldi Dorong Kerja Sama IMT-GT Makin Nyata
Nadia menyebutkan bahwa dirinya bersama warga sekitar sudah terjerat dalam krisis kekeringan ini dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Hampir sembilan bulan kami kekeringan. Sekarang tergantung pada air hujan dan bantuan air bersih dari pemerintah," tuturnya.
Ketersediaan air sumur maupun pasokan dari jaringan Pamsimas hanya akan terisi secara alami apabila hujan turun membasahi wilayah tersebut.
"Jika air hujan sumur mulai berair atau Pamsimas pun berair, namun hanya beberapa hari saja," tambah Nadia.
Guna menyambung hidup, pasokan air bersih disalurkan oleh Pemerintah Kota Padang melalui armada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).
Baca juga: Sempat Rawat Jalan, Siswa Keracunan MBG di Palupuh Agam Kembali Masuk Kelas
"Bantuan dari Pemko seperti BPBD maupun Damkar itu memang ada, tapi tidak tahu jadwal tetapnya. Terkadang sekali seminggu," jelasnya.
Nadia menaruh harapan besar agar pihak pemerintah daerah dapat memberikan ketetapan waktu penyaluran bantuan tersebut.
"Saya berharap ada jadwal tetap, jadi kami bisa memperhitungkan pemakaian air. Air sangat banyak kegunaan, baik untuk mandi, MCK, cuci baju, semua tergantung," pungkas Nadia.
Kepanikan dan kecemasan senada turut dirasakan oleh warga lainnya, Mardiana, yang mengaku pasrah menghadapi kondisi sulit ini.
"Sudah hampir sembilan bulan kekeringan ini. Apalagi pemakaian air harus sangat irit, mengingat nanti takut terdesak air habis," ungkap Mardiana.
Baca juga: Kabut Asap Mengancam, Wako Bukittinggi Terbitkan SE Imbau Warga Kurangi Aktivitas Luar
Ia berharap kondisi pasokan air di daerahnya dapat segera pulih normal seperti sedia kala tanpa perlu memicu kerumitan saat menampung air.
Di sisi lain, pangkal krisis yang berkepanjangan ini ternyata juga menyulut gesekan sosial di tengah masyarakat saat pembagian bantuan.
"Kemudian sangat disayangkan juga terkkadang ada yang bertengkar sesama warga dalam pembagian air bersih ini," tutur Mardiana.
Mardiana mengimbau agar sesama warga yang sama-sama menjadi korban kekeringan dapat menahan diri dan saling mengerti.
"Ya sesama terdampak saling paham situasi dan berdamai saja, jangan bertengkar pula," imbaunya. (*)