BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Fenomena warga telantar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tak hanya dari warga lokal, sejumlah warga luar pulau bahkan turut ditelantarkan di Kota Seribu Sungai melalui jalur air dan tiba di Pelabuhan Trisakti.
Imbas hal itu, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banjarmasin mengupayakan pemulangan para warga terlantar yang ditampung di rumah singgah maupun yang ditemukan di kawasan pelabuhan.
Kepala Dinsos Banjarmasin, Eka Rahayu Normasari mengungkapkan, sebagian besar korban yang terdampar terdiri dari kalangan lansia, ada pula anak-anak, dengan latar belakang permasalahan keluarga yang beragam.
"Untuk yang lansia, diduga sengaja dibuang dan ditinggalkan di dalam kapal lintas pulau, kemudian sampai di Banjarmasin," ujarnya, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Terlantar di Bogor, Lima Wanita Calon Pekerja Migran Ilegal Asal HSS Kalsel Berhasil Dipulangkan
Pihaknya mengaku sempat mengalami kesulitan saat melakukan verifikasi awal karena banyak korban yang kebingungan saat dimintai informasi mengenai kontak keluarga yang bisa dihubungi.
Ditambahkan Ayu, sapaanya, proses penanganan psikososial pun terus dilakukan selama para warga telantar tersebut berada di rumah singgah.
Sepanjang bulan Agustus hingga awal September 2026, tercatat sekitar empat hingga lima warga terlantar dari luar daerah yang masuk dalam penanganan.
Tiga orang di antaranya berhasil diidentifikasi dan dipulangkan ke daerah asal, yakni ke Riau dan beberapa kota di Pulau Jawa.
Mekanisme pemulangan warga terlantar antarprovinsi ini dilakukan melalui koordinasi dengan Dinsos Provinsi Kalsel.
Selanjutnya Dinsos Kalsel akan berkomunikasi terlebih dahulu dengan Dinsos di provinsi tujuan. Setelah itu, Dinsos provinsi tujuan yang akan meneruskan informasi ke pemerintah kabupaten atau kota setempat untuk penjemputan dan penyerahan kembali kepada pihak keluarga.
Baca juga: Tertipu Janji Manis Pekerjaan, Perantau Asal NTT Terlantar di Tanahbumbu dengan Sisa Uang Rp50 Ribu
Ayu menegaskan, meskipun negara memfasilitasi perawatan sementara, keberadaan keluarga tetap menjadi faktor paling utama dalam pemulihan kondisi para korban.
"Semampu-mampunya kami di Dinas Sosial, kami hanya sanggup memberikan makan, membersihkan, dan merawat. Namun, kami tidak bisa memberikan kasih sayang yang utuh sebagaimana yang diberikan oleh keluarga sendiri," pungkasnya. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)