Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mohammad Romadoni
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Menyusutnya debit air irigasi mulai menjadi perhatian di tengah kemarau panjang yang melanda Kabupaten Mojokerto.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan air ke lahan pertanian produktif apabila tidak diantisipasi dengan pengelolaan sumber air yang tepat.
Untuk menjaga ketersediaan air bagi petani, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto menyiagakan 12 Sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang tersebar di sejumlah wilayah.
Infrastruktur tersebut dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif ketika debit saluran irigasi dari sungai mengalami penurunan akibat musim kemarau.
Selain menjaga pasokan air untuk persawahan, keberadaan Sumur JIAT diharapkan dapat menekan risiko gagal panen atau puso akibat kekeringan.
Baca juga: 13 Desa di Ponorogo Masuk Wilayah Rawan Kekeringan, 4 Diantaranya Mulai Minta Air Bersih
Salah satu Sumur JIAT yang telah difungsikan berada di lahan pertanian Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.
Petani sekaligus Perangkat Desa Pagerejo, Khamim Mutohari (38), mengatakan debit saluran irigasi dari Sungai Brantas mulai menyusut saat kemarau.
Kondisi tersebut membuat pasokan air ke areal persawahan berkurang sehingga petani membutuhkan sumber air alternatif.
Para petani kemudian memanfaatkan Sumur JIAT untuk memenuhi kebutuhan irigasi selama musim kemarau.
"Ini rumah pompa (Sumur JIAT) bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum, melalui BBWS Sungai Brantas yang Alhamdulillah kini sudah dimanfaatkan oleh petani di Desa Pegerejo untuk mengairi persawahan di masa sulit air. Sungai irigasi menyusut karena musim kemarau," ujar Khamim saat dijumpai di Rumah Pompa Sumur JIAT Desa Pagerejo, Jumat (11/9/2026) siang.
Menurut Khamim, rumah pompa Sumur JIAT tersebut memiliki kapasitas 30 liter per detik.
Infrastruktur yang dibangun pada 2025 itu telah dimanfaatkan petani selama sekitar delapan bulan.
Pengoperasian pompa biasanya dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan dengan durasi enam hingga delapan jam per hari. Namun, lama penggunaan dapat mencapai 24 jam, menyesuaikan kebutuhan air para petani.
"Sumur JIAT sudah dioperasikan untuk mengairi sawah di Desa Pegerejo selama 7-8 bulan, kapasitasnya besar sehingga bisa menyuplai air di seluruh lahan dengan total luas sekitar 30-35 hektare," bebernya.
Khamim mengatakan kondisi kekeringan saat ini mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Mojokerto.
Namun, petani di Desa Pagerejo dinilai lebih terbantu karena memiliki Sumur JIAT yang dapat digunakan ketika pasokan dari saluran irigasi berkurang.
Dengan dukungan tersebut, dampak kemarau terhadap sektor pertanian di Desa Pagerejo diharapkan tidak terlalu signifikan.
Para petani juga menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Komoditas yang ditanam antara lain jagung dan tebu yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi musim kemarau.
"Kebutuhan air untuk lahan pertanian masih bisa dipenuhi dengan pompa Sumur JIAT, dan juga masih lancar dapat digunakan. Kemungkinan tidak sampai ada gagal panen puso, sehingga dapat memberikan hasil panen yang melimpah di desa kami," jelasnya.
Pengoperasian Sumur JIAT dilakukan berdasarkan kebutuhan petani.
Khamim menjelaskan, petani menyampaikan permintaan melalui Pemerintah Desa (Pemdes), yang kemudian mengatur pembagian air irigasi atau yang oleh masyarakat setempat lazim disebut Mataulu.
Petani tidak dikenakan biaya untuk airnya, tetapi perlu menanggung biaya listrik yang digunakan untuk mengoperasikan pompa.
Biaya tersebut biasanya dibagi bersama atau dilakukan secara patungan.
Estimasi penggunaan listrik untuk mengoperasikan pompa mencapai sekitar Rp15.000 hingga Rp17.000 per jam.
"Biaya listrik dibagi di antara petani, mereka patungan dengan rata-rata biaya sekitar Rp40-50 ribu per sesi menyesuaikan berapa lama dan kebutuhan air irigasi sawah," pungkasnya.
Menurut Khamim, skema tersebut dinilai lebih menghemat biaya dibandingkan penggunaan pompa diesel secara mandiri.
Jika menggunakan pompa diesel konvensional, setiap petani harus menanggung biaya BBM sekitar Rp60.000 hingga Rp70.000 per sesi.
Biaya tersebut belum termasuk sewa mesin diesel yang mencapai lebih dari Rp50.000.
Dengan demikian, total biaya pengairan sawah menggunakan pompa diesel dapat mencapai sekitar Rp110.000 hingga Rp150.000 per sesi.
"Pastinya jauh lebih hemat menggunakan Sumur JIAT, rata-rata setiap petani membutuhkan pengairan 2-3 kali sebulan dengan estimasi sekitar Rp40 ribu per sesi atau sekitar Rp120 ribu per bulan," tandasnya.
Khamim mengatakan kebutuhan air tanaman juga berbeda berdasarkan fase pertumbuhannya.
Untuk tanaman jagung yang masih berada pada fase awal, pengairan dilakukan sekitar tiga kali dalam sebulan.
Sementara ketika tanaman memasuki usia dewasa, yakni sekitar 60-105 Hari Setelah Tanam (HST), pengairan dapat dilakukan maksimal setiap 14-15 hari atau sekitar dua kali dalam sebulan.
"Desa Pagerejo memiliki sekitar 40-50 petani dengan total lahan produktif sekitar 30-35 hektare," tandasnya.
Kekeringan tidak hanya berpotensi mengurangi ketersediaan air bersih bagi masyarakat, tetapi juga mengancam pasokan air untuk lahan pertanian.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, sebelumnya mengatakan terdapat dua hal yang menjadi perhatian dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.
Pertama, krisis air bersih masih terjadi di tiga desa, yakni Desa Kunjorowesi dan Desa Mandiri Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas.
Ketiga wilayah tersebut merupakan daerah yang setiap tahun mengalami krisis air bersih ketika musim kemarau.
Kedua, musim kemarau juga berpotensi mengurangi ketersediaan air untuk saluran irigasi persawahan produktif di wilayah Kabupaten Mojokerto.
"Kami melihat mulai ada potensi berkurangnya debit air terkait dengan irigasi sawah, sehingga ini harus ada manajemen air yang baik dari OPD terkait agar tidak sampai menimbulkan gejolak sosial," ujar Rinaldi, Kamis (10/9/2026).
Mengantisipasi penurunan debit air, Pemkab Mojokerto melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) bersama stakeholder terkait menyiagakan 12 titik Sumur JIAT.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Yuni Laili Faizah, mengatakan hingga kini belum ada laporan mengenai kekeringan pada sawah produktif yang masuk dalam daerah irigasi kewenangan Kabupaten Mojokerto.
Meski demikian, petugas bersama pemerintah desa telah disiagakan untuk mengaktifkan Sumur JIAT apabila dibutuhkan.
"Tapi memang debit air (irigasi) mengalami penurunan saat musim kemarau seperti ini. Nah, bagaimana kita mengantisipasi itu dari dengan pola operasional," kata Yuni.
Menurut Yuni, pola pengoperasian irigasi akan dibedakan berdasarkan musim.
Saat musim hujan, pengairan dapat dilakukan secara langsung. Sementara ketika musim kemarau, distribusi air dilakukan secara bergilir sesuai kondisi lapangan.
"Sistemnya bergantian per hari, misal irigasi mengisi blok atas beberapa hari kemudian berlanjut di blok bawah sampai nanti dengan luas daerah irigasi yang ada itu bisa tercukupi semua," bebernya.
Yuni mengatakan 12 Sumur JIAT yang telah dibangun saat ini disiapkan sebagai sumber pasokan air tambahan untuk saluran irigasi ketika kemarau.
Infrastruktur tersebut dibangun oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, pada 2025.
"Totalnya Sumur JIAT ada 12 titik di Mojokerto," ucap Yuni.
Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga telah mengusulkan pembangunan Sumur JIAT tambahan untuk 2026.
"Sudah dua tahun ini kita usulkan (Sumur JIAT) yang dibangun oleh pusat. Kalau tahun 2025 lalu sebanyak 12 titik, untuk tahun 2026 ini ada 10 titik rencana tapi masih akan dikerjakan," pungkasnya.
Sumur JIAT merupakan sumur air tanah dalam dengan kedalaman lebih dari 100 meter yang difungsikan sebagai cadangan air untuk kebutuhan irigasi ketika ketersediaan air permukaan menurun.
Berdasarkan data yang dihimpun, 12 titik Sumur JIAT di Kabupaten Mojokerto berada di:
Desa Sumber Karang, Kecamatan Dlanggu.
Desa Kedunggempol, Kecamatan Mojosari.
Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg.
Desa Kembang Ringgit, Kecamatan Pungging.
Desa Katemasdungus, Kecamatan Puri.
Desa Randugenengan, Kecamatan Dlanggu.
Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal.
Desa Randugenengan, Kecamatan Bangsal.
Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu.
Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging.
Desa Randugenengan, Kecamatan Dlanggu.
Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Rois Arif Budiman, mengatakan salah satu Sumur JIAT berada di Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, Sumur JIAT tersebut berbentuk bangunan permanen menyerupai rumah pompa dan berada di area persawahan.
Sumur JIAT Pagerejo memiliki kapasitas 30 liter per detik.
"Satu Sumur JIAT bisa mengairi sawah sekitar 20-30 hektare," tandasnya.
Petani setempat juga menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim kemarau. Tanaman jagung dan tebu menjadi komoditas yang banyak dipilih karena kebutuhan airnya disesuaikan dengan ketersediaan sumber air.