SERAMBINEWS.COM - Master kaligrafi asal Aceh, Said Akram, kembali mendapat kepercayaan untuk menjadi Dewan Hakim bidang kaligrafi pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Jawa Tengah.
MTQ Nasional XXXI tahun 2026 tersebut dijadwalkan berlangsung di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Said Akram dalam dunia kaligrafi nasional.
Sebelumnya, ia telah beberapa kali dipercaya menjadi Dewan Hakim pada ajang MTQ Nasional, bahkan dua kali mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Hakim Kaligrafi.
Said Akram mengatakan, kepercayaan pertama sebagai Dewan Hakim MTQ Nasional diterimanya saat pelaksanaan MTQ Nasional 2018 di Kota Medan.
Kemudian pada MTQ Nasional 2020 di Kota Padang, Sumatera Barat, ia kembali dipercaya menjadi bagian dari Dewan Hakim.
Baca juga: Putra Subulussalam Fatha Sururi Wakili Aceh pada Cabang KTIQ di MTQ XXXI Nasional 2026
Kepercayaan itu semakin besar ketika pada MTQ Nasional 2022 di Kalimantan Selatan, Said Akram dipercaya menjadi Ketua Dewan Hakim Kaligrafi.
Hal serupa kembali diterimanya pada MTQ Nasional 2024 di Kalimantan Timur.
“Pada MTQ 2024 di Kalimantan Timur kita juga dipercayakan menjadi Ketua Dewan Hakim Kaligrafi,” kata Said Akram dalam wawancara dengan Serambinews.com (11/9/2026).
Sementara pada MTQ Nasional XXXI tahun 2026 di Jawa Tengah, ia kembali dipercaya menjadi Dewan Hakim bidang kaligrafi.
“Ini belum tahu ini siapa ketua, tapi sudah pasti kita dipercayakan untuk menjadi Dewan Hakim bagian kaligrafi,” ujarnya.
Bukan Peserta MTQ, Tapi Dipercaya Jadi Dewan Hakim
Menariknya, Said Akram mengaku dirinya tidak pernah mengikuti MTQ sebagai peserta.
Namun, kiprahnya sebagai pelukis kaligrafi kontemporer membuat dirinya dipercaya masuk dalam jajaran Dewan Hakim.
Menurut Said Akram, Dewan Hakim kaligrafi pada tingkat nasional umumnya diisi para kaligrafer atau khattat yang memiliki pengalaman panjang.
Sebagian di antaranya merupakan mantan juara nasional hingga juara internasional.
“Rata-rata Dewan Hakim ini adalah para kaligrafer atau khattat, penulis tulisan indah,” katanya.
“Itu mantan-mantan minimal, mantan juara nasional. Sebagian itu mantan para juara internasional,” lanjut Said Akram.
Sementara dirinya dipercaya dari kalangan profesional karena kiprahnya dalam mengembangkan kaligrafi kontemporer.
“Nah, kemudian khusus untuk saya sendiri ini belum pernah mengikuti MTQ, tapi kok bisa dipercayakan untuk menjadi hakim di MTQ. Nah, ini kita diambil dari kalangan profesional,” ujarnya.
Ia menyebut dirinya dinilai telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan kaligrafi kontemporer, khususnya kaligrafi kontemporer figural di Indonesia.
“Karena saya dari pelukis kaligrafi kontemporer, dianggap saya ini orang yang telah memberi pencerahan kaligrafi kepada Indonesia, khusus untuk kaligrafi kontemporer figural, itu saya dianggap sebagai pelopornya untuk Indonesia ini,” katanya.
Baca juga: Kafilah Aceh Bawa Pulang 6 Juara di MTQ Korpri VIII Nasional 2026, Tembus Peringkat 11 Besar
Said Akram melihat perkembangan kualitas peserta kaligrafi pada MTQ nasional terus mengalami peningkatan.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah peserta, tetapi juga kualitas karya yang dihasilkan.
“Kalau kualitas daripada peserta MTQ dari MTQ ke MTQ daripada sebelumnya hingga kemarin itu kualitasnya terus menanjak terus, bagus sekali perkembangannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kaligrafi yang sebelumnya berkembang di daerah atau provinsi tertentu kini telah menyebar hampir ke seluruh Indonesia.
Saat ini, para kaligrafer dari berbagai daerah telah berkembang dalam sejumlah cabang.
Mulai dari naskah, mushaf, dekorasi, kontemporer hingga kaligrafi digital.
“Sejak adanya lomba kaligrafi di ajang MTQ itu sudah di seluruh kabupaten, kota seluruh Indonesia sudah ada kaligrafer-kaligrafer dari berbagai cabang, baik naskah, mushaf, dekorasi, kontemporer, bahkan sekarang sudah ada cabang baru kaligrafi yaitu kaligrafi digital,” katanya.
Menurut Said Akram, perkembangan tersebut berpotensi membuat Indonesia semakin diperhitungkan dalam dunia kaligrafi internasional.
Ia menyebut para peserta tidak hanya berkompetisi di tingkat nasional, tetapi sebelumnya juga melewati kompetisi di tingkat kabupaten, kota dan provinsi.
“Jadi kualitasnya dan peningkatannya luar biasa bagus,” ujarnya.
Said Akram juga menilai Aceh masih menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dalam bidang kaligrafi pada ajang MTQ nasional.
Ia mengatakan, para kaligrafer Aceh cukup sering menempati posisi juara maupun menjadi finalis dalam kompetisi tingkat nasional.
“Aceh kita juga daerah yang dihormati oleh daerah-daerah lain untuk bagian kaligrafi khususnya,” katanya.
Menurutnya, kualitas kaligrafer muda Aceh juga dapat dilihat dari adanya sejumlah anak Aceh yang dipercaya memperkuat kontingen provinsi lain.
“Bahkan ada beberapa kaligrafer muda dari Aceh kita itu malah ikut untuk memperkuat provinsi lain,” ujarnya.
Tidak sedikit pula kaligrafer asal Aceh yang memperkuat daerah lain kemudian mampu meraih prestasi.
“Anak-anak kita kaligrafi Aceh yang berkuat provinsi lain itu juga tidak jarang mendapat juara-juara yang bagus,” katanya.
Karena itu, Said Akram menilai Aceh masih memiliki potensi besar untuk terus mempertahankan prestasinya di bidang kaligrafi.
Selain menjadi Dewan Hakim, Said Akram juga aktif memberikan pelatihan kepada kaligrafer dari berbagai provinsi di Indonesia.
Ia mengatakan, selama ini dirinya turut melatih para kaligrafer dari Kalimantan Timur, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Sumatera Selatan hingga Jawa Timur.
“Selain Dewan Hakim, saya juga melatih banyak provinsi,” katanya.
“Jadi anak-anak kaligrafer dari provinsi Kalimantan Timur, Sumatera Barat, DKI, Sumsel, Jawa Timur, itu juga kita latih mereka,” lanjutnya.
Bagi Said Akram, kesempatan dipercaya dalam ajang MTQ Nasional menjadi momentum untuk ikut membangun perkembangan kaligrafi Indonesia.
“Jadi, kita manfaatkan betul kesempatan yang diberikan ini untuk kita bangun sama-sama kaligrafi di Indonesia ini,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan kaligrafi tidak cukup hanya dengan menggelar perlombaan.
Regenerasi menjadi hal penting agar keberadaan kaligrafer di Indonesia, khususnya Aceh, terus berlanjut.
Said Akram berharap para kaligrafer yang sudah mapan dapat melahirkan generasi baru.
Menurutnya, regenerasi menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kualitas kaligrafi di Aceh.
“Kepada peserta-peserta kaligrafi yang sudah mapan ini kita harapkan untuk melahirkan kader-kader baru,” katanya.
“Jadi ada kader, harus ada regenerasi,” tegas Said Akram.
Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan kaligrafi.
Menurutnya, kaligrafi memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai Al Quran sehingga pengembangannya tidak semata-mata untuk mengejar prestasi dalam perlombaan.
Said Akram berharap Aceh terus membangkitkan prestasi kaligrafi agar tidak tertinggal dari provinsi lain.
“Kita ini kan negeri sangat Islam ya, kalau seandainya di pentas nasional misalnya, lomba di MTQ khususnya, misalnya kaligrafi, kita terlalu jauh di bawah provinsi lain, ini kan rasanya kita gak enak,” katanya.
“Ini daerah sangat Islam kok, kaligrafinya jauh kalah dari provinsi lain,” lanjutnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak bersama-sama memperkuat ekosistem kaligrafi di Aceh.
“Harapan kita, sama-sama harus kita bangkitkan, khusus untuk kaligrafi di Aceh kita,” pungkas Said Akram.
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)