12 Pengaba ASEAN Unjuk Gigi di Manado, Musik Paduan Suara Satukan Lima Negara
Glendi Manengal September 11, 2026 07:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Manado, Sulawesi Utara, kerap dijuluki sebagai salah satu kota paduan suara di Indonesia.

Julukan itu bukan tanpa alasan.

Di kota ini, paduan suara bukan sekadar pertunjukan musik. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tumbuh lintas generasi dan komunitas.

Pada 2025, Kementerian Ekonomi Kreatif bahkan menetapkan Manado sebagai kota kreatif, salah satunya berkat ekosistem kegiatan paduan suara yang terus berkembang.

Suasana itu kembali terasa dalam konser penutup Kelas Master Pengaba Paduan Suara bersama Kerstin Behnke, yang digelar Goethe-Institut Indonesien di Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Jalan 17 Agustus, Kelurahan Teling Atas, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulut, Kamis (10/9/2026) malam.

Kantor Gubernur Sulut berjarak sekitar 11 kilometer dari Bandara Sam Ratulangi.

Malam itu, Aula Mapalus seperti menjadi panggung kecil bagi dunia paduan suara Asia Tenggara.

Sebanyak 12 pengaba paduan suara dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Filipina tampil dalam konser tersebut.

Mereka memimpin Gema Sangkakala Female Choir dan Manado Catholic Choir, dua kelompok paduan suara asal Sulawesi Utara yang telah memiliki pengalaman di tingkat internasional.

Konser tersebut menjadi puncak dari proses pembelajaran yang mereka jalani sejak 1 September 2026.

Selama sembilan hari, ke-12 pengaba mengikuti kelas master yang dipimpin Kerstin Behnke, profesor kepemimpinan paduan suara dan ansambel di Universitas Musik FRANZ LISZT Weimar, Jerman.

Namun sebelum musik terdengar, suasana di depan aula sudah lebih dulu bercerita.

Pengunjung menyemut di depan pintu meski aula belum dibuka.

Mereka datang dengan satu tujuan: mendapatkan tempat dan menyaksikan konser.

"Saya dari kerja langsung kemari," kata Valentino, seorang pengunjung.

Ia datang bersama beberapa temannya. Di antara mereka terdapat mahasiswa.

"Kami janjian kumpul depan pintu," ujarnya.

Valentino mengaku memang menyukai paduan suara.

Ia sendiri tergabung dalam paduan suara gereja yang biasa mementaskan musik-musik oratorio.

"Ini menambah pengalaman. Kami dapat belajar dari pengaba dan paduan suara berkelas internasional," katanya.

Pengaba adalah orang yang bertugas memimpin sebuah pertunjukan musik atau paduan suara melalui gerakan isyarat tangan dan tubuh

Begitu pintu dibuka, para pengunjung yang didominasi milenial dan Gen Z langsung menyerbu masuk. Suasana seketika riuh.

Namun begitu pertunjukan dimulai, semuanya berubah. Hening. Benar-benar hening.

Sedemikian sunyinya hingga suara sebuah ponsel yang terjatuh di antara penonton terdengar seperti sebuah peristiwa besar.

Lalu musik mengalun.

Ada 12 lagu yang dinyanyikan malam itu.

Konser dibuka dengan Kyrie, Gloria (from Missa Brevis) karya komposer Knut Nystedt (1915-2014).

Gema Sangkakala Female Choir membawakannya dengan agung.

Suasana aula terasa sakral, megah, sekaligus manusiawi.

Di bawah arahan para pengaba, suara-suara yang berbeda itu seperti kehilangan batasnya.

Sopran, alto, tenor, dan bass menyatu menjadi satu tubuh musikal.

Kemudian terdengar Ehre sei Gott in der Höhe karya Felix Mendelssohn, yang dibawakan Manado Catholic Choir.

Rasanya seperti seluruh umat di dalam aula sedang memuliakan Tuhan.

Bukan hanya anggota paduan suara.

Tetapi juga ratusan orang yang memenuhi ruangan.

Bahkan alam di luar aula seolah ikut mengambil bagian. Angin malam berembus ketika musik mengalun.

Sopran memberi kesan terang dan menjulang. Alto menjadi pengikat harmoni. Tenor menghadirkan warna dan energi. Bass mengokohkan seluruh bangunan suara.

Bahasa Jerman mungkin tidak dipahami semua orang.

Tetapi musik tidak membutuhkan terjemahan untuk menyampaikan rasa.

Dan malam itu, semua seperti sedang memuji Tuhan dalam bahasa yang sama: harmoni.

Puncaknya datang ketika kedua paduan suara tampil bersama membawakan There Is an Old Belief (from Songs of Farewell) karya Hubert Parry (1848-1918).

Lagu itu menutup konser dengan megah.

Namun keindahannya justru terasa dalam ketenangan.

Hadirin seperti dibawa ke ruang yang lebih hening, agung, sekaligus meditatif.

Alunan musiknya terasa seperti sebuah perpisahan.

Seolah mengatakan: selamat tinggal.

Tetapi mungkin bukan itu maknanya.

Sebab sebuah lagu yang selesai tidak selalu berarti sebuah perjalanan berakhir.

Bisa jadi, justru di sanalah sesuatu dimulai.

Malam itu, There Is an Old Belief seperti menjadi penanda bahwa konser tersebut bukan akhir, melainkan awal dari panggung yang lebih besar bagi musik paduan suara dan musik klasik di Manado.

"Semoga saja kian banyak pertunjukan musik klasik di Manado, di sini penggemarnya banyak," kata dia Mario seorang pengunjung.

Kepala Regional Program Budaya Goethe-Institut Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru mengatakan program tersebut menjadi ruang perjumpaan antara 12 konduktor asal Asia Tenggara dan dua komunitas paduan suara lokal Manado.

"Program ini menjadi sebuah perjumpaan yang istimewa antara 12 konduktor asal Asia Tenggara dan dua komunitas lokal paduan suara Manado, yang mempertemukan pengalaman, tradisi, dan semangat bermusik yang beragam," katanya.

Ia berharap perjumpaan tersebut dapat menjadi ruang dialog lintas budaya sekaligus menunjukkan bahwa musik mampu menyatukan manusia dalam satu harmoni.

Kerstin Behnke mengatakan para peserta telah menunjukkan banyak perkembangan selama mengikuti kelas.

"Para peserta telah melakukan banyak perubahan dalam gerakan saat memimpin," ujarnya.

Ia berharap sesuatu yang baru telah tumbuh dalam diri setiap peserta dan terus berkembang pada masa mendatang.

"Semoga hal ini dapat menyebar dan turut meningkatkan kualitas seni paduan suara, membawa paduan suara ke tingkat yang lebih tinggi, serta memperluas semangat bermusik bersama seperti ini," katanya.

Koordinator Program Budaya Goethe-Institut Indonesien, Elizabeth Soegiharto, mengatakan Manado memiliki lingkungan musikal yang khas.

"Kota Manado, yang terletak di persimpangan Nusantara, telah melahirkan lanskap musikal antargenerasi yang bersifat lintas komunitas dan tradisi, tempat menyanyi bersama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," katanya.

Menurutnya, lingkungan musikal yang hidup tersebut menjadi salah satu alasan dipilihnya Manado sebagai lokasi edisi terbaru Kelas Master Pengaba Paduan Suara bersama Kerstin Behnke.

Program Kelas Master Pengaba Paduan Suara pertama kali diinisiasi Goethe-Institut Indonesien di Salatiga pada 2016.

Program tersebut kemudian berlanjut di sejumlah kota, antara lain Malang pada 2018 dan Medan pada 2022.

Goethe-Institut merupakan lembaga kebudayaan global Republik Federal Jerman yang mempromosikan bahasa Jerman, mendorong pertukaran budaya antarbangsa, serta menyajikan informasi mengenai kehidupan politik, sosial, dan budaya Jerman untuk mendukung dialog antarbudaya dan mobilitas global.

Ke-12 pengaba yang mengikuti kelas master tersebut adalah Drake Allan Mokorimban, Ezra Clement Dario, Lee Jian Zhen, Leo Hubertus Dimas Avianto, Lian Deih Zaam, M. Inggita Belinda Siegers, Martin Andryas Littik, Nguyễn Hải Yến, Paolo Niccolo Piquero, Roland David Enoch, Sandy Sumampouw, dan Steven Immanuel Angelo.

Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Filipina. (Art)

Baca juga: Pemkab Minahasa MoU Online dengan Pemkot Tangerang Selatan, Integrasikan Data NOB dan NIK

(TribunManado.co.id/Art)

_

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.