Warga Padang Masih Antre Air Bersih Usai 10 Bulan Galodo, 5 Tangki Dikerahkan Tiap Hari
Rezi Azwar September 11, 2026 07:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang hingga kini masih terus menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang atau galodo pada November 2025 lalu.

Langkah ini diambil guna memastikan kebutuhan dasar warga di beberapa wilayah terdampak tetap terpenuhi dengan baik di masa pemulihan pascabencana.

Penyaluran pasokan air bersih tersebut difokuskan pada wilayah yang masih mengalami kendala atau gangguan akses air minum.

Beberapa kawasan pemukiman yang menjadi prioritas pendistribusian meliputi Kecamatan Kuranji, Korong Gadang, Koto Tangah, hingga Lambung Bukit.

Baca juga: Kabur dengan Tangan Terborgol, Pelaku Penyalahgunaan Narkoba di Payakumbuh Ditemukan Tewas di Sungai

Sinergi Antarinstansi Pasok Air Bersih

KEKERINGAN-Pemandangan ember dan wadah penampungan air jenis tedmond yang berjejer rapi di tepi jalan kini menjadi potret harian warga kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang dalam menantikan kedatangan armada pembawa bantuan air, Jumat (11/9/2026).
KEKERINGAN-Pemandangan ember dan wadah penampungan air jenis tedmond yang berjejer rapi di tepi jalan kini menjadi potret harian warga kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang dalam menantikan kedatangan armada pembawa bantuan air, Jumat (11/9/2026). (Tribun Padang/Arif Ramanda Kurnia)

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menegaskan bahwa proses distribusi pasokan air saban hari terus berjalan di lapangan.

Dalam menjalankan tugas penyaluran tersebut, pihak BPBD tidak bergerak sendiri melainkan membangun kolaborasi erat bersama jajaran Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang.

Ia menyampaikan bahwa kerja sama linier antar instansi ini ditujukan untuk memaksimalkan jangkuan serta mempercepat pelayanan ke tiap titik pemukiman.

BPBD Kota Padang bersama Damkar Kota Padang terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Baca juga: Longsor Melanda Nagari Baringin Agam, Akses Terputus Akibat Badan Jalan Amblas Sepanjang 20 Meter

Pengerahan Unit Armada Tangki

Guna mengoptimalkan proses operasional penyaluran air harian, BPBD Kota Padang secara khusus menurunkan dua unit armada tangki.

Kendaraan operasional tangki tersebut bekerja secara bergantian saban hari menyusuri pemukiman warga yang membutuhkan.

Sementara itu, dari penggabungan kekuatan bersama Damkar Kota Padang, total unit yang dikerahkan ke lapangan bertambah guna memperluas jangkauan.

Secara keseluruhan, terdapat sekitar empat hingga lima unit armada tangki yang dikerahkan setiap harinya ke lokasi penanganan.

Baca juga: CFD di Padang Ditiadakan Akibat Kabut Asap, Kadispora Sumbar Imbau Warga Olahraga dalam Ruangan

Kapasitas Penyaluran Ribuan Liter Air

Setiap armada tangki pengangkut air yang dikerahkan ke pemukiman warga memiliki kapasitas tampung yang cukup besar.

Satu unit kendaraan tangki diperkirakan mampu memuat hingga 5.000 liter air bersih dalam sekali jalan.

Dengan pengerahan beberapa unit tangki sekaligus, ribuan liter air bersih berhasil disalurkan untuk memenuhi kebutuhan harian warga terdampak.

Hendri menjelaskan bahwa pemenuhan ketersediaan air bersih tetap menjadi salah satu fokus prioritas utama dalam penanganan pascabencana saat ini.

"Hingga saat ini kami masih menyalurkan air bersih ke daerah Lambung Bukit, Pauh, dan Kuranji yang membutuhkan. Empat hingga lima armada kami kerahkan setiap hari untuk memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi," tuturnya saat dihubungi Jumat (11/9/2026).

Komitmen Pelayanan Hingga Kondisi Normal

Pihak BPBD Kota Padang menegaskan komitmennya untuk tidak menghentikan layanan penyuplai air bersih ini dalam waktu dekat.

Penyaluran akan terus dijadwalkan secara berkala selama jaringan serta pasokan air utama di wilayah terdampak belum sepenuhnya pulih.

Selama masyarakat masih melaporkan adanya kesulitan pasokan air minum, armada tangki akan tetap diturunkan ke titik-titik lokasi pemukiman.

Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat mengurangi beban warga yang fasilitas instalasi air rumah tangganya belum kembali berfungsi normal.

Baca juga: Daftar 24 Pemain Semen Padang FC Jelang Menghadapi Persiraja di Laga Perdana Liga 2

Mekanisme Pengajuan Bantuan Air

Bagi masyarakat Kota Padang yang pemukimannya masih mengalami kendala air bersih dan membutuhkan bantuan armada tangki, proses pengajuannya cukup mudah.

Warga atau pengurus RT/RW setempat dapat langsung menghubungi saluran resmi telepon Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Padang.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melaporkan kondisi terkini melalui kontak resmi yang telah disediakan.

Warga dapat menghubungi nomor kontak Pusdalops BPBD Kota Padang di 085891522181. 

Layanan ini siaga untuk menerima laporan terkait titik-titik lokasi yang memerlukan suplai air darurat.

Saat melakukan kontak atau pelaporan, warga diminta untuk menyampaikan data alamat lokasi penyerahan bantuan secara jelas dan rinci.

Baca juga: Solusi Kekeringan Dampak Bencana di Padang, Normalisasi Alur Sungai Dinilai Krusial Pulihkan Air

Laporan yang masuk ke Pusdalops akan langsung dicatat untuk kemudian dijadwalkan pergerakan armada tangki menuju lokasi pemukiman yang mengajukan permintaan.

Sebelumnya, Deretan ember dan wadah penampungan air jenis tedmond berjejer rapi di sepanjang tepi jalan permukiman warga di Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Pantauan Jurnalis TribunPadang.com, Arif Ramanda dilokasi Jumat (11/9/2026) beberapa wadah plastik tersebut tampak terisi air hingga batas leher, sementara sebagian besar lainnya dibiarkan kosong, sengaja dideretkan oleh pemiliknya demi mengantre pasokan air bersih yang tak kunjung pasti jam kedatangannya.

Gambaran visual tersebut menjadi pemandangan harian yang kini menghiasi sudut permukiman warga setempat. Krisis air bersih yang melanda wilayah ini bukanlah persoalan anyar yang terjadi secara mendadak.

Salah seorang warga setempat, Nadia, mengungkapkan bahwa bencana kekeringan ini sudah membelit kehidupan masyarakat sejak akhir tahun lalu pascabencana alam.

Baca juga: Kabut Asap Mengancam, Wako Bukittinggi Terbitkan SE Imbau Warga Kurangi Aktivitas Luar

Mata Air Kering Pascabencana

Menurut Nadia, kelangkaan air mulai terasa amat parah setelah terjadi perubahan alur aliran sungai di kawasan tempat tinggal mereka.

"Saluran sungai banyak yang tidak dijalurnya, mungkin itu penyebab mata air kering hingga sumur-sumur warga terdampak," ujar Nadia saat ditemui di lokasi.

Perubahan bentang alam tersebut memicu mengeringnya sejumlah titik sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan utama.

Dampaknya langsung merembet ke sumur-sumur galian milik warga sekitar yang kini tak lagi memancarkan air.

Baca juga: Sempat Rawat Jalan, Siswa Keracunan MBG di Palupuh Agam Kembali Masuk Kelas

Sembilan Bulan Mengandalkan Air Hujan

Nadia menyebutkan bahwa dirinya bersama warga sekitar sudah terjerat dalam krisis kekeringan ini dalam kurun waktu yang cukup lama.

"Hampir sembilan bulan kami kekeringan. Sekarang tergantung pada air hujan dan bantuan air bersih dari pemerintah," tuturnya.

Ketersediaan air sumur maupun pasokan dari jaringan Pamsimas hanya akan terisi secara alami apabila hujan turun membasahi wilayah tersebut.

"Jika air hujan sumur mulai berair atau Pamsimas pun berair, namun hanya beberapa hari saja," tambah Nadia.

Baca juga: Pemkab Solok Selatan Desak Pemprov Segera Tetapkan Harga TBS Petani Nonmitra

Berharap Kepastian Jadwal Bantuan

Guna menyambung hidup, pasokan air bersih disalurkan oleh Pemerintah Kota Padang melalui armada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).

"Bantuan dari Pemko seperti BPBD maupun Damkar itu memang ada, tapi tidak tahu jadwal tetapnya. Terkadang sekali seminggu," jelasnya.

Nadia menaruh harapan besar agar pihak pemerintah daerah dapat memberikan ketetapan waktu penyaluran bantuan tersebut.

"Saya berharap ada jadwal tetap, jadi kami bisa memperhitungkan pemakaian air. Air sangat banyak kegunaan, baik untuk mandi, MCK, cuci baju, semua tergantung," pungkas Nadia.

Aksi Hemat Air dan Konflik Antarwarga

Kepanikan dan kecemasan senada turut dirasakan oleh warga lainnya, Mardiana, yang mengaku pasrah menghadapi kondisi sulit ini.

"Sudah hampir sembilan bulan kekeringan ini. Apalagi pemakaian air harus sangat irit, mengingat nanti takut terdesak air habis," ungkap Mardiana.

Ia berharap kondisi pasokan air di daerahnya dapat segera pulih normal seperti sedia kala tanpa perlu memicu kerumitan saat menampung air.

Di sisi lain, pangkal krisis yang berkepanjangan ini ternyata juga menyulut gesekan sosial di tengah masyarakat saat pembagian bantuan.

"Kemudian sangat disayangkan juga terkadang ada yang bertengkar sesama warga dalam pembagian air bersih ini," tutur Mardiana.

Mardiana mengimbau agar sesama warga yang sama-sama menjadi korban kekeringan dapat menahan diri dan saling mengerti.

"Ya sesama terdampak saling paham situasi dan berdamai saja, jangan bertengkar pula," imbaunya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.